Kamis, Mei 1, 2025
BerandaBerita TerbaruKisah Eksekusi SM Kartosuwiryo 12 September 1962: Ngekos Bareng Soekarno, Berakhir Jadi...

Kisah Eksekusi SM Kartosuwiryo 12 September 1962: Ngekos Bareng Soekarno, Berakhir Jadi Musuh Negara

Detik-detik eksekusi Sekarmaji Marijan (SM) Kartosuwiryo merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Tokoh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang melakukan pemberontakan terhadap Indonesia ini sebenarnya merupakan sosok sahabat Soekarno. Soekarno dan Kartosuwiryo pernah indekos bersama di tempat Cokroaminoto.

Meskipun sering memiliki perbedaan, tetapi Soekarno dan Kartosuwiryo memiliki kedekatan. Perbedaan keduanya ternyata berakhir dengan konflik pemikiran dan permusuhan.

Baca Juga: Sejarah DI/TII di Tasikmalaya, Kartosuwiryo Marah Disebut Gerombolan Separatis

Kisah Eksekusi SM Kartosuwiryo yang Pernah Jadi Sahabat Soekarno

Mengutip dari, “Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik, 1961-1965” (2006), selama kurang lebih 13 tahun Kartosuwiryo melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Tepat pada 5 Juni 1962 perlawanan tersebut pun berakhir dengan penangkapan salah satu tokoh berpengaruh tersebut.

Divisi Siliwangi menangkap Kartosuwiryo dengan Operasi Bharatayuda. Ketika itu Divisi Siliwangi baru berhasil memulihkan keamanan di Jawa Barat.

Kartosuwiryo merupakan salah satu orang yang berguru pada Cokroaminoto. Tokoh yang digadang-gadang sebagai Ratu Adil kala itu.

Memang julukan Cokroaminoto ini bukan sekedar isapan jempol belaka. Sosoknya yang berkharisma dan enggan untuk tunduk kepada Belanda membuat banyak orang segan.

Tak hanya itu, ia juga pernah mendapat julukan De Ongekroonde van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota karena kepiawaiannya dalam memimpin.

Ide-ide dan gagasan Cokroaminoto inilah yang kemudian menurun pada murid-muridnya termasuk Kartosuwiryo. Bersama dengan Semaun, Musso, Sukarno, hingga Alimin mereka berguru pada Cokroaminoto.

Namun, satu per satu tokoh-tokoh ini terlibat dalam pemberontakan, termasuk Kartosuwiryo bersama dengan Darul Islam. Kartosuwiryo memiliki cita-cita untuk membentuk Negara Islam Indonesia yang mengusung ideologi Islam.

Pemberontakan ini sebenarnya merupakan salah satu pemberontakan yang cukup besar dan meliputi banyak wilayah di Indonesia baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Pada akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan dan Kartosoewirjo dieksekusi tepat pada 12 September 1962.

Baca Juga: Kisah Sabotase Teroris di Stasiun Ciamis Tahun 1953

Sahabat Sukarno

Soekarno langsung menandatangani persetujuan eksekusi SM Kartosuwiryo. Ia menyadari bahwa meskipun Kartosuwiryo merupakan sahabatnya, Soekarno tidak bisa tebang pilih terhadap ancaman negara.

Kartosuwiryo dan Soekarno merupakan sahabat dekat. Meskipun, di antara murid-murid Cokroaminoto ini, keduanya seringkali berbeda dalam permasalahan pandangan.

Mengutip dari, “Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia Studi Historis Perjuangan Umat Islam Di Pulau Jawa”(2024), selama masa-masa pendidikan ini, Cokroaminoto berpesan kepada murid-muridnya ketika menjadi pemimpin besar, mereka harus bisa menulis seperti wartawan dan berbicara layaknya orator.

Karena ucapan inilah Soekarno seringkali latihan pidato hingga berteriak-teriak. Sementara rekan-rekannya termasuk Kartosuwiryo hanya tertawa ketika mendengar Sukarno berpidato.

Masa-masa dalam pendidikan Kartosuwiryo dan rekan-rekannya ketika indekos inilah banyak berpengaruh terhadap pemikiran Kartosuwiryo.

Mereka tumbuh dalam kedekatan selama masa-masa perjuangan tersebut. Hal inilah yang membuat Soekarno bahkan menangis ketika akan mengeksekusi Kartosuwiryo.

Berakhir Menjadi Musuh

Salah satu awal keretakan antara Kartosuwiryo dengan negara kala itu adalah ketika penandatangan Perjanjian Renville oleh pihak Indonesia dan Belanda.

Kejadian ini membuat terjadinya perpecahan dan ketidakpuasan di dalam tentara Indonesia. Salah satu bagian yang ikut memecahkan diri adalah kelompok di bawah pimpinan Kartosuwiryo yang nantinya mendeklarasikan Negara Islam Indonesia.

Mengutip dari, “Sejarah Pergerakan Nasional: Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia dan Kiprah Kaum Santri dalam Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia”, Kartosuwiryo” (2022), Kartosuwiryo mendeklarasikan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 di daerah Malangbong, Jawa Barat.

Ide Kartosuwiryo ini mengusung konsep negara Indonesia menjadi sebuah negara Islam. Tentu saja, gagasan ini mendapatkan penentangan dari para pemimpin Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Pemilu 1955 di Ciamis, Parpol Tak Boleh Kampanye Sebelum Pemilihan, Kok Bisa?

Pancasila yang telah digagas oleh para pemimpin bangsa kala itu menentang adanya sikap yang terlalu memihak pada agama tertentu. Sebenarnya kesepakatan ini sudah pernah dibahas ketika mengubah Piagam Jakarta menjadi poin-poin Pancasila, sehingga seharusnya keputusannya telah usai.

Sejak deklarasi tersebut konflik tidak bisa terhindarkan, terutama konflik militer antara Indonesia melawan Darul Islam.

Konflik yang terjadi cukup masif, dan Kartosuwiryo bahkan menggalang kekuatan-kekuatan dan pemimpin di daerah lain seperti di Aceh yang dipimpin oleh Dauh Beureuh, di Sulawesi oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi, Amir Fatah di Jawa Tengah, dan Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Isu Strategis Arah Pembangunan

Isu Strategis Arah Pembangunan Kota Banjar 2025-2029, Apa Saja Poin Pokoknya?

harapanrakyat.com,- Sejumlah poin isu strategis yang akan menjadi arah pembangunan Kota Banjar, Jawa Barat, disampaikan Wali Kota Banjar, Sudarsono saat rapat paripurna DPRD Kota...
Asah Kreativitas dan Kepercayaan Diri

Pentas PAI di Kota Banjar Asah Kreativitas dan Kepercayaan Diri Pelajar

harapanrakyat.com,- Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kota Banjar, Jawa Barat, untuk mengasah kreativitas dan kepercayaan diri para pelajar. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SDN...
Latihan Pengendalian Massa

Polres Tasikmalaya Latihan Pengendalian Massa Unjuk Rasa Peringatan May Day 2025

harapanrakyat.com,- Sebagai bentuk kesiapsiagaan dan antisipasi potensi unjuk rasa menjelang Hari Buruh Internasional atau May Day 2025, personel Polres Tasikmalaya Polda Jabar mengikuti latihan...
Pelatih Timnas Indonesia U-23

PSSI Tentukan Pelatih Timnas Indonesia U-23 untuk SEA Games 2025 di Rapat Exco

Wakil Ketua Umum PSSI, Yunus Nusi mengatakan bahwa penentuan pelatih Timnas Indonesia U-23 akan diumumkan dalam Rapat Exco, bukan melalui kongres. Hal itu Yunus ungkapkan...
Komplotan Curanmor Lintas Kabupaten

Polres Sumedang Bongkar Komplotan Curanmor Lintas Kabupaten, 8 Pelaku dan 16 Motor Diamankan

harapanrakyat.com,- Jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sumedang, Polda Jabar, berhasil mengungkap komplotan curanmor lintas kabupaten yang kerap beraksi di wilayah perbatasan Sumedang-Indramayu. Sebanyak delapan...
Malut United Vs Persib

Menjelang Laga Malut United Vs Persib, Bojan Hodak Optimis Tim Maung Bandung Menang dari Laskar Kie Raha

Menjelang laga Malut United vs Persib, pelatih tim Maung Bandung, Bojan Hodak sempat mengeluhkan perjalanan panjang menuju Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara. Tim...