Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita TerbaruSoesilo Toer, Pemulung Lulusan Doktor Ekonomi di Uni Soviet

Soesilo Toer, Pemulung Lulusan Doktor Ekonomi di Uni Soviet

Soesilo Toer adalah seorang pemulung lulusan program doktoral ekonomi di salah satu universitas ternama di Uni Soviet. Ekonom kiri ini merupakan adik kandung sastrawan besar di Indonesia Pramoedya Ananta Toer.

Pramoedya mengaku sangat dekat dengan adiknya satu ini. Bak pinang dibelah dua, Soesilo Toer dan Pramoedya Ananta Toer sering terjebak dugaan orang lain sebagai kakak-beradik yang kembar.

Sebagaimana kakaknya yang seorang sastrawan, selain menjadi pemulung saat ini Soesilo Toer menyibukan diri dengan berbagai kegiatan seperti, membaca dan menulis.

Ia menulis apa saja yang kebetulan terlintas dalam pikiran, terkadang lagu, prosa, sajak, esai, dan cerita pendek.

Baca Juga: Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Lekra Peraih Ramon Magsaysay Award

Meskipun masyarakat sekitar sering meremehkan posisi Soesilo Toer sebagai seorang pemulung, nyatanya ia tidak berkecil hati. Sebab Soesilo merupakan salah seorang cendekiawan yang fasih berbahasa Rusia, Inggris, Belanda dan Jerman.

Profil Soesilo Toer, Kisah Pemulung Tamatan Doktor di Uni Soviet

Soesilo Toer lahir pada tanggal 17 Februari 1937 di daerah Jetis, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Ia lahir dari pasangan suami istri bernama Mastoer dan Siti Saidah. Ayahnya seorang guru dan jadi aktivis organisasi Boedi Oetomo.

Menurut Muhammad Muhibbudin dalam buku berjudul, “Pramoedya Ananta Toer: Catatan dari Balik Penjara”, ayah Soesilo dan Pramoedya terkenal sebagai orang yang merakyat.

Ia rela menghilangkan nama “Mas” hanya menjadi “Toer” karena awalan nama tersebut identik dengan kasta elit sosial masyarakat Jawa yang feodal.

Ia juga tak takut tatkala hidupnya miskin karena keluar mengajar dari sekolah Boedi Oetomo. Ketika keluarga Soesilo tertimpa kemiskinan, ia bersama abangnya (Pram) pergi merantau ke Jakarta. Saat itu usia Soesilo baru 13 tahun.

Di Jakarta mereka sekolah dan tinggal di rumah salah satu kerabatnya dari garis saudara keturunan ayahnya. Dalam sebulan ia dengan Pramoedya hanya menyimpan uang Rp 10 untuk kebutuhan sehari-hari. Karena tak cukup mereka berdua bekerja sambil sekolah.

Karena kemandirian ini pula Soesilo pernah kuliah di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi. Namun ia merasa tak cocok dengan pergaulannya dan Soesilo memutuskan pindah ke Akademi Keuangan Bogor hingga lulus Diploma.

Baca Juga: Kisah Pramoedya dan Buya Hamka, Pernah Ribut karena Sastra

Ijazah Diploma Soesilo dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan. Karena nilai-nilai dan prestasi di perkuliahan bagus, kantor asuransi menerimanya bekerja di sana. Tak lama Soesilo bekerja di kantor tersebut. Alasannya bosan, pekerjaan yang tak bisa produktif.

Hingga pada tahun 1950-an pria muda lulusan Diploma Akademi Keuangan Bogor ini mendaftar jadi pasukan Operasi Trikora. Karena berbagai pertimbangan di akhir pelatihan, Soesilo keluar dan tidak terpilih jadi pasukannya. Alhasil ia menganggur sebentar dan tak punya kegiatan selain membaca dan menulis prosa. 

Sesudah terbiasa hidup di Ibukota yang penuh hingar bingar kerasnya pergaulan sosial, Soesilo Toer yang tidak ingin hidup melarat mencoba daftar penjaringan 9000 penerima beasiswa sekolah tinggi ke Rusia pada tahun 1962.

Saat itu program scholarship ini berasal dari kebijakan Presiden Sukarno. Tak sangka nama Soesilo berhasil lolos dalam seleksi penerimaan Mahasiswa Baru di Rusia. Tidak berpikir panjang adik kesayangan Pramoedya tersebut lalu mendaftar ulang dan siap pergi ke Uni Soviet.

Sukses Menyabet Gelar Doktor Ekonomi di Uni Soviet

Ketika Soesilo berangkat ke Uni Soviet tahun 1960-an, kedatangan 6 orang Indonesia lainnya di sana membuat banyak orang tertegun dan bangga. Terutama perwakilan pejabat tinggi dari Indonesia di Eropa Timur.

Mereka menyambut bahagia kedatangan Soesilo Toer dan kawan-kawan lainnya. Sambutan seperti ini tetap Soesilo rasakan setelah bertahun-tahun tinggal di Uni Soviet. Bahkan ketika ia selesai menempuh Magister (S2) pada tahun 1962 dari Fakultas Ekonomi dan Politik di Universitas Patrice Lumumba.

Kehangatan orang-orang Uni Soviet dan keluarga Indonesia yang ada di sana membuat Soesilo ingin melanjutkan studi ke program Doktoral (S3). Akhirnya tak perlu menunggu waktu lama ia berhasil lulus (S3) di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov pada tahun 1973. Semenjak lulus doctor Soesilo Toer kerap mengajar di beberapa tempat.

Selain mengajar Soesilo Toer juga bekerja sebagai penulis, peneliti, dan penerjemah buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Rusia. Karena produktivitasnya yang tinggi, Soesilo mengaku pernah hidup kaya di Uni Soviet. Bahkan hampir setiap minggu sering makan di restoran Eropa termewah dan sempat jalan-jalan keliling Eropa.

Hidup di Indonesia Malah Jadi Pemulung

Meskipun sudah 11 tahun hidup di Uni Soviet Soesilo Toer tak dapat lagi membendung rasa kangen pada tanah airnya. Hingga pada tahun 1973 ia memberanikan diri pulang ke Indonesia untuk menemui keluarga di Blora Jawa Tengah.

Namun niat baiknya itu berakhir buruk, ketika pesawat penerbangan dari Uni Soviet mendarat di Jakarta, militer sudah bersiap dan menangkap para penumpangnya serta membawa mereka ke jeruji penjara.

Soesilo Toer bingung ia tidak tahu menahu apa salah mereka sehingga harus masuk bui. Belakangan baru tahu setelah salah seorang teman satu selnya bercerita tentang peristiwa G30S 1965. Ya, Soesilo dan teman-teman lainnya dituduh antek-antek komunis dari Uni Soviet.

Akibatnya Soesilo Toer mendekam di penjara selama 5,5 tahun. Selama hidup di dalam bui, ia mengaku berpetak umpet dengan penjaga sel hanya untuk menyelundupkan kertas dan pensil. Dua benda ini adalah penolong dari rasa haus Soesilo akan kegiatan menulis.

Baca Juga: Sejarah Lekra, Lembaga Kebudayaan Pendulang Massa PKI

Ia bisa menulis di kertas bekas dan menulis apa saja. Mulai dari prosa, puisi, esai, dan lirik lagu. Pada tahun 1978 Soesilo bebas dari penjara tanpa proses peradilan sebelumnya. Sedangkan kakaknya yang juga dipenjara akibat keterlibatan dalam Lekra baru keluar dari masa tahanan pada tahun 1980.

Jadi Pemulung

Sejak saat itu mereka berdua hidup susah. Lain dengan Pramoedya, Soesilo sang adik susah mendapatkan pekerjaan tetap. Semua takut terlibat dengannya, bahkan tetangga-tetangga di sekitar rumahnya ikut memusuhi keluarga Soesilo.

Dari situlah ide hidup mandiri tanpa melibatkan orang lain tercipta. Pilihan satu-satunya untuk mencari nafkah dan “kebahagiaan” menurut Soesilo Toer adalah menjadi pemulung. Setiap sore dan malam Soesilo memulung plastik-plastik bekas.

Bahkan hingga saat ini ia tetap menjadi pemulung. Kendati hidup sederhana dan apa adanya, kecintaan Soesilo terhadap pengetahuan tak terbatas. Hal ini tercermin dari produktivitas Soesilo mengalahkan abangnya.

Meski tubuh yang tak muda lagi, Soesilo masih aktif mengarang. Menjadi penulis dan punya perpustakaan untuk masyarakat di lingkungan sekitarnya. Selain  itu untuk mendapatkan biasa tabungan tambahan, Soesilo dan keluarganya beternak kambing dan ayam pada halaman belakang rumahnya di Blora. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)