Perhelatan budaya kolosal Gandrung Sewu Banyuwangi akan kembali menyapa para pecinta seni dan wisatawan pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di pesisir Pantai Marina Boom, Banyuwangi.
Festival yang kembali berhasil masuk dalam jajaran kalender bergengsi Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata RI ini siap memberikan terobosan baru yang spektakuler.
Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun sejarah penyelenggaraannya, pertunjukan tari kolosal ini berlangsung pada malam hari melalui kolaborasi bersama BUMN pariwisata InJourney. Memadukan keanggunan seni tradisi dengan tata cahaya modern dan teknologi visual.
Baca Juga: Masjid Endan Andansih Purwakarta, Hadirkan Arsitektur Megah dan Berbagai Fasilitas
Filosofi Kembang Dermo dalam Gandrung Sewu Banyuwangi 2026
Penyelenggaraan tahun ini mengusung tema Kembang Dermo, sebuah narasi sakral yang diadaptasi dari tradisi pemujaan Seblang di Desa Olehsari. Menggunakan simbol Rangkaian Bunga Kenanga dan Kantil, Kembang Dermo melambangkan nilai ketulusan, keikhlasan, perlindungan. Serta permohonan keberkahan hidup.
Sebagai wujud penjiwaan adat, tim kreatif Patih Senawangi bersama para budayawan telah mengawali prosesi pementasan dengan berziarah dan memohon doa di makam leluhur Seblang Olehsari, agar pertunjukan tetap selaras dengan norma kebudayaan lokal.
Dari kacamata filosofi hierarki nilai Max Scheler, pertunjukan tarian kolosal ini mengandung empat tingkatan nilai spiritual dan sosial. Yakni, nilai kesenangan melalui harmoni sajian gerak dan musik, nilai vitalitas dalam kebersamaan lintas generasi penari. Kemudian, nilai spiritual estetis yang mengangkat sejarah Blambangan. Serta nilai tertinggi (kesucian) sebagai ekspresi rasa syukur masyarakat agraris atas keberkahan alam kepada Sang Pencipta.
Dalam lintasan sejarah dan nilai lokalnya, persiapan Gandrung Sewu Banyuwangi 2026 juga membawa rekam jejak akulturasi budaya yang sangat kaya.
Tari Gandrung awalnya lahir sebagai ritual pasca-panen penghormatan kepada Dewi Sri dan ditarikan oleh laki-laki (Gandrung Lanang), sebelum akhirnya bergeser ke penari perempuan pertama bernama Semi pada awal abad ke-20.
Kesenian ini juga sempat menjadi media perjuangan dan mata-mata rakyat Blambangan melawan kolonial VOC. Namun vakum pasca-peristiwa politik 1965 dan pemerintah merevitalisasi pada 1974.
Setiap elemen busana penari sarat makna nonverbal, yang mana mahkota omprog berhias ornamen Antasena melambangkan warisan budaya yang tak terputus. Geter (cundhuk mentul) pengetar jiwa, ornamen kaca penolak bahaya.
Nilai Spiritual Estetis
Baca Juga: Menikmati Ramayana Ballet 2026: Pesona Magis Pertunjukan Seni Budaya Jawa di Yogyakarta
Kemudian, sewek batik motif Gajah Oling sebagai simbol pengingat Sang Pencipta, kaos kaki putih penanda kesakralan. Serta bendera oncer merah putih penegas identitas NKRI.
Ragam gerak selendang seperti nantang, ngumbul, ngiplas, ngebyar, ngiwir, hingga nimpah menjadi simbol atraktif ketangkasan serta strategi perjuangan.
Seiring berkembangnya ajaran Islam sebagai mayoritas di Banyuwangi, kesenian tersebut mengalami akulturasi organik secara harmonis. Hal ini ditandai penggunaan manset dan kerudung penutup aurat, gerakan tubuh dan tempo yang lebih santun. Hingga penyelipan tembang Islami seperti Tombo Ati, Santri Mulih, dan sholawat dalam pementasannya.
Seleksi Ketat Penari dan Dampak Berkelanjutan Bagi Ekonomi Daerah
Guna menyajikan penampilan memukau, Paguyuban Pelatih Tari dan Seniman Banyuwangi (Patih Senawangi) menggelar seleksi ketat bergilir di sembilan zona kecamatan.
Audisi diawali di Sektor Banyuwangi Kota yang diikuti sekitar 500 penari muda. Dari ribuan pendaftar mulai jenjang SD hingga SMA, terpilih lebih dari 1.000 penari berbakat.
Mereka dipersiapkan membawakan formasi tari berunsur materi fosfor menyala di bawah pendar tata cahaya malam Pantai Marina Boom. Kehadiran konsep pertunjukan malam hari ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual seamless experience bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Tetapi juga terbukti menggerakkan roda ekonomi lokal.
Baca Juga: Pinus Ecopark Bogor, Camping Ground View Kebun Teh hingga Curug
Penyelenggaraan festival budaya ini memberikan multiplier effect nyata bagi sektor pariwisata. Mulai dari lonjakan pesanan UMKM pengrajin batik Gajah Oling dan pernak-pernik omprog, okupansi penuh homestay dan hotel. Hingga meningkatnya pendapatan penyedia jasa transportasi serta kuliner khas daerah.
Secara keseluruhan, gelaran Gandrung Sewu Banyuwangi 2026 tidak sekadar menjadi ajang hiburan visual masa kini. Tetapi juga sebagai sarana edukasi kebudayaan, konsolidasi sosial generasi muda. Sekaligus bukti nyata ketahanan budaya Nusantara yang adaptif terhadap zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. (Eva/R3/HR-Online)





