harapanrakyat.com,- Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan perkembangan terkini mengenai Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Fase erupsi menerus yang sempat melanda kawasan perairan tersebut kini dinyatakan telah berakhir.
Baca juga: Aplikasi MAGMA Indonesia, Cara Praktis Memantau Aktivitas Gunung Api
Aktivitas vulkanik gunung api tersebut dilaporkan kembali pada karakter dasarnya. Gunung api ini memasuki fase letusan Strombolian dengan durasi dan amplitudo yang relatif singkat.
Karakter Anak Krakatau
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan gelombang erupsi menerus berlangsung sejak 4 September 2026. Gejolak vulkanik tersebut mulai mereda secara signifikan pada 6 September 2026. “Anak Krakatau sudah ke karakter yakni, fase Strombolian. Amplitudo erupsi tidak luas, tidak panjang, dan durasinya hanya sekian detik,” kata Lana di Bandung, Selasa (8/9/2026).
Lana membeberkan grafik penurunan getaran seismik terekam secara konsisten dari pos pengamatan. Tren penurunan intensitas ini teramati secara bertahap sejak 5 September 2026.
Kendati demikian, instrumen pemantau masih mencatat adanya getaran vulkanik berkekuatan rendah. Gejala ini dipicu oleh aktivitas pergerakan fluida magma di bawah permukaan.
Pada Selasa (8/9/2026), petugas mencatat delapan kali letusan kecil berdurasi 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dilaporkan hanya terkonsentrasi di area kawah dan sekitar lereng.
Badan Geologi juga mengevaluasi kekhawatiran masyarakat pesisir terkait potensi bahaya gelombang laut. Pihaknya memastikan kondisi saat ini sangat berbeda dari erupsi destruktif pada Desember 2018.
Hasil analisis deformasi terkini menunjukkan tidak ada indikasi pergeseran dinding kawah. Kondisi ini menepis risiko terjadinya longsoran lereng ke perairan Selat Sunda. Kepastian ketiadaan ancaman tsunami didukung oleh sinkronisasi data dari BMKG. BMKG mengonfirmasi tidak mendeteksi adanya anomali kenaikan muka air laut.
Baca juga: Polres Cimahi Bagikan Masker, Lindungi Warga dari Bahaya Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau
Penurunan intensitas sebaran kolom abu vulkanik memberikan dampak positif bagi sektor transportasi penerbangan. Aktivitas perekonomian masyarakat di kawasan pesisir juga mulai bergairah kembali.
“Notice to Airmen (NOTAM) keselamatan penerbangan sudah berstatus hijau/biru, Kementerian Perhubungan telah mengoperasionalkan beberapa bandara yang sempat terdampak. Nelayan di pesisir Selat Sunda sudah bisa beraktivitas kembali, tapi kami imbau tetap menggunakan masker serta pelindung mata guna menjaga dari paparan abu tipis,” ungkap Lana.
Meskipun situasi melandai, Badan Geologi tetap menetapkan status gunung api pada Level III Siaga. Rekomendasi radius aman ditetapkan sejauh tiga kilometer dari pusat kawah aktif. (Reza/R6/HR-Online)





