BerandaBerita TerbaruHutan Kota Sungkur Klaten: Menguak Pesona Hijau di Balik Jejak Sejarah Kerkof...

Hutan Kota Sungkur Klaten: Menguak Pesona Hijau di Balik Jejak Sejarah Kerkof Belanda

Tercatat pernah ada sekitar 146 makam warga Eropa di area Hutan Kota Sungkur ini. Namun, seiring berjalannya waktu dan alih fungsi lahan, jejak fisik makam tersebut hampir sepenuhnya hilang, tertimbun, atau tidak terawat.

Di balik rindangnya pepohonan dan udara segar yang menyelimuti pusat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terdapat sebuah destinasi yang menyimpan dualitas unik antara keindahan alam dan misteri masa lalu. Hutan Kota Sungkur, yang kini menjadi salah satu paru-paru kota paling vital, ternyata berdiri di atas lahan yang dahulunya merupakan kompleks pemakaman warga Eropa atau yang dikenal sebagai Kerkof.

Bagi warga lokal, sejarah kawasan tersebut bukanlah rahasia lagi. Pada masa kolonial Belanda, lokasi ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi pejabat, tentara, hingga warga keturunan Eropa.

Tercatat pernah ada sekitar 146 makam di area Hutan Kota Sungkur ini. Namun, seiring berjalannya waktu dan alih fungsi lahan, jejak fisik makam tersebut hampir sepenuhnya hilang, tertimbun, atau tidak terawat.

Baca Juga: Trekking di Taman Hutan Raya Bandung, Eksplorasi Alam dan Sejarah di Dago Pakar

Kini, kesan suram telah berganti dengan suasana asri. Pemerintah telah menata ulang kawasan ini menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang estetik dan fungsional. Transformasi ini bertujuan untuk memberikan ruang publik bagi masyarakat. Sekaligus mendukung kelestarian ekosistem perkotaan.

Keanekaragaman Hayati dan Fungsi Ekologis Hutan Kota Sungkur

ADVERTISEMENT

Berdasarkan penelitian akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), hutan kota ini memiliki kekayaan flora yang terkelola dengan baik. Terdapat total 158 individu pohon yang terdiri dari 17 jenis dari 9 famili yang berbeda.

Keanekaragaman tidak hanya menambah nilai estetika, tetapi juga menjadikan hutan kota ini sebagai penyumbang oksigen yang signifikan bagi wilayah Klaten Tengah.

Penataan bentuk tajuk pohon di Hutan Kota Sungkur juga sudah sesuai dengan peruntukannya sebagai area perlindungan dan estetika. Pohon-pohon tersebut memberikan keteduhan bagi pengunjung yang ingin melepas penat di tengah hiruk-pikuk kota.

Destinasi Favorit untuk Olahraga dan Hunting Foto

Baca Juga: Teluk Mauritsbaai, Sejarah Nama Pantai Pangandaran di Zaman Kolonial Belanda yang Nyaris Terlupakan

Lokasi Hutan Kota Sungkur sangat strategis, tepatnya di Jalan Andalas, Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, tepat di depan SMPN 6 Klaten. Aksesnya yang mudah dijangkau dari arah Yogyakarta maupun Solo menjadikannya tempat favorit warga untuk berbagai aktivitas.

Beberapa kegiatan bisa dilakukan pengunjung. Jalur pedestrian yang tertata sering warga gunakan untuk jogging atau jalan santai di pagi dan sore hari. Selain itu, area ini cocok untuk bermain bersama anak-anak sambil menikmati udara bersih.

Bagi pecinta fotografi, perpaduan pohon hijau yang lebat memberikan latar belakang yang instagenic untuk berswafoto atau sesi foto profesional.

Pengunjung juga dapat mengenang kembali sejarah perkembangan Kota Klaten dari masa kolonial melalui sisa-sisa jejak Memento Mori yang masih ada di sekitar kawasan Hutan Kota Sungkur.

Hutan Kota ini beroperasi 24 jam setiap hari, sehingga memberikan fleksibilitas bagi siapa saja yang ingin mencari ketenangan sejenak tanpa dipungut biaya masuk yang besar.

Menjaga Keseimbangan Lingkungan

Baca Juga: Sejarah Benteng Duurstede Maluku, Peninggalan Belanda Saksi Perjuangan Rakyat Saparua

Pentingnya keberadaan hutan kota seperti Sungkur ini sejalan dengan perlunya manajemen iklim mikro di suatu wilayah. Sebagaimana analisis spasial yang dilakukan di daerah lain seperti Ponorogo, penentuan tipe iklim, baik menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson maupun Oldeman, sangat bergantung pada curah hujan dan vegetasi yang ada.

Keberadaan pohon-pohon besar di hutan kota berperan penting dalam menjaga kelembapan udara dan menyeimbangkan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Dengan perpaduan sejarah yang mendalam dan fungsi ekologis yang kuat, Hutan Kota Sungkur menjadi bukti nyata bagaimana sebuah kawasan “mati” dapat hidup kembali menjadi aset kota yang sangat berharga bagi generasi mendatang. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

BERITA TERBARU