Jumat, Juni 2, 2023
BerandaBerita TerbaruMengenang Tewasnya Moses Gatotkaca, Korban Kerusuhan 1998 di Yogyakarta

Mengenang Tewasnya Moses Gatotkaca, Korban Kerusuhan 1998 di Yogyakarta

Tewasnya Moses Gatotkaca merupakan salah satu sejarah kelam reformasi 1998 di Yogyakarta. Moses yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Moses menjadi korban kerusuhan 1998 di Yogyakarta.

Kerusuhan tahun 1998 meninggalkan catatan kelam terhadap pelanggaran HAM di Indonesia. Bahkan sebelum terjadinya peristiwa Reformasi telah terjadi berbagai aksi penculikan terhadap aktivis mahasiswa.

Salah satu daerah yang waktu itu turut melakukan aksi demonstrasi adalah Yogyakarta. sebagai salah satu pusat universitas yang ada di Indonesia, banyak mahasiswa dari berbagai kampus yang turun menuntut mundurnya Presiden Soeharto.

Mahasiswa yang turun menuntut mundurnya Presiden Soeharto dari tampuk kepemimpinan merupakan bentuk keprihatinan terhadap krisis ekonomi dan politik yang terjadi waktu itu.

Namun, tuntutan reformasi yang disuarakan melalui serangkaian aksi demonstrasi tersebut memakan korban tewas seorang mahasiswa yang bernama Moses Gatotkaca. Kini namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang berada dekat kampus Sanata Dharma.

Baca Juga: Peristiwa Kudatuli 1996, Cikal Bakal Pemicu Lengsernya Suharto

Sejarah Kerusuhan 1998 di Yogyakarta dan Tewasnya Moses Gatotkaca

Krisis moneter yang terjadi menjelang tahun 1998 di Indonesia merupakan salah satu krisis ekonomi yang terjadi di penghujung sejarah Orde Baru.

Di sisi yang lainnya krisis moneter ini juga menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Orde Baru menuju periode Reformasi yang lebih baik.

Meskipun, dalam pelaksanaannya reformasi yang terjadi menimbulkan dampak yang tidak sedikit. Dampak-dampak yang tidak bisa dihindari adalah seperti bentrokan antara aparat dan elemen demonstran.

Tidak jarang pula di beberapa daerah bentrokan ini memakan korban jiwa terutama dari kelompok demonstran.

Meskipun aksi dan demonstrasi yang dilakukan dalam bentuk damai, namun tidak bisa dipungkiri tetap saja terjadi bentrokan antar kedua belah pihak.

Salah satu daerah dengan bentrokan yang cukup parah waktu itu adalah Yogyakarta. kerusuhan yang terjadi di Yogyakarta ini sebenarnya melibatkan elemen masyarakat.

Sehingga massa yang melakukan demonstrasi tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa, melainkan juga masyarakat.

Menurut Gunawan Muhammad dalam buku ‚ÄúDetik-Detik Paling Menegangkan: Rangkaian Peristiwa Mencekam Menjelang Kejatuhan Soekarno dan Soeharto” (2015), melihat ulah aparat, masyarakat sekitar Gejayan langsung membantu mahasiswa. Serentak masyarakat melawan aparat dengan batu, botol, dan benda-benda yang berada di sekitar mereka.

Baca Juga: Sejarah Tragedi Trisakti 1998, Catatan Kelam Perjalanan Reformasi Indonesia

Aksi yang dilakukan mahasiswa ini sebenarnya sudah terjadi secara berulang-ulang. Namun, bentrokan yang cukup parah terjadi tepat pada 5 Mei 1998.

Aksi dan demonstrasi ini sebenarnya berlangsung damai, namun akibat provokasi akhirnya terjadi bentrokan antar kedua belah pihak.

Tepat pada 8 Mei 1998 terjadi lagi aksi kedua yang dilakukan oleh beberapa kampus seperti, Akprind, UGM, Sanata Dharma, dan IKIP Yogyakarta.

