Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata di Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung, sebuah tradisi kuno tetap berdiri kokoh sebagai jangkar spiritual masyarakat setempat. Aci Sanghyang Grodog, sebuah ritual sakral yang pelaksanaannya setiap dua tahun sekali bukan sekadar pertunjukan seni. Tetapi merupakan upaya mendalam untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Bagi krama Desa Adat Lembongan, ritual ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam konsep Tri Hita Karana. Digelar tepat pada Sasih Karo dalam kalender Bali (sekitar bulan Agustus), tradisi kuno tersebut diyakini untuk menetralisir kekuatan negatif. Baik yang bersifat nyata (sekala) maupun tidak kasat mata (niskala).
Tradisi ini merupakan warisan leluhur untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta membersihkan desa dari wabah penyakit atau sasih grubug. Selain itu, ritual ini juga dipercaya sebagai sarana memohon hujan saat musim kemarau panjang melanda pulau tersebut.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Cheng Beng, Penghormatan Masyarakat Tionghoa untuk Leluhur
Keunikan Aci Sanghyang Grodog
Berbeda dengan tari Sanghyang di daratan Bali yang umumnya identik dengan kondisi tidak sadarkan diri atau trance. Sebaliknya, melakukan Sanghyang Grodog dengan kesadaran penuh oleh para pelakunya.
Keunikan lainnya terletak pada jumlah simbol yang tampil dalam tradisi ini, yaitu sebanyak 23 jenis Sanghyang yang mewakili berbagai elemen kehidupan.
Beberapa di antaranya meliputi Sanghyang Sampat, yaitu simbol pembersihan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang membuka rangkaian ritual di malam pertama. Sanghyang Lingga dan Sanghyang Bumbung mewakili konsep kesuburan.
Kemudian, Sanghyang Enjo-Enjo adalah simbol purusa (laki-laki) yang melambangkan kesuburan alam semesta. Serta Sanghyang Jangolan yang menggunakan simbol penyu sebagai bentuk pesan pelestarian alam laut.
Nama “Grodog” sendiri diambil dari suara kayu yang bergesekan dengan tanah (gradag-grodog) saat simbol-simbol yang disebut gegulak tersebut didorong, atau digerakkan di area Catus Pata (perempatan desa).
Sejarah Kebangkitan Setelah 29 Tahun “Tidur”
Baca Juga: Rahasia Eksistensi Suku Tengger: Antara Ritual Yadnya Kasada dan Harmoni Alam di Lereng Bromo
Eksistensi Aci Sanghyang Grodog sempat meredup dan tidak melaksanakannya selama kurang lebih 29 tahun sejak tahun 1984. Hal ini seiring dengan kesibukan masyarakat dalam budidaya rumput laut dan industri pariwisata.
Namun, berkat kegigihan tokoh pemuda I Wayan Swarbawa dan para pemuka adat, tradisi ini berhasil direkonstruksi kembali melalui penggalian lirik gending (nyanyian) selama delapan tahun.
Titik balik kebangkitan ritual ini terjadi pada tahun 2012. Kini disepakati untuk digelar setiap dua tahun sekali agar tidak berbenturan dengan upacara Pitra Yadnya (ngaben massal) yang jatuh pada bulan yang sama.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Komitmen masyarakat dalam melestarikan tradisi ini membuahkan hasil membanggakan. Pada tahun 2024, Aci Sanghyang Grodog ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Pengakuan ini menjadi tanggung jawab besar bagi generasi muda untuk terus mempelajari dan memahami makna ritualnya agar tidak hanya menjadi sekadar tontonan tahunan.
Baca Juga: Bakar Tongkang Riau, Tradisi Mengenang Kedatangan Leluhur Tionghoa
Pemerintah Kabupaten Klungkung mengapresiasi tinggi upaya pelestarian tradisi ini. Mengingat ritual yang berlangsung selama 11 hari itu kini menjadi daya tarik budaya yang memperkuat identitas Nusa Lembongan di mata dunia.
Dengan gotong royong seluruh lapisan masyarakat, mulai dari ibu-ibu sebagai juru gending hingga para pria yang menyiapkan perlengkapan, Aci Sanghyang Grodog tetap menjadi simbol harmoni yang menyatukan seluruh pulau. (R3/HR-Online/Editor: Eva)





