Rabu, Februari 8, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Rempah Nusantara yang Diburu Bangsa Barat

Sejarah Rempah Nusantara yang Diburu Bangsa Barat

Sejarah rempah Nusantara adalah akar bagi pengetahuan kolektif bangsa dalam mengetahui kemunculan sistem imperialisme dan kolonialisme Barat di Indonesia. Dalam catatan sejarah Indonesia, Nusantara pada zaman itu merupakan pusat komoditas niaga dan obat ramuan tradisional bagi dunia.

Dua alasan itulah yang menyebabkan Nusantara jadi titik utama para pemburu rempah dari berbagai penjuru dunia, tak terkecuali dengan bangsa Barat. Mereka ingin memiliki rempah untuk memenuhi permintaan pasar dan kebutuhan bahan guna membuat ramuan obat.

Dalam kronik Tiongkok dan India, konon sebelum abad ke-5 masehi para pedagang rempah di Nusantara telah menguasai perniagaan dunia.

Artinya kedatangan Barat sejak abad ke-15 itu baru sedikit saja dari fakta sejarah rempah di Nusantara yang berceceran. Mereka berebut komoditas berbau harum seperti, cengkeh dan pala.

Sejarah Rempah Nusantara, Pusat Perdagangan Bumbu dan Obat Bagi Dunia

Menurut Rina Rahayu dalam tulisan berjudul, “Aroma dan Rasa yang Melayarkan Ribuan Kapal” (2021), sejarah rempah Nusantara merupakan penanda awal Indonesia sebagai pusat perdagangan rempah (bumbu dan obat) bagi dunia.

Orang-orang Barat berebut mencuri start berlayar menuju land below the wind (negeri di bawah angina) untuk mencari rempah.

Seperti berburu harta karun ke Timur, bangsa Barat datang ke Nusantara penuh dengan optimism yang kuat untuk menguasai perdagangan rempah di sana.

Pamor rempah semakin naik pada abad ke-15 masehi seiring dengan kedatangan orang Portugis dan Spanyol ke Nusantara. Dua negara Eropa saling bersaing memperebutkan lapak rempah di Nusantara.

Baca Juga: Sejarah Jamu, Ramuan Tradisional Eksis Sejak Zaman Majapahit

Tak ingin kalah dari bangsa lain mereka memonopoli perdagangan rempah dan mengalahkan bangsa lain.

Namun dua negara ini terlibat cekcok setelah pembagian rempah terasa tak imbang. Portugis menggugat Spanyol untuk hengkang dari Nusantara. Peristiwa ini kemudian mengilhami perjanjian Tordesilas

Kesepakatan membagi dunia menjadi dua bagian alhasil Portugis mampu menguasai Nusantara tanpa kehadiran Spanyol.

Sejarah juga mencatat, pada tahun 1511 adalah kedatangan pertama bangsa Portugis ke Malaka, salah satu tujuannya adalah berburu rempah Nusantara. Saat itu daerah ini merupakan pelabuhan terkaya di Nusantara.

Kapal-kapal besar dari berbagai penjuru dunia singgah di sini. Mereka menantikan para pengepul rempah lokal dan membeli rempah itu dengan harga yang murah.

Anthony Reid ahli rempah Nusantara mengatakan bangsa Barat ke Malaka tidak lain untuk memenuhi kebutuhan pangan dan fisik.

Selain menjadikan rempah sebagai bahan bumbu masakan dan pengawet makanan di kala musim dingin berlangsung, mereka juga membuat rempah jadi bahan-bahan obat tradisional yang tak kalah mujarabnya dari secangkir ramuan jamu di Jawa.

Maluku Jadi Kawasan Utama Penghasil Rempah Termahal di Dunia

Masih menurut Rina Rahayu, Maluku ternyata pernah menjadi kawasan utama penghasil rempah termahal di dunia. Apa saja jenis rempah termahal itu, ternyata bangsa Barat berani mempertaruhkan diri hanya untuk seonggok rempah yang terdiri dari cengkeh, pala, dan bunga pala.

Sejarah mencatat, tiga komoditas rempah Nusantara tersebut juga menjadi sasaran para pelayar Asia seperti China. Mereka membawa rempah itu untuk kebutuhan obat dan ramuan tradisional para tabib.

Baca Juga: Sejarah Gudeg, Kuliner Tradisional Jogja dari Zaman Kerajaan Mataram

Pada tahun 1512 bangsa Portugis yang dipimpin oleh Fransisco Serrao berhasil mendarat di Ternate. Mereka tahu daerah ini menyimpan komoditas paling laku di pasar dunia karena informasi dari para pedagang rempah di Maluku.

Setelah mereka bisa menguasai jalur perdagangan di Ternate dan mengambil semua stock rempah yang ada di sana, Portugis memberanikan diri mengklaim telah mendominasi Maluku sebagai pusat perdagangan rempah orang Eropa.

Bahkan orang-orang Portugis mempromosikan Maluku sebagai pusat rempah dunia melalui catatan-catatan para pelayar. Salah satunya ada dalam catatan seorang pelayar Portugis bernama Turner. Ia menulis dan menggambar bagaimana jalur rempah di Maluku begitu bercabang seperti perjalanan semut hitam hilir mudik melewati laut dan gurun.

Bersaing dengan Pedagang China

Selanjutnya dalam catatan sejarah, seperti tidak ingin kalah dengan Portugis, bangsa China yang mengklaim bangsanya telah datang lebih awal dari bangsa Eropa menyatakan bersaing dengan pedagang Portugis untuk menguasai pasar rempah di Nusantara.

Pedagang China bersaing dengan Portugis demi memperebutkan rempah berupa cengkih, pala dan bunga pala. Mereka mencari para pengepul pribumi dan membayarnya lebih mahal dari bangsa Eropa.

Tak lama setelah mereka dapat barang itu, para pedagang China mengirimnya ke beberapa negara di dunia.

Baca Juga: Mitos Dewi Sri, Kepercayaan Masyarakat Jawa Meminimalisir Gagal Panen

Sebagaimana Anthony Reid katakan, para pedagang China bergerak membawa rempah ke Barat melewati Sulawesi, Borneo (Kalimantan), Jawa dan Selat Malaka.

Perjalanan ini adalah alur gelap para pedagang rempah China untuk memasarkan barang dagangannya di India, Pasar Malabar, hingga ke wilayah Jazirah Arab.

Hal ini merugikan Portugis sebagai pemasok rempah terbesar di dunia. Bahkan dengan lancangnya China mampu menjual rempah di Eropa dengan harga yang murah dari Portugis. Proses jual beli yang membuat Portugis rugi ini berakar dari proses pelayaran.

China menjual rempah ke Jazirah Arab, dari sana para pedagang China menyelinap masuk ke Alexandria dan Levant. Selanjutnya dalam sejarah tercatat, setelah mencapai perairan Mediterania, rempah Nusantara dari kapal pelayar China akhirnya sampai ke tangan bangsa Eropa. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)