Kamis, Februari 9, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Weltevreden, Pemukiman Elit Eropa di Batavia

Sejarah Weltevreden, Pemukiman Elit Eropa di Batavia

Sejarah Weltevreden menarik untuk kita ulas bersama. Pasalnya nama Weltevreden berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti “Pemukiman yang Nyaman”. Dari arti nama tersebut banyak tafsiran yang mengatakan Weltevreden adalah tempat pemukiman elit Eropa di Batavia.

Belanda sengaja membuat kotakan wilayah untuk memisahkan orang Eropa dengan golongan lain di luar ras kulit putih yang ada di Batavia. Sumber lain mengatakan Weltevreden terbentuk dari pemilihan wilayah kolonial yang dekat dengan pusat pemerintahan.

Baca Juga: Sejarah Pos Bloc: Gedung Eks Kantor Pos Belanda, Kini Jadi Cafe

Artinya orang-orang Eropa akan merasa terlindungi dari bahaya kejahatan apabila mereka tinggal di pusat pemerintahan kolonial. Maka dari itu wilayah Weltevreden di Batavia inipun dibangun.

Saat ini letak Weltevreden ada di Jakarta Pusat. Tepatnya di sekitar daerah Sawah Besar dan Jalan Raya yang membentang dari RSPAD Gatot Subroto sampai ke Jalan Raya Museum Gajah. Dulunya daerah tersebut merupakan pemukiman elit Eropa semua.

Selain dekat dengan pusat pemerintahan, penaruhan Weltevreden di sekitar itu untuk memudahkan elit Eropa dalam mengakses kebutuhan pokok. Sebab depan Weltevreden terdapat pusat perbelanjaan tradisional pertama di Jakarta bernama Passer Baroe (1820).

Sejarah Weltevreden, Tempat Tinggal Paling Nyaman Bagi Orang Eropa

Menurut Robert van Niel dalam buku berjudul, “Munculnya Elit Modern Indonesia” (2009), Weltevreden adalah pemukiman elit ternyaman bagi semua golongan Eropa.

Tidak hanya Belanda, tetapi di sana terdapat orang-orang Eropa lain yang punya tempat tinggal dan lahan tanah yang luas.

Laporan kolonial mencatat daerah tersebut dahulunya merupakan tanah partikelir Belanda bernama Anthonij Pavilijoun.

Konon ia mendapatkan tanah Weltevreden dari VOC pada tahun 1648. Tak lama kemudian Paviljoun membangun rumah-rumah kecil  yang kemudian bernama Weltevreden.

Karena itulah banyak orang di Batavia mengenal daerah tersebut sebagai daerah Weltevreden yang berarti “perumahan-perumahan kecil”.

Selain membangun rumah-rumah kecil di Weltevreden dahulu ada pula perkebunan kopi milik seorang pejabat kolonial bernama Cornelis Chastelein. Saat itu ia merupakan orang pertama yang membuka budidaya kopi pertama (1693) di jantung Ibukota Batavia.

Chastelein terkenal sebagai petani kopi yang disiplin. Demi menghasilkan kualitas kopi terbaik dari kebunnya langsung, ia sampai rela menyewa petani yang kemudian menjadi budak Belanda dari pulau Bali.

Baca Juga: Sejarah Pasar Baru, Pusat Perbelanjaan Tertua di Jakarta

Saat itu para petani kopi di Bali terkenal bisa menghasilkan biji kopi pilihan terbaik. Kebetulan waktu itu harga kopi sedang naik di pasar dagang Eropa, Chastelein tanpa pikir panjang sanggup mengupah budak-budak tersebut dengan harga mahal dengan catatan biji kopi di kebunnya punya kualitas nomor 1.

Perluasan Wilayah Weltevreden Tahun 1809

Ketika VOC bangkrut pada awal 1800 daerah Weltevreden mengalami perkembangan yang luar biasa. Tanah elit Eropa yang tadinya milik perseorangan (partikelir) kini pemerintah kolonial Hindia Belanda mengambil alih kekuasaannya.

Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda bernama Herman Willem Daendels memperluas wilayah Weltevreden dari awalnya mengelilingi daerah Sawah Besar, RSPAD Gatot Subroto, dan Museum Gajah, menjadi lebih luas dengan melewati daerah Buffelsveld (lapangan Monas).

Selain itu Weltevreden jaman Daendels juga menjadi lebih luas setelah hadirnya Stasiun Kereta Api Gambir dan wilayah Theatre Schouwburg Weltevreden (Gedung Kesenian Jakarta- sekarang) sebagai bagian dari wilayahnya.

Jaman Daendels wilayah Weltevreden adalah tempat yang paling bersih, tertata, aman, dan nyaman bagi orang-orang Eropa. Bahkan ada wacana wilayah tersebut jadi tempat Induk Kota, namun usulan itu tidak terealisasi sampai Daendels wafat.

Tidak terealisasi usulan itu akibat elit Eropa yang tinggal di Weltevreden pernah kecewa oleh sanitasi lingkungan di sana yang memburuk setelah bencana banjir bandang yang terjadi pada tahun 1870.

Pemerintah Hindia Belanda baru memutuskan Induk Kota (Ibukota) Batavia di Weltevreden pada tahun 1937 dengan titik nolnya ada di daerah Koningsplein (lapangan Monas- sekarang).

Baca Juga: Sejarah Menteng, Pemukiman Elit Warisan Belanda di Jakarta

Saat ini Weltevreden Jadi Pusat Perkantoran Penting Negara

Selain di jalan protokol Jakarta Sudirman-Thamrin, daerah yang dahulu dikenal dengan Weltevreden saat ini menjadi pusat perkantoran penting di Ibukota. Kantor-kantor penting negara yang berdiri di sana.

Sebagaimana fungsi awal terbentuknya Weltevreden, perkantoran yang saat ini berdiri kokoh di sekitar Weltevreden tidak lain untuk menjaga efisiensi waktu kerja tatkala membutuhkan kepentingan dengan pusat pemerintahan.

Bahkan saat ini daerah Weltevreden dahulu termasuk tempat yang ada dalam pengamanan khusus ring satu. Sama seperti pengamanan Istana Merdeka karena jarak tempat bekas pemukiman Eropa di Batavia tersebut berdekatan satu sama lainnya.

Saat ini bangunan-bangunan warisan Weltevreden masih terjaga dengan baik. Khususnya bangunan-bangunan kuno warisan VOC ini, pemerintah memberikan label perlindungan agar tidak rusak dan berubah posisi bentuk.

Semua bangunan di Weltevreden yang mengandung nilai sejarah menjadi bangunan Cagar Budaya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)