BerandaBerita TerbaruMenjelajahi Sejarah Tegal di Kampoeng Goetji 1930: Wisata Nostalgia Tanpa Listrik di...

Menjelajahi Sejarah Tegal di Kampoeng Goetji 1930: Wisata Nostalgia Tanpa Listrik di Lereng Slamet

Nuansa kejayaan masa lalu kini dapat dirasakan langsung oleh wisatawan di Kampoeng Goetji 1930. Penginapan ini menawarkan konsep unik "kembali ke masa lalu" dengan bangunan kayu bergaya klasik dan interior jadul.

Kabupaten Tegal kini menawarkan pengalaman wisata sejarah yang unik melalui Kampoeng Goetji 1930. Sebuah destinasi yang membawa pengunjung kembali ke atmosfer tahun 1930-an.

Terletak di lereng Gunung Slamet, kawasan tersebut menyajikan narasi sejarah yang mendalam. Mulai dari penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati, hingga kemajuan infrastruktur kolonial Belanda yang kini dikemas menjadi daya tarik wisata warisan (heritage tourism) bagi para pelancong.

Baca Juga: Desa Wisata Malasari Bogor, Liburan Paket Lengkap Seru Sambil Belajar

Sejarah wilayah Guci sendiri berakar dari masa Kerajaan Demak Bintoro. Legenda menyebutkan bahwa Sunan Gunung Jati mengutus muridnya membawa air dalam wadah guci untuk menyembuhkan wabah penyakit di Desa Keputihan.

ADVERTISEMENT

Desa tersebut kemudian berganti nama menjadi Desa Guci setelah munculnya mata air panas tanpa belerang. Hingga kini, warga masih melestarikan tradisi Ruwat Bumi sebagai bentuk syukur atas keberlanjutan alam di wilayahnya.

Keunikan Konsep Nostalgia Kolonial di Kampoeng Goetji 1930

Memasuki abad ke-20, Tegal tercatat sebagai wilayah penting dalam dokumen administratif Belanda (Memories van Overgave). Pada tahun 1930-an, kota ini merupakan pusat industri gula yang sibuk dengan keberadaan pabrik-pabrik besar seperti Tjomal dan Kemanglen.

Baca Juga: Menjelajahi Pesona Pecinan Ikonik di Indonesia: Jejak Sejarah dan Akulturasi Budaya

Selain itu, kecanggihan teknologi pada masa itu terbukti dengan berdirinya Menara Air “Waterleideng” tahun 1931. Menara ini mampu mengalirkan air tanpa mesin, hanya memanfaatkan sistem tekanan air dari dataran tinggi.

Nuansa kejayaan masa lalu tersebut kini dapat dirasakan langsung oleh wisatawan di Kampoeng Goetji 1930. Penginapan ini menawarkan konsep unik “kembali ke masa lalu” dengan bangunan kayu bergaya klasik dan interior jadul seperti radio antik.

Menariknya, lokasi ini sengaja tidak menyediakan aliran listrik untuk memberikan pengalaman otentik kehidupan pedesaan zaman kolonial. Pengunjung dapat menikmati suasana hening dan pemandangan kelap-kelip lampu kota dari ketinggian.

Perjalanan sejarah di Tegal juga kental dengan unsur mistis. Termasuk legenda Nyai Rantansari yang dipercaya menjaga wilayah utara Gunung Slamet.

Baca Juga: Liburan Keluarga di Pony Park Klaten, Wisata Edukasi Satwa yang Lagi Viral

Masyarakat setempat meyakini bahwa menjaga keseimbangan antara ritual budaya dan pelestarian alam adalah kunci utama untuk menghindari bencana.

Melalui kehadiran Kampoeng Goetji 1930, Tegal berhasil memposisikan daerahnya sebagai destinasi yang tidak hanya menyegarkan raga melalui air panasnya. Tetapi juga memperkaya wawasan sejarah bagi para pengunjungnya dalam atmosfer nostalgia yang kental. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

BERITA TERBARU