Jumat, Januari 27, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Tahun Baru Imlek: Tradisi Tionghoa dari Folklore yang Melegenda

Sejarah Tahun Baru Imlek: Tradisi Tionghoa dari Folklore yang Melegenda

Sejarah tahun baru Imlek, tradisi Imlek ternyata berasal dari cerita rakyat alias folklore. Masyarakat Tionghoa zaman kedinastian mempercayai berbagai cerita klasik dari folklore.

Rasa keyakinan yang kuat ini membuat mereka memberikan persembahan untuk tokoh yang mereka yakini dalam dongeng tersebut.

Antara lain folklore yang menciptakan tradisi Imlek di berbagai negeri yang ada orang Tionghoa di dalamnya percaya pada kisah yang melegenda berjudul, Kaisar Mutiara.

Sepenggal legenda ini menceritakan tentang seorang lelaki pemurah dan suka menolong kaum miskin yang lemah.

Baca Juga: Sejarah Pelacuran Zaman Jepang: Kisah Gadis Belanda Layani Nafsu Kadet Nippon

Namun tetiba nyawanya hilang, Sang Penguasa Langit dan Bumi lebih sayang padanya karena sifat dan perilaku murah hati yang ada dalam dirinya. Singkat cerita ia wafat, Kaisar Mutiara hilang dan tak akan kembali lagi ke dunia.

Hal ini membuat para pengikut dan orang yang pernah mengalami sifat baiknya bersedih. Tidak hanya manusia bahkan hewan, tumbuhan, dan bumi beserta isinya menunjukkan perasaan berduka yang mendalam atas kematian Kaisar Mutiara.

Seperti tak tega melihat keadaan ini, Sang Penguasa Jagad mengembalikan Kaisar Mutiara. Sang Pangeran yang banyak dicintai rakyat kembali hidup bersama orang-orang yang menyayanginya.

Mereka menyambut hari kebahagiaan ini dengan istilah Imlek. Selain menandai dengan pesta rakyat, hari raya Imlek juga dilengkapi dengan sajian klasik khas orang Tionghoa kuno zaman dulu.

Sejarah Tahun Baru Imlek dan Tradisi Folklore yang Mengakar Kuat di Tionghoa

Menurut Ani Rostiyati dalam buku berjudul, “Fungsi Upacara Tradisional bagi Masyarakat Pendukungnya Masa Kini” (1995), tahun baru Imlek merupakan implementasi dari sebuah alur Folklore di Tionghoa yang sudah ada sejak zaman kedinastian.

Mereka mempercayai cerita rakyat yang tersebar secara turun temurun tentang kebesaran hari raya Imlek.

Sebagian warga Tionghoa rela membagi sebagian harta, tenaga, dan jiwa mereka untuk menunaikan tradisi Imlek. Tidak murah menggelar Imlek karena harus ada beberapa sajian untuk membuat sesaji bagi para dewa.

Selain itu mereka butuh lilin, dupa, dan wewangian khusus saat upacara penyambutan Imlek berlangsung. Kebanyakan umat Tionghoa meminta rezeki sebagaimana kisah mitos figure Kaisar Mutiara.

Baca Juga: Sejarah Sentiong dan Tradisi Pemakaman Tionghoa di Indonesia

Mereka percaya Kaisar Mutiara adalah dewa penolong kaum lemah. Selagi Kaisar Mutiara berpihak padanya maka jangan khawatir nasib orang itu akan selamanya miskin, sebab orang Tionghoa percaya persoalan kemiskinan bisa tuntas apabila ada pertolongan Kaisar Mutia ada dipihaknya.

Namun sejak zaman kedinastian berakhir pada tahun 1912 dengan ditandai mundurnya Dinasti Qin, Pemerintah Republik Bin Kok melarang tradisi Imlek ada di bumi Tiongkok.

Hal ini terjadi akibat asal-usul perayaan Imlek tidak ada kejelasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Pemerintah Bin Kok mencap Imlek bagian dari tradisi asing.

Sejarah Tahun Baru Imlek Zaman Kolonial Hindia Belanda hingga Zaman Orde Baru

Sejarah tahun baru Imlek pada zaman kolonial Belanda berbeda halnya dengan kebijakan Pemerintah Republik Bin Kok yang melarang Imlek. Pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia dahulu justru melegalkan tradisi tersebut.

Orang Belanda bahkan ikut menikmati perayaan Imlek, tak sedikit dari mereka menyukai kue keranjang, kuliner khas yang selalu ada di meja sajian ketika Imlek tiba.

Begitu juga pada zaman kekuasaan Presiden Sukarno tahun 1945-1966. Imlek sudah jadi tradisi pemersatu bangsa, artinya melegalkan Imlek jadi implementasi nyata jika Indonesia ada negara yang beragam. Layaknya sebuah toleransi keimanan antar umat beragama, hari raya Imlek zaman itu masuk dalam simbol perdamaian.

Namun ketika Presiden Sukarno lengser akibat peristiwa G30S 1965, seiring dengan munculnya pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Suharto hari raya Imlek mendadak mandeg.

Seolah tak suka dengan tradisi dan kebudayaan Tionghoa di Indonesia, Suharto menghentikan seluruh kegiatan mereka tanpa interupsi.

Suharto melarang Imlek berdasarkan Inpres Nomor 14 tahun 1967 atas dugaan kuat kelompok Tionghoa di Indonesia ikut terlibat dengan PKI.

Ada pernyataan yang mengatakan RRT (Repubik Rakyat Tiongkok) bekerjasama dengan PKI memerangi pejabat yang anti komunis di Indonesia. Karena sentimen politik inilah Orde Baru melarang Imlek.

Baca Juga: Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, Punya Bioskop dan Klenteng Mewah

Namun sejak zaman Presiden Abdurrahman Wahid alias Gusdur, tahun baru Imlek kembali legal. Seluruh umat Tionghoa menyambut pernyataan Gusdur, saking senang dan bahagia memiliki Presiden seperti Gusdur akhirnya membuat Abdurrahman Wahid mendapat gelar Bapak Toleransi Indonesia.

Gusdur berhasil menghilangkan sentimen politik Orde Baru terhadap orang-orang Tinghoa yang ada di Indonesia.

Tahun Baru Imlek, Saatnya Mengadakan Tradisi Pehcun

Ketika hari penyambutan Imlek, tiba hampir seluruh orang Tionghoa yang ada di Indonesia menggelar tradisi Pehcun.

Pertama mereka menggelar upacara penghormatan atas kematian Quan Yuan (343-278 SM), seorang patriot Tionghoa yang rela mengorbankan diri di sungai kramat Tiongkok (tumbal) untuk kepentingan bersama orang Tionghoa di seluruh dunia.

Setelah upacara selesai, mereka kemudian mempersiapkan perayaan balapan sampan di sungai-sungai terdekat dengan tempat ibadah umat Tionghoa yakni Klenteng.

“Pehcun” berarti “Mendayung” tradisi ini melibatkan tenaga untuk mendayung yang kencang demi memenangkan pertandingan balap sampan.

Tujuan pertandingan ini yaitu untuk menghormati jasa Quan Yuan dengan memberi simbol pertolongan di tengah sungai menggunakan perahu dan dayung.

Generasi penerus orang Tionghoa di Indonesia mengadakan perlombaan tersebut untuk menghormati jasanya yang besar bagi kemaslahatan umat Tionghoa di seluruh dunia.

Selain mengadakan balap sampan, tradisi Pehcun sering mengikutkan acara makan-makan di akhir event budaya tersebut.

Biasanya lauk pauk dalam acara ini menyediakan berbagai macam menu klasik khas orang Tionghoa. Salah satunya adalah menu Kue Keranjang khas Imlek. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)