harapanrakyat.com,- Pemprov Jabar berkomitmen menanggung penuh biaya pengobatan bagi masyarakat kurang mampu. Hal ini berlaku untuk masyarakat yang harus menjalani perawatan cuci darah secara berkala. Selain itu, kebijakan ini merespons langsung keluhan salah seorang warga yang kesulitan menanggung biaya transportasi medis menuju fasilitas kesehatan.
Baca juga: KDM Tegaskan Pembelajaran Daring Hanya Bagi Sekolah Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Dalam sebuah video, seorang pasien yang telah menjalani perawatan hemodialisis selama tiga tahun menyampaikan permohonan bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Selain itu, warga tersebut mengaku harus menjalani prosedur cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu seumur hidupnya.
“Pak Dedi, saya memohon bantuannya untuk ongkos transportasi cuci darah,” kata warga tersebut sambil menunjukkan bekas tusukan jarum medis di tangannya.
Dorong Gerakan Gotong Royong di Tingkat RT dan RW
Menanggapi aduan itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan, Pemprov Jawa Barat telah mengambil langkah cepat. Langkah ini dilakukan untuk menyelesaikan kendala yang dihadapi warga tersebut.
Dedi memahami bahwa pasien hemodialisis menghadapi beban ganda. Mereka menghadapi masalah baik dari segi fisik akibat penyakit maupun secara finansial karena kehilangan mata pencaharian.
“Orang yang cuci darah itu dua hal yang ada dalam pikirannya: satu menghadapi penyakitnya, dua menghadapi biaya keseharian dan biaya pergi ke cuci darah yang harus disiapkan,” kata Dedi, Kamis (10/9/2026).
Dedi pun meminta pengurus RT, RW, hingga tingkat kelurahan dan desa untuk mengaktifkan kembali gerakan gotong royong dana siaga. Hal ini sebagai solusi masalah transportasi pasien kurang mampu.
Ia mendorong masyarakat untuk bersuka rela mengumpulkan dana cadangan guna membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan medis darurat. Misalnya, “Setiap keluarga secara sukarela bisa menyimpan uang Rp1.000 sehari, kemudian disimpan di kas RT, di kas RW, atau di kas desa. Nanti masyarakat yang pergi berobat cuci darah dan sejenisnya itu bisa dibantu untuk ongkosnya,” ujarnya.
Dedi menilai sinergi antara swadaya masyarakat di tingkat tapak dan dukungan pemerintah daerah akan mempercepat penanganan masalah sosial kesehatan.
Sementara biaya transportasi diupayakan melalui dana siaga lokal, Pemprov Jawa Barat memastikan kesiapan anggaran untuk menanggung beban pengobatan utama para pasien. Ia juga menegaskan, “Kalau biaya pengobatannya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat Insyaallah akan menanggungnya,” tuturnya. (Reza/R6/HR-Online)





