BerandaBerita TerbaruSitus Pasir Lulumpang, Jejak Punden Berundak Megalitik yang Tersembunyi di Garut

Situs Pasir Lulumpang, Jejak Punden Berundak Megalitik yang Tersembunyi di Garut

Situs Pasir Lulumpang juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata budaya. Akses menuju lokasi relatif mudah. Wisatawan dapat berkunjung dengan kendaraan hingga mendekati kawasan situs, kemudian berjalan kaki melalui jalan cor.

Situs Pasir Lulumpang merupakan salah satu peninggalan arkeologi penting di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Meski belum sepopuler situs-situs prasejarah lainnya, peninggalan memiliki punden berundak unik. Bahkan menjadi bukti krusial berkembangnya sistem kepercayaan masyarakat masa lampau.

Baca Juga: Sejarah Candi Gebang Peninggalan Mataram Kuno di Sleman

Keberadaannya memberikan gambaran mengenai kehidupan, budaya, serta praktik ritual yang pernah berlangsung di wilayah Priangan. Kawasan ini berdiri di atas perbukitan dan dikelilingi bentang alam berupa sungai hingga rawa. Kondisi geografis tersebut konon jadi alasan kuat daerahnya terpilih sebagai lokasi pembangunan kompleks punden berundak pada masa megalitik.

Sejarah Situs Pasir Lulumpang

Pasir Lulumpang berada di Kampung Cimareme, Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Dari pusat Kota Garut, perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan bermotor. Jalur utama melalui Leles dan kawasan wisata Situ Bagendit, kemudian berlanjut ke Desa Cimareme.

Pasir Lulumpang mulai terkenal di dunia arkeologi setelah masuk laporan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Tepatnya pada November 1993 silam. Sebelumnya lokasi tersebut belum pernah tercatat dalam inventaris peninggalan purbakala yang tersusun pada masa Hindia Belanda.

ADVERTISEMENT

Penemuan itu kemudian pemerintah tindaklanjuti bekerja sama dengan tim Balai Arkeologi Bandung pada tahun 1994 dan 1995. Secara geografis, situs ini berada di tepi timur laut Ranca Gabus. Terapit oleh beberapa aliran sungai yang bermuara ke Sungai Cimanuk. Di bagian barat laut tampak Gunung Haruman dan Gunung Kaledong yang menjadi lanskap alami.

Struktur Punden Berundak yang Unik

Keunikan utama dari Situs Pasir Lulumpang terletak pada keberadaan dua punden berundak dengan jumlah teras yang cukup banyak. Punden pertama memiliki 13 undakan atau teras yang tersusun dari batu-batu andesit. Menariknya, semua strukturnya membentang dengan orientasi timur-barat.

Baca Juga: Menggali Nilai Sejarah Candi Dukuh di Tepian Danau Rawapening Semarang

Pada teras paling atas terdapat dua buah lumpang serta susunan batu berbentuk menyerupai segitiga. Beberapa teras lainnya juga menyimpan lumpang batu. Sementara tembok-tembok teras terbangun menggunakan susunan batu yang sebagian besar masih bertahan. Meskipun ada beberapa bagian yang mengalami kerusakan akibat akar pohon dan faktor alam.

Sekitar 80 meter dari punden pertama terdapat Punden Berundak II yang terdiri atas sembilan teras. Bangunan ini juga menggunakan batu andesit sebagai material utama dengan ukuran yang lebih kecil. Keberadaan dua kompleks tersebut menunjukkan adanya perencanaan pembangunan yang cukup matang pada eranya.

Temuan Artefak dan Fungsi Ritual

Selain struktur punden, penelitian arkeologi juga menemukan berbagai artefak. Penemuan tersebut sekaligus memperkaya informasi mengenai aktivitas masyarakat masa lalu di Situs Pasir Lumpang. Temuan ini meliputi fragmen gerabah, fragmen besi, batu giling atau gandik, serta pecahan batu obsidian.

Namun, artefak yang paling menarik perhatian adalah keberadaan beberapa lumpang batu yang tersebar di sejumlah teras. Berbeda dengan banyak situs megalitik lain yang biasanya penuh menhir, lumpang-lumpang batu di Pasir Lulumpang konon memiliki fungsi simbolik. Khususnya dalam sistem religi masyarakat pendukungnya.

Para peneliti memperkirakan lumpang batu berguna sebagai media dalam pelaksanaan upacara penting. Seperti berkaitan dengan kesuburan, pertanian, atau ungkapan syukur atas hasil panen. Tradisi semacam ini memiliki kemiripan dengan sejumlah upacara adat masyarakat Sunda yang masih bertahan hingga sekarang. Misalnya saja Hajat Bumi, Seren Taun, maupun Ngalaksa.

Nilai Sejarah hingga Potensi Wisata Budaya

Sebagai salah satu peninggalan tradisi megalitik di Jawa Barat, Situs Pasir Lulumpang memiliki nilai sejarah tinggi. Kompleks punden berundak serta berbagai artefak memberikan gambaran mengenai perkembangan budaya, teknologi, bahkan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah di wilayah Garut.

Dari sisi pendidikan, situs ini dapat menjadi media pembelajaran mengenai sejarah, arkeologi dan kebudayaan Indonesia. Mahasiswa, pelajar, maupun peneliti dapat memanfaatkannya sebagai lokasi observasi lapangan. Terutama untuk memahami langsung berbagai karakter peninggalan megalitik.

Baca Juga: Situs Batu Congkrang Bogor, Peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran

Situs Pasir Lulumpang juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata budaya. Akses menuju lokasi relatif mudah. Wisatawan dapat berkunjung dengan kendaraan hingga mendekati kawasan situs, kemudian berjalan kaki melalui jalan cor. Saat ini sebagian besar kawasan Situs Pasir Lulumpang juga masyarakat manfaatkan sebagai lahan perkebunan. Meskipun demikian, struktur utama punden berundak masih utuh serta tertata. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU