Perhelatan budaya terbesar di Kalimantan Timur, Festival Erau Adat Kutai kembali digelar di Tenggarong, Kutai Kartanegara, mulai 20 – 27 September 2026. Mengangkat tema “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya”, perayaan ini melambangkan filosofi bersatunya seorang pemimpin dengan seluruh masyarakatnya.
Istimewanya, gelaran tahun ini resmi terpilih masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, yakni daftar 100 agenda pariwisata unggulan tingkat nasional.
Masuknya Erau ke dalam KEN merupakan peluang besar untuk memperluas promosi budaya Kutai Kartanegara. Sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
Baca Juga: Ratusan Penari Meriahkan Festival Tari Tradisional Jaipongan di Karangkamulyan Ciamis
Menelusuri Sejarah dan Makna Filosofis Festival Erau Adat Kutai
Secara etimologi, istilah Erau dalam bahasa Kutai yaitu eroh, yang bermakna suasana ramai, riuh, dan penuh sukacita. Tradisi sakral ini memiliki akar sejarah panjang sejak abad ke-13. Berawal dari perayaan Tijak Tanah serta penobatan Raja Kutai Kartanegara pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti, di Kutai Lama.
Pada era Kerajaan hingga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pelaksanaan Erau setiap kali terjadi pengangkatan raja baru, maupun penganugerahan gelar bagi tokoh yang berjasa. Dalam perayaan tersebut, rakyat dari berbagai pelosok negeri datang membawa hasil bumi dan ternak untuk dinikmati bersama keluarga keraton.
Setelah sempat terhenti saat Kesultanan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tradisi ini kembali hidup pada tahun 1971 oleh Pemkab Kutai sebagai festival budaya tahunan yang masuk rangkaian peringatan hari jadi Kota Tenggarong.
Tahapan Ritual Sakral: Dari Pra-Erau hingga Pendirian Tiang Ayu
Rangkaian perhelatan Festival Erau Adat Kutai telah bergulir sejak pertengahan September 2026 melalui agenda pra-Erau. Seperti ziarah makam para Sultan, tradisi Besawai (prosesi komunikasi spiritual), Haul Jamak. Hingga pengarakan Titi Bende mengelilingi wilayah Tenggarong.
Baca Juga: Festival Fulan Fehan IV 2026: Pesona Tari Likurai dan Harmoni Persahabatan di Batas Negeri
Sebelum masuk ke acara utama, digelar ritual Menjamu Benua dengan menghantarkan 41 jenis kue basah dan sesajen ke tiga titik batas kota, Kepala Benua, Tengah Benua, dan Buntut Benua. Ritual ini sebagai bentuk pemberitahuan kepada penghuni alam gaib.
Persiapan tersebut berlanjut dengan ritual Merangin selama tiga malam berturut-turut di Serapo Belian dengan iringan musik kelentangan tanpa henti.
Puncak rangkaian adat dibuka dengan prosesi Mendirikan Tiang Ayu di Stinggil Keraton Kutai Kartanegara. Tiang berbahan kayu ulin lengkap dengan Tali Juwita dan kain Cinde ini berkaitan erat dengan pusaka Sangkoh Piatu milik raja pertama Kutai. Serta menjadi simbol mulainya prosesi adat selama sepekan.
Penyucian Sultan, Atraksi Seni, dan Pesta Rakyat
Selama Festival Erau Adat Kutai berlangsung, Sultan Kutai Kartanegara menjalani ritual penyucian diri yang disebut Beluluh oleh para dewa dan belian di Keraton/Museum Mulawarman. Kemudian pada malam harinya melaksanakan ritual Bepelas, yang mana Sultan mengelilingi Tiang Ayu dengan iringan irama gong upacara Gong Raden Galuh.
Selain sarat ritual sakral, beragam pertunjukan seni dan perayaan rakyat juga menyemarakan Festival Erau 2026 yang meliputi;
Seni Tari Keraton: Penampilan Tari Ganjur, Tari Topeng. Serta Tari Jepen (seperti Jepen Selamat Datang dan Jepen Kembang Serai) di Kedaton Kesultanan.
Baca Juga: Mulud Adat Bayan Lombok Masuk KEN 2026: Intip Keunikan Tradisi Leluhur yang Mendunia
Pesta Rakyat & Budaya: Lomba olahraga tradisional di kawasan Pulau Kumala, tradisi sarapan bersama Beseprah, Maulid Barzanji. Hingga pameran UMKM dan bazar di Stadion Rondong Demang.
Puncak Ritual Mengulur Naga dan Tradisi Belimbur
Ritual Mengulur Naga menandai puncak perhelatan Festival Erau Adat Kutai. Yakni pengarakan dua replika naga raksasa sepanjang 31,5 meter dengan sebutan Naga Laki dan Naga Bini, dari Keraton menuju Kutai Lama melalui Sungai Mahakam.
Replika berbahan kayu, rotan, dan bambu bertutup kain kuning ini merepresentasikan legenda sejarah kelahiran Raja Adji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Karang Melenu.
Setibanya di Kutai Lama, bagian kepala dan ekor naga dipisahkan untuk dibawa kembali ke Keraton. Sedangkan badannya dilarung (dilaboh) ke sungai. Bersamaan dengan itu, tokoh adat mengambil Air Tuli dari kawasan Jahitan Layar/Tepian Batu.
Air Tuli tersebut kemudian digunakan Sultan untuk membuka tradisi Belimbur, yaitu aksi saling menyiram air antarwarga yang melambangkan penyucian diri, permohonan keselamatan. Serta kebersihan dari pengaruh buruk.
Baca Juga: Menjaga Akar, Memeluk Zaman: Inovasi Pemuda di Penglipuran Village Festival XIII
Kajian akademis mencatat Belimbur sebagai ritus liminal yang mempererat solidaritas sosial. Sehingga memerlukan sinergi aturan agar nilai kesucian tradisinya tetap terjaga di tengah antusiasme wisatawan.
Seluruh rangkaian perhelatan budaya ini berakhir dengan prosesi Merebahkan Tiang Ayu, yang menandai purnanya Festival Adat Erau Kutai dengan sempurna. (R3/HR-Online/Editor: Eva)





