Kamis, November 30, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Stasiun Radio Malabar, Terbesar dan Tercanggih di Zaman Belanda

Sejarah Stasiun Radio Malabar, Terbesar dan Tercanggih di Zaman Belanda

Sejarah Stasiun Radio Malabar merupakan sejarah yang patut dipelajari bagi para penggemar radio. Mengingat stasiun radio yang ada di Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini pernah menjadi stasiun radio terbesar dan tercanggih pada zamannya.

Stasiun radio yang diresmikan pada tahun 1923 ini menjadi stasiun radio yang amat penting terutama untuk menghubungkan komunikasi antara Hindia Belanda dan Belanda waktu itu.

Mengingat jaraknya yang teramat jauh hingga mencapai 11 ribu kilometer lebih, stasiun radio ini dianggap sebagai stasiun radio yang patut masuk ke dalam sejarah perkembangan radio dunia.

Baca Juga: Kisah Wanita Korban KDRT 1922, Tewas Tenggak Racun Serangga

Namun, pasca Indonesia merdeka stasiun radio yang dirancang oleh Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot ini terpaksa dihancurkan.

Sejarah Pembangunan Stasiun Radio Malabar

Stasiun Radio Malabar dibangun pertama kali tahun 1916. Pada awalnya pembangunan stasiun radio ini sebagai upaya mengatasi kondisi Perang Dunia I yang sangat dinamis.

Kondisi yang dinamis ini membuat penggunaan kabel sebagai sarana komunikasi hampir mustahil karena rentan terhadap permasalahan teknis.

Kerentanan ini membuat Belanda memilih menjadikan radio nirkabel sebagai solusi jika sewaktu-waktu terjadi keadaan genting.

Menurut catatan sejarah, Stasiun Radio Malabar sendiri dirancang oleh seorang insinyur lulusan Jerman yang bernama Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot.

Dr. de Groot memang seorang insinyur sekaligus peneliti yang memfokuskan diri pada radio.

Bahkan menurut Bram Palgunadi dalam, “Radio 3: Kelengkapan Stasiun Radio Kita” (2022), berbagai penelitian dan teknologi komunikasi radio dilakukan di Kota Bandung dan sekitarnya sebagai upaya menunjang pembangunan stasiun radio terbesar waktu itu.

Rancangan Stasiun Radio Malabar ini bahkan dianggap sebagai salah satu rancangan radio terbaik di zamannya.

Dari sisi lokasi memang pembangunan Stasiun Radio Malabar cukup unik. Mengingat lokasi pembangunannya yang tidak biasa yaitu di daerah pegunungan, tepatnya di Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung.

Untuk memaksimalkan jaringan ke Belanda, antena terbentang sepanjang 2 kilometer antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun.

Bentangan inilah yang dapat membuat Stasiun Radio Malabar bisa terhubung ke Belanda yang jaraknya belasan ribu kilometer.

Baca Juga: Kisah Penjara Nusakambangan Jadi Sarang Wabah Influenza Mematikan 1918

Kecanggihan sistem ini dapat membuat pesan telegraf antara Hindia Belanda dan Belanda ini dapat terjadi tanpa hambatan.

Sehingga sangat wajar jika pembangunan stasiun radio ini sangat berarti bagi orang-orang Belanda terutama untuk memantau kondisi politik di masing-masing tempat.

Pada akhirnya stasiun tersebut selesai dan diresmikan pada 5 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock. Walaupun, dalam pelaksanaannya sempat terjadi kendala.

Stasiun Radio Terbesar

Kecanggihan teknologi dari Stasiun Radio Malabar ini ditunjang dengan berbagai fasilitas yang diperuntukan bagi para pegawainya.

Fasilitas yang diberikan mulai dari tempat hiburan seperti bioskop, kolam renang, hingga tempat olahraga bagi pegawainya.

Menurut Dr. J. Stroomberg dalam, “Hindia Belanda 1930” (2018), Stasiun Radio Malabar termasuk radio terkuat di dunia. Teknik penerimaan salurannya juga mendapat reputasi yang baik, sehingga tangkapan saluran radio negara ini dimanfaatkan untuk luar negeri.

Komunikasi langsung juga tidak hanya ke Belanda, melainkan ke Prancis (Saigon), Amerika, Jerman, Prancis (Paris), Philipina, dan Bangkok.

Selain itu juga, Stasiun Radio Malabar aktif dalam mengkomunikasikan berbagai berita ke seluruh area Hindia Belanda yang sudah terpasang radio sebagai tempat komunikasi.

Sehingga surat kabar di berbagai tempat dapat diterbitkan secara simultan dan disebarkan secara cepat ke berbagai tempatnya.

Kondisi ini tentu sangatlah efektif dari sisi komunikasi. Daerah-daerah dapat mengetahui dengan pasti kondisi yang terjadi antara satu tempat dengan tempat yang lainnya.

Meskipun, stasiun radio ini menjadi salah satu stasiun radio terbesar di dunia, belum terdapat catatan apakah terdapat peran dari orang-orang pribumi sendiri.

Kalaupun, terdapat peran dan kontribusi hanya sebatas sebagai kuli kasar untuk menunjang pembangunan stasiun radio ini.

Padahal pada zaman tersebut Bandung pernah menjadi pusat riset terhadap perkembangan radio terbesar kedua di dunia oleh Dr. de Groot.

Baca Juga: Kala Iklan Rokok Tahun 1930 Disusupi Agenda Politik Westernisasi Kolonial

Fakta ini memang tidak bisa dipungkiri, mengingat seorang ilmuwan terkenal yang bernama Pulsen dari Polandia juga bekerja secara langsung membangun perangkat pemancar radio berdaya tinggi (2500 KW) di Stasiun Radio Malabar

Penghancuran Stasiun Radio Malabar

Perubahan politik yang terjadi pasca kekalahan Belanda terhadap Jepang membuat fasilitasi-fasilitas publik terutama radio ini jatuh ke tangan Jepang.

ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, stasiun radio Malabar masih tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Namun, ketika Indonesia dan Belanda kembali berkonflik terkhusus tahun 1946 Stasiun Radio ini menjadi salah satu tempat yang dihancurkan.

Penghancuran ini dilakukan untuk mencegah komunikasi antara orang-orang Belanda yang sudah menguasai Bandung waktu itu dengan Pemerintahan Belanda.

Tentu saja ini menjadi sebuah kerugian besar bagi orang-orang Belanda, sarana komunikasi antara benua yang efektif ini dihancurkan secara sepihak oleh orang-orang Indonesia.

Mengutip dari Departemen Penerangan Indonesia dalam, “20 tahun Indonesia merdeka, Volume 6” (1965), sebelum penghancuran alat-alat pemancar radio dan berbagai barang yang bisa dijadikan media komunikasi dibawa pergi menggunakan kereta api dan truk-truk menuju daerah lain. 

Sehingga tentara Indonesia masih dapat berkomunikasi dengan tentara-tentara di daerah lainnya.

Tinggalah sisa-sisa puing dari Stasiun Radio Malabar yang merupakan stasiun radio terbesar di zamannya.

Kini hanya tersisa puing-puing bangunan dan sisa-sisa pondasi yang terlihat jelas, sebagai gambaran betapa megahnya stasiun radio ini dulunya. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Cek berita dan artikel HarapanRakyat.com yang lain di Google News