BerandaBerita TerbaruKesenian Domyak Purwakarta, Tradisi Memanggil Hujan

Kesenian Domyak Purwakarta, Tradisi Memanggil Hujan

Saat memulai tradisi kesenian Domyak Purwakarta ini, ada pemimpin upacaranya yang terkenal dengan sebutan pangasuh (pengasuh). Lalu melakukan mupuhan yang bertujuan untuk meminta izin terlebih dulu. Mupuhan ini juga dilakukan dengan harapan untuk memohon berkah keselamatan dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Kesenian Domyak Purwakarta merupakan salah satu tradisi unik yang masih terus lestari hingga kini. Masyarakat sekitar menilai kesenian tersebut sebagai ritual meminta hujan. Lebih tepatnya masyarakat yang tinggal di Desa Pasir Angin, Darangdan.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Kesenian Bangreng Sumedang

Ritual ini sangat sering digelar ketika musim kemarau tiba dan terus melegenda sampai ke generasi sekarang. Meski begitu, nyatanya masih ada sebagian orang yang merasa asing dengan tradisi tersebut. Oleh karena itu, simak terus pembahasan lengkapnya di bawah ini untuk lebih mengenalnya.

Kesenian Domyak Purwakarta dan Sejarahnya

Tradisi leluhur masyarakat Purwakarta ini memiliki sejarah yang panjang. Awalnya, nama tradisi tersebut adalah Buncis, pimpinan Abah Janata dan Mama Nuria. Akan tetapi, namanya berganti di tahun 80-an jadi Domyak.

Istilah tersebut mempunyai arti Ari Dur Ari Rampayak. Dur di sini ialah bunyi bedug yang berasal dari salah satu waditra musik untuk mengiringi kesenian. Sementara untuk Rampayak berarti menari.

Oleh sebab itu, saat ada suara dur yang asalnya dari bedug, maka pemain bisa langsung menari. Tradisi ini berfungsi untuk memanggil hujan saat musim kemarau datang. Dalam tradisi kesenian Domyak Purwakarta tersebut, ada banyak ritual yang dilakukan.

Salah satunya ialah memandikan kucing. Namun sebelumnya, kucing diarak keliling kampung dengan tandu. Supaya tidak lepas, kucingnya dimasukkan ke kurungan bernama dongdang ucing.

Baca Juga: Mengenal Seni Badawang Kawung, Simbol Tradisi Masyarakat Karyamukti Kota Banjar

Selama arak-arakan, ada tetabuhan yang mengiringinya. Mulai dari dogdog, angklung, saronbedug, goong dan kendang. Setelah itu, mencari sumber mata air untuk memandikan kucingnya.

Prosesi Ritual

Saat memulai tradisi kesenian Domyak Purwakarta ini, ada pemimpin upacaranya yang terkenal dengan sebutan pangasuh (pengasuh). Lalu melakukan mupuhan yang bertujuan untuk meminta izin terlebih dulu. Mupuhan ini juga dilakukan dengan harapan untuk memohon berkah keselamatan dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Setelah itu, pangasuh meminta seseorang untuk lantunkan kidung beberapa umpan. Jika sudah, kucing di kurungannya disiram air secara perlahan atau populer dengan istilah ngibakan ucing. Ritual ini dilakukan bukan tanpa makna.

Kucing tak pernah mandi. Tradisi ini memiliki makna berupa ajaran bahwa manusialah yang harusnya mandi. Tujuannya tak lain untuk membersihkan diri.

Terancam Punah

Tradisi kesenian Domyak Purwakarta ini biasa dilakukan oleh orang yang sudah berusia tua. Jarang ada generasi muda yang mengenalnya dengan baik atau bahkan ikut terjun mengikuti ritualnya. Hal inilah yang membuat tradisi tersebut terancam punah.

Menyadari hal itu, tentu perlu adanya aksi aktif sebagai bentuk pelestariannya. Hal ini sebagaimana yang upaya Sanggar Seni Domyak Ngawangun di Desa Sindangpanon. Sanggar seni tersebut senantiasa aktif untuk mengajarkan pemuda maupun anak-anak yang ada di Desa Sindangpanon untuk belajar kesenian Domyak.

Bukan hanya itu saja, Pemkab Purwakarta juga terjun langsung untuk menekan risiko punah tersebut. Adapun aksinya ialah dengan mengajarkan kesenian Domyak ke siswa. Lebih lanjut, Pemkab Purwakarta juga kerap menampilkan tradisi ini saat mengadakan acara resmi pemerintah.

Kementrian Sosial RI juga tampak memberikan dukungan berupa pengadaan peralatan maupun sarana lainnya. Bantuan tersebut tersalur ke Sanggar Seni Domyak Ngawangun. Harapannya, bantuan ini bisa membuat kesenian tersebut terus terjaga.

Peran aktif masyarakat juga penting. Misalnya dengan tetap mengadakan tradisi kesenian Domyak Purwakarta ini saat membuka acara, menyambut tamu kehormatan maupun mengiringi kegiatan masyarakat. Hal ini tak terkecuali saat ada pernikahan.

Fakta Menarik

Domyak memiliki fakta menarik yang tak kalah penting kita ketahui. Salah satunya yakni seputar tarian. Dalam kesenian ini, rupanya menampilkan tarian yang terdiri dari wanita dan pria dengan kostum berwarna mencolok.

Untuk gerakannya cenderung energik dan ekspresif. Lalu ada selipan humor yang jadi hiburan tersendiri. Ada juga teater atau drama di dalamnya. Unsur teaternya bisa berupa kisah bernuansa moral, cerita rakyat maupun legenda.

Baca Juga: Tari Belenderan Karawang, Kesenian Lokal dengan Sesajen Khusus

Kesenian Domyak Purwakarta bukan ritual biasa karena bertujuan untuk memanggil hujan. Namun di sela-sela prosesi ritualnya, ada improvisasi tersendiri. Hal ini khususnya saat menari. Karena hal itu, kesenian Domyak yang ada di Purwakarta ini perlu dijaga keberadaannya supaya tidak punah. Caranya ialah dengan aktif mengenalkannya ke generasi muda agar ada penerusnya. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU