Gunung Buleud kini semakin populer sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan perpaduan unik antara kekayaan sejarah internasional dan keindahan lanskap pegunungan. Terletak tepat di garis perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, gunung ini menyimpan cerita tentang ekspedisi ilmuwan dunia yang jarang publik ketahui.
Salah satu daya tarik utama dari gunung tersebut adalah nilai historisnya yang tinggi. Pada 19 Mei 1858, gunung ini menjadi lokasi penelitian bagi Ekspedisi Novara, sebuah misi pengetahuan keliling dunia yang dipelopori oleh Kerajaan Austria.
Saat itu, dua ilmuwan ternama, Dr. Höchstetter dan Dr. Eliza de Vrij, mengunjungi Gunung Buleud ini untuk meneliti formasi batuan purba.
Baca Juga: Aone Trawas Mojokerto, Pesona Pantai di Atas Awan dan Camping Ground Viral 2026
Pemilihan lokasi ini tidak lepas dari rekomendasi naturalis legendaris, Franz Wilhelm Junghuhn. Junghuhn menganggap gunung ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan karena merupakan representasi sempurna dari pegunungan tersier di Pulau Jawa. Hasil penelitian ini bahkan telah dibukukan dan menjadi rujukan botani serta geologi dunia.
Geografi Gunung Buleud dan Aksesibilitas bagi Pendaki Pemula
Secara administratif, sisi selatan gunung ini masuk dalam wilayah Desa Cibodas, Kecamatan Soreang. Sedangkan sisi utaranya berada di Kampung Bahubang, Desa Situwangi, Kecamatan Cihampelas.
Memiliki ketinggian sekitar 1.182 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung ini sangat direkomendasikan bagi pendaki pemula karena medannya yang tidak terlalu ekstrim.
Wisatawan dapat mengakses lokasi melalui dua jalur utama, yakni jalur Desa Situwangi yang menawarkan pendakian melalui perkebunan pisang dan hutan bambu yang asri. Serta jalur Desa Cibodas yang memungkinkan kendaraan roda dua untuk mencapai area puncak secara langsung.
Keunikan Batu Nini dan Fenomena Alam
Nama “Buleud” dalam bahasa Sunda yang berarti bulat, menggambarkan bentuk puncak gunung yang membundar. Di kawasan ini terdapat formasi batu susun yang dikenal sebagai Batu Nini.
Baca Juga: Wisata Gunung Nini Pangalengan Tawarkan Sensasi Berkemah di Puncak Pegunungan
Masyarakat setempat menyebutnya demikian karena jika melihatnya dari sudut tertentu, batu tersebut menyerupai perwujudan seorang nenek.
Selain formasi batuan yang eksotis, Gunung Buleud juga menyuguhkan hutan pinus yang rimbun. Memberikan udara sejuk dan suasana tenang bagi pengunjung.
Selain itu, pengunjung seringkali dapat melihat burung elang dan burung lokal seperti jogjog yang mencari mangsa di sekitar semak. Saat malam hari, puncak gunung menawarkan pemandangan gemerlap lampu kota Bandung yang memukau.
Mitos Lokal dan Potensi Ekonomi Masyarakat
Seperti gunung pada umumnya di Jawa Barat, Gunung Buleud juga memiliki mitos dan kearifan lokal. Masyarakat setempat menyarankan pendaki untuk tidak berkemah pada malam Kamis karena adanya kepercayaan mengenai suara gamelan gaib.
Selain itu, terdapat mata air Ci Kiara di dekat Batu Nini yang konon tidak pernah kering meski musim kemarau panjang.
Di sisi lain, keberadaan gunung ini menopang ekonomi warga Kampung Bahubang melalui perkebunan pisang raja bulu dan pisang lumut. Serta kerajinan tusuk sate dari bambu yang melimpah di lereng gunung.
Baca Juga: Purba Sanghyang Kenit Bandung dengan Pesona Alam Eksotis
Saat ini, fasilitas pendukung seperti bumi perkemahan, gazebo, dan tempat ibadah sedang dalam tahap pengembangan untuk semakin memanjakan wisatawan.
Dengan segala pesona alam dan jejak sejarahnya, Gunung Buleud menjadi destinasi yang wajib Anda kunjungi jika ingin mencari pengalaman wisata edukatif sekaligus rekreatif di Bandung Raya. (R3/HR-Online/Editor: Eva)