Beberapa tuntutan dalam aksi tersebut adalah penurunan Presiden Soeharto dan menuntut atas tindak kekerasan aparat pada peristiwa 5 Mei sebelumnya.

Namun, lagi-lagi bentrokan pun terjadi pada tanggal tersebut yang mengakibatkan tewasnya salah satu mahasiswa yang bernama Moses Gatotkaca.

Tewasnya Moses Gatotkaca

Mengutip Budi Susanto dkk dalam “Menjadi (1945-2020) Merdeka: Gejayan Memanggil Si/Apa” (2020), demonstrasi yang terjadi pada tanggal 8 Mei 1998 memakan korban seorang mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma yang bernama Moses Gatotkaca.

Moses Gatotkaca merupakan salah satu mahasiswa MIPA di Universitas Sanata Dharma yang ditemukan tewas di depan kios Pon Mrican. Jasadnya ditemukan pertama kali oleh Tim P3K dari Universitas Sanata Dharma.

Menurut hasil pemeriksaan dokter forensik Moses Gatotkaca meninggal akibat benturan benda tumpul di bagian kepalanya.

Menurut kesaksian waktu itu Moses Gatotkaca sedang mencari makan ketika malam hari. Namun, ia disangka salah satu mahasiswa yang ikut dalam demonstrasi tersebut.

Moses Gatotkaca menjadi korban yang salah sasaran dalam peristiwa bentrokan antara mahasiswa dan aparat ini.

Sebenarnya dalam peristiwa ini pihak yang terlibat bentrok dengan aparat tidak hanya mahasiswa, melainkan masyarakat sekitar.

Kondisi inilah yang membuat peristiwa waktu itu menjadi kacau tidak terkendali. Sehingga setiap orang yang melewati lokasi kejadian dianggap terlibat dalam peristiwa itu.

Meninggalnya Moses Gatotkaca ini kemudian diabadikan menjadi sebuah jalan Moses Gatotkaca yang terletak di selatan Universitas Sanata Dharma.

Nama ini diberikan untuk mengenang kisah tewasnya seorang mahasiswa yang menjadi salah sasaran dari kekerasan ketika reformasi di Yogyakarta.

Sejarah Kelam Reformasi di Yogyakarta

Tuntutan reformasi di Indonesia sebenarnya terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Yogyakarta.

Tuntutan reformasi di Yogyakarta sendiri sebenarnya mendapatkan dukungan dari Sultan Hamengkubuwono X.

Baca Juga: Abdi Dalem Palawija di Keraton Yogyakarta, Pendamping Raja yang Setia

Bentuk dukungan ini dikenal dengan Maklumat Reformasi 20 Mei 1998 yang berisi ajakan kepada seluruh masyarakat Yogyakarta untuk mendukung Reformasi 1998.

Tentu terdapat pula catatan kelam terhadap peristiwa ini, seperti peristiwa penculikan hingga kekerasan terhadap aparat.

Meninggalnya Moses Gatotkaca saat peristiwa reformasi menjadi duka yang mendalam bagi warga Yogyakarta.

Mengutip sebuah buku yang berjudul, “Kita Hari Ini 20 Tahun Lalu” (2019), upacara pelepasan Moses yang akrab dipanggil Gatot diantar doa lima rohaniawan masing-masing Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Buddha. Jenazah kemudian disholatkan di sebuah mesjid di dekat rumah duka keluarga moses.

Bahkan ketika Moses meninggal terdapat banyak ucapan belasungkawa, termasuk dari massa PPP, PDIP dan berbagai Ormas.

Bahkan, waktu itu Megawati dan Sultan Hamengkubuwono X turut mengucapkan belasungkawa terhadap kejadian itu.

Kepergian Moses memang menjadi luka mendalam dan catatan kelam reformasi di Indonesia dan Yogyakarta secara khusus. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Cek berita dan artikel HarapanRakyat.com yang lain di Google News