harapanrakyat.com,- Perayaan tradisi khataman Al Quran menjadi wujud ekspresi rasa syukur masyarakat Muslim Nusantara atas keberhasilan anak-anak menyelesaikan membaca kitab suci. Tradisi keagamaan ini dilaksanakan secara meriah di berbagai wilayah sebagai bentuk apresiasi tinggi atas pencapaian spiritual para santri. Selain menjadi wujud kegembiraan keluarga, perayaan ini juga berfungsi sebagai media syiar Islam dan pemantik motivasi belajar mengaji harian.
Baca juga: Sejarah, Nilai Tradisi, dan Perkembangan Kesenian Barongan di Jawa
Pelaksanaan prosesi keagamaan ini pada dasarnya berakar dari institusi pendidikan tradisional seperti masjid, musala, hingga langgar di desa-desa. Setiap suku bangsa di Indonesia mengembangkan tata cara unik yang memadukan nilai-nilai ajaran Islam dengan kearifan lokal setempat. Akulturasi budaya tersebut menciptakan kekayaan warisan takbenda yang terus diwariskan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan.
Meskipun istilah dan tata caranya berbeda, esensi utama perayaan ini tetap berfokus pada bentuk penghormatan terhadap kitab suci Al Quran. Orang tua siswa rela mengalokasikan sumber daya dana yang cukup besar demi merayakan kelulusan membaca Al Quran anak-anak mereka. Perayaan ini sekaligus mengukuhkan nilai gotong royong serta mempererat tali silaturahmi antarwarga di dalam lingkungan masyarakat.
Ragam Ekspresi Budaya dan Ritus Tradisi Khataman Al Quran di Indonesia
Berbagai wilayah di Indonesia mengenal perayaan keagamaan ini dengan penamaan lokal yang memiliki karakteristik serta keunikan masing-masing. Di Sumatra Barat, masyarakat Minangkabau menyelenggarakannya melalui perayaan alek katam kaji yang dilengkapi pawai serta pesta syukuran mando’a. Sementara itu, Suku Melayu di Pangkalan Lesung Riau menyelenggarakan tradisi khatam kaji sebelum prosesi akad nikah.
Baca juga: Mengenal Abid Banaspati dari Kota Banjar, Seni Permainan Api yang Masih Lestari
Masyarakat Madura menyebut perayaan keagamaan ini sebagai hataman Al Quran yang diintegrasikan dengan tradisi lokal aparloh, nyalase, dan jheren kencak. Anak-anak yang telah khatam diarak mengelilingi desa menunggangi kuda menari dengan iringan gemuruh musik hadrah atau drumband. Di Kebumen Jawa Tengah, tradisi kuda menari juga diselenggarakan secara meriah bersamaan dengan peringatan hari besar Islam.
Suku Mandar di Sulawesi Barat merayakannya melalui Mappatammaq Al Quran yang menampilkan arak-arakan kuda pattu’duq setelah melewati tahapan marratasi. Di Kalimantan Selatan, suku Banjar mengenal istilah batamat Al Quran yang kerap digelar secara massal diiringi kesenian hadrah. Adapun masyarakat Konawe Kepulauan di Sulawesi Tenggara melestarikannya melalui tradisi hatamua yang diisi pelantunan syair marhaban.
Prosesi Ritual dan Keunikan Busana Peserta Khataman
Prosesi inti perayaan ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh para peserta di hadapan khalayak umum. Pembacaan biasanya dimulai dari Surah Ad-Duha hingga Surah An-Nas, lalu ditutup dengan pembacaan doa khotmil Al Quran. Pengasuh mengaji atau kiai menguji kefasihan bacaan santri guna memastikan kelayakan mereka menyandang status khatam.
Baca juga: Sejarah Pondok Pesantren Al Hamdaniyah, Tempat KH Hasyim Asy’ari Menuntut Ilmu
Peserta khataman umumnya dihias dengan busana khusus yang mencerminkan simbol-simbol keagamaan serta bentuk penghormatan pada kitab suci. Anak laki-laki sering kali mengenakan pakaian ala haji lengkap dengan jubah panjang dan surban penutup kepala. Sedangkan anak perempuan dipakaikan baju adat daerah atau gaun panjang berkerudung yang dihiasi beragam perhiasan cantik.
Kegiatan arak-arakan keliling kampung menjadi momen yang paling ditunggu oleh masyarakat serta sanak kerabat peserta khataman. Penumpang kuda atau kendaraan hias disambut meriah oleh warga yang berjejer di sepanjang alur jalan desa. Pawai ini memberikan rasa kebanggaan tersendiri bagi anak sekaligus memotivasi anak-anak lain agar makin giat mengaji.
Pergeseran Nilai, Tantangan Modernisasi, dan Upaya Pelestarian
Seiring berjalannya waktu, perayaan keagamaan ini menghadapi tantangan serius berupa peningkatan biaya operasional serta gejala komodifikasi. Di beberapa daerah, biaya penyewaan kuda, dekorasi koadi, hingga grup musik menuntut alokasi anggaran yang sangat besar. Fenomena tersebut berisiko menggeser esensi kesederhanaan serta keikhlasan yang menjadi nilai utama ajaran Al Quran.
Baca juga: Kesenian Wayang Thengul, Pertunjukan Tradisional unik dan Warisan Budaya Khas Bojonegoro
Tantangan lain muncul dari derasnya arus digitalisasi dan gawai pintar yang mengikis minat anak-anak mengaji di musala. Namun, masyarakat desa terbukti memiliki ketahanan budaya yang kuat dalam merawat tradisi keagamaan warisan leluhur mereka. Pemerintah daerah bersama akademisi kini gencar mengajukan perayaan ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia secara resmi.
Pelestarian secara konsisten membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal dapat saling menguatkan secara harmonis. Keterlibatan aktif masyarakat, kiai, dan pemerintah menjadi kunci utama keberlanjutan tradisi khataman Al Quran di era modern. Dengan menjaga kesucian esensinya, warisan budaya religius ini akan terus menginspirasi generasi muda di seluruh Nusantara. (Muhafid/R6/HR-Online)





