BerandaBerita TerbaruMakam Waruga Minahasa, Kuburan Kuno dari Zaman Megalitikum

Makam Waruga Minahasa, Kuburan Kuno dari Zaman Megalitikum

Makam Waruga Minahasa terbuat dari batuan sedimen lava basalt atau tras/domato menurut bahasa daerah. Batuan tersebut berasal dari letusan Gunung Lokon dan juga Gunung Klabat. Sedimen batu tersebut memiliki sifat tahan lama dan akan semakin menguat serta mengeras jika berada di tempat terbuka.

Makam Waruga Minahasa menjadi salah satu daya tarik budaya dari Suku Minahasa yang sangat unik. Makam ini menjadi situs budaya penting yang menjadi warisan kuno peninggalan leluhur suku Minahasa dari zaman batu. Hingga kini pun kita masih bisa melihatnya secara langsung karena telah resmi menjadi Cagar Budaya.

Baca Juga: Sejarah Candi Planggatan, Jejak Majapahit di Lereng Lawu

Mengenal Makam Waruga Minahasa, Kuburan Batu yang Unik Seperti Rumah

Waruga merupakan makam atau kuburan yang terbuat dari batu dengan bentuk menyerupai bangunan rumah. Kita bisa menemukannya dan melihatnya secara langsung di beberapa situs di daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Salah satu tempatnya yang populer dan bisa kita kunjungi saat luang yaitu Situs Waruga Sawangan.

Waruga bukan hanya kuburan kuno biasa, namun menjadi artefak yang kaya akan sejarah dan makna. Makam batu ini memiliki nilai sejarah dari para leluhur Suku Minahasa, identitas keluarga, sekaligus simbol kebudayaan. Ini makam-makam unik tersebut sudah dilindungi dan menjadi daya tarik yang mengundang banyak turis bahkan peneliti.

Sejarah Kuburan Batu Waruga

Makam Waruga Minahasa sebenarnya merupakan pemakaman tua peninggalan dari zaman megalitikum pada sekitar 1500 SM. Penelitian arkeologi bahkan juga menunjukkan bahwa kuburan batu ini sudah ada sejak abad ke 4 SM. Namun masyarakat Minahasa mulai meninggalkan upacara pemakaman ini sekitar awal abad ke 20 M.

ADVERTISEMENT

Baca Juga: Sejarah Candi Cetho, Bangunan Suci Hindu ini di Lereng Gunung Lawu Karanganyar

Praktik pemakaman Waruga mulai mendapat tantangan pada masa kolonial dan masuknya Kristen ke Minahasa. Saat itu muncul anggapan bahwa praktik pemakaman ini bertentangan dengan acara agama. Sebab menurut ajaran Kristen waktu itu, masyarakat harus mengubur jenazah di bawah tanah.

Pada zaman kolonial Belanda tepatnya sekitar tahun 1860, Pemerintah Belanda juga melarang praktik pemakaman ini. Sebab saat itu terjadi wabah penyakit pes, kolera, hingga tifus yang anggapannya tersebar dari makam ini. Karena banyak makam yang ditinggalkan, namun masyarakat tetap melestarikan warisan leluhur tersebut.

Bahan dan Bentuk Waruga

Makam Waruga Minahasa terbuat dari batuan sedimen lava basalt atau tras/domato menurut bahasa daerah. Batuan tersebut berasal dari letusan Gunung Lokon dan juga Gunung Klabat. Sedimen batu tersebut memiliki sifat tahan lama dan akan semakin menguat serta mengeras jika berada di tempat terbuka.

Kuburan batu ini terdiri atas dua bagian yaitu bagian bawah dan juga bagian atas. Bagian bawah berbentuk kotak dengan rongga di dalamnya yang berguna untuk meletakkan jenazah. Sementara itu bagian atasnya berperan sebagai penutup dengan bentuk prisma persegi sehingga menyerupai rumah.

Ukuran dan Ukiran Makam

Kuburan kuno yang terbuat dari baru ini memiliki ukuran yang cukup bervariasi mulai kecil hingga besar. Ukuran terkecilnya sekitar 50 x 50 x 100 cm, sedang 100 x 100 x 150 cm, besar 150  x 100 x 145 cm. Ukuran kuburan ini mungkin disesuaikan dengan ukuran jenazah yang akan disemayamkan dalam makam tersebut.

Makam Waruga Minahasa juga memiliki ornamen berupa ukiran yang menjadi tanda keluarga atau pekerjaan jenazah. Ada yang bentuknya manusia berdiri, melahirkan anak, hingga duduk tanpa busana. Kemudian ada juga ukiran motif bunga, dedaunan, ayam, ular, naga hingga motif geometri tradisional.

Posisi Jenazah Seperti Janin

Dalam kuburan kuno ini, posisi jenazah tidak berbaring seperti pemakaman pada umumnya. Jasad akan dibentuk dengan posisi meringkuk menyerupai posisi janin yang ada di dalam kandungan ibunya. Posisi lutut menekuk ke dada, kepala menunduk mendekati lutut, dan tumit yang menempel pada bokong.

Pemilihan posisi pemakaman ini karena kepercayaan manusia harus mengakhiri hidup dalam posisi yang sama seperti bayi dalam kandungan. Peletakan jenazah di dalam makam pun harus menghadap ke arah utara. Hal tersebut karena mereka percaya bahwa nenek moyangnya berasal dari utara sehingga posisi jenazah tersebut menjadi bentuk penghormatan.

Baca Juga: Catatan Sejarah Raffles dan Penemuan Benda Purbakala di Jawa

Makam Waruga Minahasa menjadi peninggalan budaya yang sangat penting berarti bagi masyarakat di Minahasa. Apalagi peninggalan ini sudah ada sejak lama bahkan sejak zaman megalitikum sekitar 1500 SM. Meskipun masyarakat modern sudah lama meninggalkan tradisi tersebut, namun mereka tetap melestarikannya agar tidak melupakan tradisi leluhur. Bagi yang tertarik melihatnya secara langsung pun bisa mendatangi situs makam di Minahasa seperti Situs Waruga Sawangan. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU