Di tengah sibuknya Yogyakarta yang kini makin padat, ada jejak sejarah yang kerap terlupa. Bukan tentang benteng atau istana megah, tapi soal masjid. Bukan masjid biasa, melainkan masjid-masjid yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, mendampingi Keraton sejak awal. Sejarah Masjid Pathok Negoro menjadi hal yang penting untuk generasi muda simak dan pelajari.
Baca Juga: Sejarah Alun-Alun Kidul Yogyakarta dan Fungsinya pada Zaman Dahulu
Kalau mendengar “pathok”, bayangan orang bisa mengarah ke batas atau patokan. Ternyata, makna itu tidak jauh meleset. Masjid Pathok Negoro memang dibangun untuk menjadi penanda penting kerajaan. Tapi kisah di baliknya begitu menarik dan penuh warna. Setiap masjid punya posisi dan peran, tidak hanya soal ibadah.
Sejarah Masjid Pathok Negoro, Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Masjid Pathok Negoro bukan cuma tempat sholat. Masjid ini berdiri bukan tanpa alasan. Sri Sultan Hamengku Buwana I punya tujuan besar di balik pembangunannya. Empat masjid berada di empat penjuru Yogyakarta. Masjid ini tidak hanya menandai batas, tapi juga menjaga wilayah. Di masa lalu, ini menjadi strategi penting bagi Keraton.
Masjid-masjid ini juga punya tugas sosial. Di sana, masyarakat belajar agama, berkumpul, dan menyelesaikan perkara. Masjid menjadi tempat pendidikan, pengadilan, bahkan pusat pertahanan. Sejarah Masjid Pathok Negoro berawal dari masa awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwana I ingin membangun kekuatan yang utuh. Ia tidak cuma mengandalkan benteng atau prajurit.
Masjid dibangun di batas-batas Kuthanegara dan Negaragung. Kuthanegara adalah pusat pemerintahan. Sedangkan Negaragung menjadi kawasan penyangga Keraton. Keberadaan masjid di tempat strategis itu bukan tanpa maksud. Sultan ingin semua elemen masyarakat merasa dekat dengan pusat kerajaan. Masjid menjadi wajah kerajaan di mata rakyat luar Keraton.
Masjid Mlangi, Warisan Sang Kyai
Tempat ibadah ini berdiri di wilayah barat Yogyakarta. Pendirinya adalah Kyai Nur Imam, kerabat dari Sultan. Ia mendapat tanah perdikan sebagai bentuk penghargaan. Sejarah Masjid Pathok Negoro ini bukan hanya tempat ibadah. Sejak awal, wilayah sekitarnya juga berkembang jadi pusat pendidikan Islam.
Sampai kini, suasana religius di Mlangi masih terasa kental. Masjid ini juga masyarakat kelola, tapi tetap menjadi bagian dari Keraton. Abdi dalem masih bertugas untuk menjaganya. Kehadiran mereka menjadi bukti hubungan erat dengan Kasultanan.
Masjid Plosokuning dan Kisah Pemindahan
Masjid Plosokuning punya cerita unik. Sebelum Keraton berdiri, masjid ini sudah ada. Kyai Mursodo membangunnya di lokasi yang berbeda dari sekarang. Setelah Keraton berdiri, Sultan memindahkan masjid ke posisi sekarang.
Bangunan barunya mirip Masjid Gedhe. Atapnya memakai model tumpang, meski hanya dua tingkat. Desain masjid ini mencerminkan kekuatan budaya Islam Jawa. Bentuknya sederhana tapi penuh makna. Semua elemen arsitektur punya filosofi sendiri.
Baca Juga: Sejarah Museum Dirgantara Yogyakarta, Tempat Edukasi Sejarah Penerbangan TNI AU
Masjid Dongkelan dan Jejak Perjuangan Diponegoro
Masjid Dongkelan berdiri di selatan kota, dan sejarah Masjid Pathok Negoro ini menyimpan kisah perjuangan. Ya, Masjid Dongkelan merupakan salah satu dari Masjid Pathok Negoro yang memiliki peran penting dalam sistem pertahanan Kesultanan Yogyakarta. Masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan pada masa perlawanan Pangeran Diponegoro.
Karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya para pejuang, masjid ini dibakar oleh pihak Belanda hingga nyaris rata dengan tanah. Masjid Dongkelan berdiri pada tahun 1775 dengan Kyai Syihabudin sebagai penghulunya. Bangunan awalnya memiliki atap yang terbuat dari ijuk.
Salah satu ciri khas Masjid Dongkelan sebagai bagian dari Masjid Pathok Negoro adalah keberadaan mustaka. Itu adalah hiasan dari tanah liat yang terletak di atap masjid. Menariknya, mustaka inilah satu-satunya bagian bangunan yang masih tersisa setelah pembakaran oleh Belanda.
Masjid Babadan dan Kisah yang Hilang di Masa Jepang
Masjid Babadan berdiri pada tahun 1774 dengan arsitektur khas Masjid Pathok Negoro, yaitu menggunakan konstruksi tajug di ruang utamanya dan lengkap dengan empat saka guru (tiang utama). Di bagian samping terdapat pawestren, ruang khusus untuk jamaah wanita.
Pada masa awal berdirinya, masjid ini juga berfungsi sebagai Kantor Urusan Agama (KUA). Namun, pada tahun 1943, pemerintah pendudukan Jepang melakukan penggusuran yang menyebabkan masjid ini lenyap. Sebagai respons, warga setempat memindahkan seluruh bangunan masjid secara gotong royong ke daerah Kentungan, yang kemudian terkenal sebagai Babadan Baru.
Masjid Babadan akhirnya dibangun kembali di lokasi aslinya pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tepatnya pada tahun 1960. Masjid yang dibangun ulang tersebut kini dikenal dengan nama Masjid Ad-Dorajat.
Makna Besar
Sampai hari ini, Masjid Pathok Negoro masih berdiri. Tidak hanya menjadi saksi bisu, tapi tetap hidup bersama warga. Sejarahnya masih terasa di lantunan doa dan aktivitas harian jamaahnya.
Setiap masjid punya ciri khas dan kisahnya sendiri. Tidak ada yang berdiri sekadar pelengkap. Semua dibangun dengan pertimbangan posisi, nilai, dan kebutuhan masyarakat saat itu.
Baca Juga: Sejarah Monumen Kijang Biru Wates, Kisah Tragis di Baliknya
Sejarah Masjid Pathok Negoro tidak bisa terlepas dari perjalanan Keraton. Masjid-masjid itu bukan hanya simbol spiritual. Tapi juga simbol kekuasaan, pendidikan, dan penjagaan wilayah. (R10/HR-Online)