BerandaBerita TerbaruRotasi Komet 41P Berbalik Arah Usai Dekati Matahari, Efek Outgassing

Rotasi Komet 41P Berbalik Arah Usai Dekati Matahari, Efek Outgassing

Rotasi komet 41P berbalik arah memang mengejutkan sekaligus membuat penasaran kalangan ilmuwan. Ternyata fenomena langka ini dipicu oleh outgassing anisotropik. Apabila nantinya 41P/Turttle-Giacobini-Kresak kembali dekat di matahari, maka ilmuwan bisa mendapatkan pemahaman secara lebih mendalam.

Rotasi komet 41P berbalik arah termasuk fenomena astronomi yang langka. Fenomena ini sendiri diungkap oleh ilmuwan. Sementara untuk kometnya bernama 41P/Turttle-Giacobini-Kresak.

Baca Juga: Asal Usul Mineral Kristalin di Komet Terungkap Berkat Observasi James Webb

Komet ini berupa objek kecil yang letaknya di Tata Surya. Untuk perubahan rotasinya sendiri terlihat jelas setelah posisinya mendekati matahari. Hal inilah yang membuat kalangan ilmuwan sangat terkejut.

Rotasi Komet 41P Berbalik Arah dalam Perihelion

Selama ini kita tahu bahwa komet berotasi tanpa mengalami perubahan atau berbalik arah. Karena hal itu, fenomena ini sangatlah langka sebab belum pernah terlihat sebelumnya. Melihat analisis terbaru pada citra teleskop antariksa Hubble tahun 2017 memperlihatkan bahwa rotasinya berubah dalam perihelion. Wilayah tersebut termasuk titik terdekat ke matahari.

Peristiwa ini terjadi tentu bukan tanpa alasan. Hal tersebut rupanya dipengaruhi fenomena outgassing. Fenomena ini berupa dorongan dari gas yang menguap di permukaan es kometnya.

Karena fenomena tersebut, periode rotasi kometnya jadi memanjang. Awalnya periode rotasinya hanya 20 jam. Namun kini waktunya jadi lama sebab lebih dari 53 jam hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja.

Selain melambat, rotasi komet tersebut juga terlihat tampak berhenti sepenuhnya. Setelah itu, rotasi komet 41P berbalik arah. Kometnya berputar lagi dengan periode lebih cepat sebab hanya 14,4 jam dengan arah berlawanan dari rotasi sebelumnya.

Fenomena Outgassing Anisotropik

Sebagaimana yang sudah kita singgung tadi bahwa outgassing jadi pemicu utama peristiwa langka ini. Untuk alasannya terungkap dari penjelasan Dr. David Jewitt. Ia merupakan astronom yang berasal dari University of California di Los Angeles.

Baca Juga: Fakta Menarik Seputar Temuan Gas Nikel dalam Komet 31/Atlas

Menurut penjelasannya, perubahan tersebut karena efek gaya dorong yang tidak merata dari semburan gasnya. Gas tersebut keluar dari bagian permukaan komet ketika bergerak mendekati matahari. Proses ini terkenal dengan outgassing anisotropik.

Karakteristik 41P/Turttle-Giacobini-Kresak

Berkaitan dengan penjelasan astronom tadi, sering memicu rasa penasaran kenapa semburan gas bisa sampai membuat rotasi komet 41P jadi berbalik arah. Rupanya hal tersebut tidak terlepas dari ukuran inti komet yang jadi karakteristik khasnya. Ukuran intinya sendiri sangatlah kecil sebab hanya berkisar 500 meter saja.

Karena ukurannya sangat kecil, tidak heran jika gaya dari semburan gas tersebut sampai mempengaruhi arah rotasinya. Berbeda jika ukurannya lebih besar, tentu dampaknya tidak sebegitu drastis. Mengetahui inti komet yang sangat kecil, tentu kalangan ilmuwan tak menampik kemungkinan adanya deformasi.

Deformasi ialah kondisi komet yang bisa terpecah karena tegangan dari gerakan berputar yang sudah tak stabil lagi. Dari sini bisa kita ketahui bahwa fenomena langka tersebut bisa saja membuat kometnya jadi pecah berkeping-keping. Mengingat kekuatan semburan gasnya jauh lebih tinggi daripada ukuran inti komet.

41P/Turttle-Giacobini-Kresak Kembali Dekati Matahari 2028

Rotasi komet 41P berbalik arah yang sedang ramai jadi bahan perbincangan ini kemungkinan besar juga akan kembali untuk melintas dekat matahari lagi. Menurut perkiraan ilmuwan, peristiwa tersebut akan terjadi pada tahun 2028 mendatang. Apabila benar demikian, maka bisa jadi kesempatan untuk observatorium baru.

Dengan berbekal peralatan lebih canggih dan lengkap, observasi bisa dilakukan untuk mempelajari fenomena komet dalam rotasi yang unik ini secara lebih mendalam. Misalnya saja Vera C. Rubin Observatory. Dari observasi tersebut, ilmuwan juga akhirnya bisa tahu apakah fenomena ini termasuk langka atau justru memang sudah umum terjadi pada komet berukuran kecil lainnya.

Sekilas mengenai komet, benda langit ini berbeda dengan objek lainnya. Di dalamnya terdapat kandungan debu dan inti es lantas mengorbit matahari dengan lintasan elips panjang. Ketika bergerak mendekati matahari, komet 41P ini memperlihatkan ekor dan koma.

Kemudian untuk penamaannya sebenarnya asalnya dari Yunani, yakni kometes. Istilah tersebut artinya berambut panjang. Hal ini merujuk penampilan ekornya yang kabur dan panjang.

Baca Juga: Fakta Komet Lemmon yang Kembali Setelah Melakukan Ribuan Tahun Perjalanan

Rotasi komet 41P berbalik arah memang mengejutkan sekaligus membuat penasaran kalangan ilmuwan. Ternyata fenomena langka ini dipicu oleh outgassing anisotropik. Apabila nantinya 41P/Turttle-Giacobini-Kresak kembali dekat di matahari, maka ilmuwan bisa mendapatkan pemahaman secara lebih mendalam. Pemahaman mengenai rotasi komet 41P yang berbalik arah tersebut harapannya bisa memberi gambaran mengenai evolusi maupun perilaku objek antariksa di Tata Surya secara lebih jelas. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU