Jumat, Januari 27, 2023
BerandaBerita TerbaruSintua Nathanael Nababan, si Pemburu Kerbau Liar dari Tapanuli Utara

Sintua Nathanael Nababan, si Pemburu Kerbau Liar dari Tapanuli Utara

Pada abad ke-19 di daerah Tapanuli Utara ada kebiasaan menangkap kerbau liar. Kebanyakan orang di sana bermata pencaharian sebagai pemburu hewan mamalia bertubuh tambun nan hitam ini. Salah satu legenda yang pernah hidup dalam sejarah ini adalah Sintua Nathanael Nababan sebagai pemburu kerbau liar yang sukses.

Nama Sintua Nathanael Nababan kita kenal saat ini sebagai kakek dari Panda Nababan. Politisi senior dari suku Batak itu memiliki kedekatan erat dengan sang kakek.

Selain berguru pada ayahnya Jonathan Laba Nababan, Panda si jurnalis mewarisi keberanian sang kakek dalam menjalani kehidupan termasuk saat menjadi wartawan.

Sintua Nathanael Nababan sukses menjadi pengusaha kerbau liar di Tapanuli Utara. Ia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dari pada anak-anak pribumi lain pada umumnya.

Baca Juga: KH Muhammad Yusuf Hasyim: Paman Gusdur, Mantan Kombatan Perang Kemerdekaan

Dua dari tiga anaknya bersekolah di Jawa, satu di Batavia pada jurusan Farmasi dan satu ada di Solo, Jawa Tengah bersekolah di lembaga pendidikan guru bahasa Belanda.

Menurut Panda Nababan (cucu Sintua N. Nababan) sang kakek bisa memberi fasilitas pendidikan yang baik untuk mengubah nasib keluarga di kampung.

Kisah Hidup Sintua Nathanael Nababan, Perjuangan si Pemburu Kerbau Liar

Sebagaimana yang Panda Nababan utarakan dalam kumpulan tulisan berjudul, “Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Autobiografi Buku Satu Menungganng Gelombang” (2021), Sintua Nathanael Nababan merupakan seorang pemburu kerbau liar tersohor di Tapanuli Utara.

Tidak ada orang yang lebih kaya dari golongan pemburu kerbau liar terkecuali kakeknya sendiri, Sintua Nathanael Nababan.

Panda menuturkan, sang kakek melakoni pekerjaan selayaknya hobi. Tak ada sedikit raut muka menunjukan penyesalan apalagi capek setelah lelah seharian berburu.

Sintua N. Nababan bersama dengan kawan-kawan lain menangkap kerbau liar di Padang Bolak dan Padang Lawas di Gunung Tua. Sebuah hutan savana yang rimbun dengan hamparan hijau rumput segar habitat para mamalia bertanduk besar. Saat ini arena berburu tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara, Tapanuli Selatan.

Rombongan pemburu memiliki cara unik dalam menangkap hewan buruan. Mereka menggiring dan menangkap satu komando (leader) kerbau. Setelah itu pemburu akan menutup mata si kerbau tadi dengan penutup khusus (dibulang).

Kemudian apabila sudah selesai mereka tinggal menggiring kerbau tersebut ke arah pulang. Secara jinak seluruh kerbau lain akan mengikuti arah tersebut.

Panda bercerita mengenai pengalaman ikut berburu dengan sang kakek, menurutnya jika hasil buruan melimpah, satu kampung yang rombongan pemburu lewati akan bergemuruh suara kaki kerbau seolah berlari-lari pendek mengikuti komando pemburu yang memegang kendali.

Baca Juga: Biografi Bob Sadino, Sukses Jadi Pengusaha dari Jualan Telur

Kegiatan berburu menjadi mata pencaharian satu-satunya orang Tapanuli Utara. Sintua N. Nababan dan beberapa kolega hobinya menangguhkan peruntungan hidup dari berburu. Termasuk memberikan jaminan kehidupan layak untuk istri dan anak-anak di rumah.

Menjual Kerbau Liar, Menyewa Toekang Poekoel

Karena sesudah berburu para penangkap kerbau liar harus jalan kaki menyusuri hutan lepas, biasanya mereka menyewa jasa pengawal yang terkenal dengan julukan Toekang Poekoel.

Tujuan para pemburu membawa orang yang jago silat itu tidak lain untuk melindungi hasil berburunya dari kejahatan begal kerbau di hutan.

Sebab sudah banyak kejadian yang menyebabkan kerbau hasil buruan hilang. Para begal yang jumlahnya lebih banyak dari para pemburu merampok kerbau-kerbau hasil tangkapan dari hutan savana yang jauh di ujung Tapanuli.

Biasanya jika si pemburu menyewa jasa Toekang Poekoel, kejahatan begal tidak akan berani mendekat. Jangankan mendekat melihat mereka dari kejauhan dan ada si Toekang Poekoel dalam rombongan, pembegal akan mendadak kabur dari tempat persembunyiannya.

Setelah rombongan Sintua Nathanael Nababan tiba di kediaman dengan selamat, biasanya para kerbau hasil tangkapan diberi makan terlebih dahulu sebelum mereka jual ke pasar hewan.

Tak sedikit para pemburu sampai memandikan dan memberi pijatan-pijatan pada badan si kerbau supaya terlihat segar dan tak murung.

Ayah Johnatan L. Nababan ini suka menjual hasil tangkapan ke pasar hewan pilihan. Alasan sederhananya di pasar itu para bakul kerbau berani membayar mahal.

Pasar hewan langganan Sintua antara lain pasar hewan Pelabuhan Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Parapat yang kemudian tembus sampai wilayah Sumatera Timur.

Sepulang dari pasar hewan, Sintua mengantongi banyak uang. Selain memberi bagian pada tenaga pemburu lain, sebagai seorang ayah yang ringan dompet, membuat anak-anak di rumah tak sabar menunggu.

Begitupun dengan istri tercinta, kadang mereka merayakan hari itu dengan masak makanan kesukaan dan mengadakan pesta keluarga yang sederhana.

Dari hasil penjualan hewan itu Sintua tabung untuk kebutuhan anak-anaknya sekolah. Alhasil setelah beberapa tahun menabung, ayah tiga anak ini berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang sekolah lanjut di luar Tapanuli.

Dua di antaranya ada di Jawa, satu di Batavia sekolah ke-farmasian, dan satu lagi di Solo, Jawa Tengah sekolah bahasa Belanda di sekolah keguruan “Indische Kweekschoool” (HIK).

Baca Juga: Soesilo Toer, Pemulung Lulusan Doktor Ekonomi di Uni Soviet

Membekali Ilmu Bermanfaat bagi Anak dan Keturunan

Tidak seperti seorang ayah dan kakek bergelar sarjana pada umumnya, Sintua Nathanael Nababan justru membekali ilmu bermanfaat bagi anak dan keturunannya dengan cara yang lain.

Salah satunya mendukung keinginan anak-anak mereka bersekolah di mana saja tanpa paksaan. Ia hanya punya kewajiban menuruti dan membiayai sekolah itu.

Tak heran anak-anak Sintua begitu sayang dan lengket pada sang ayah. Sintua N. Nababan memang ayah dan kakek bagi Panda Nababan yang ringan dompet.

Setelah anak-anak dan cucu menelusuri sikap baik ini ternyata ketemu lah kenapa Sintua begitu baik pada anak dan keturunannya.

Rupanya mantan pemburu kerbau liar legendaris di Tapanuli Utara ini ingin melihat anak keturunannya sukses.

Ia sadar tidak bisa ikut mendidik secara benar, ia hanya bisa mendukung dari belakang sekaligus memberi akses finansial untuk merealisasikan cita-cita baik keluarga Nababan. Sintua ingin melihat anak keturunan sukses dan merubah nasib keluarga besar di Tapanuli.

Perjuangannya tak sia-sia, sebab dua anak yang sekolah di Jawa berhasil. Ayah Panda Nababan (Jhonatan L. Nababan) berhasil menjadi seorang guru di Tapanuli tahun 1925.

Ia kembali ke Tapanuli setelah sekolahnya selesai di HIK Solo. Hal ini tak lepas dari wejangan sang ayah yang ingin sang anak kembali ke tempat kelahiran. Bekerja jadi guru di sana, mendidik anak-anak Tapanuli Utara jadi cerdas. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)