harapanrakyat.com,- Tumpukan sampah yang terus menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir, Kota Tasikmalaya, menjadi ruang belajar terbuka bagi puluhan mahasiswa STAI Al Hidayah Tasikmalaya. Minggu (27/9/2026), mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Organisasi Mahasiswa (Ormawa), serta mahasiswa baru angkatan 2026 turun langsung ke kawasan TPA Ciangir.
Bukan sekadar kunjungan, kegiatan tersebut dikemas sebagai studi lapangan berbasis lingkungan untuk melihat dari dekat persoalan sampah. Sekaligus juga, memahami dampak pencemaran yang ditimbulkan.
Pantauan di lapangan, para mahasiswa memulai penelusuran dengan mengelilingi area timbunan sampah yang kian menggunung. Rombongan kemudian melangkah menuju zona bawah untuk melihat kolam penampungan air lindi. Kemudian, meninjau bekas fasilitas pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berada di area TPA Ciangir. Setelah itu para mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan berdiskusi.
​Presiden Mahasiswa DEMA STAI Al Hidayah Tasikmalaya, Azmi mengungkapkan, kegiatan ini merupakan bagian dari agenda pasca Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastawa). Acara ini melibatkan jajaran mahasiswa baru serta perwakilan elemen Ormawa kampus.
​”Kegiatan dimulai dari check-in, briefing, lalu dilanjutkan dengan eksplorasi TPA Ciangir. Didampingi petugas lapangan, kami diarahkan dan mendapat penjelasan mengenai sejarah, alur pengelolaan, hingga kondisi terkini TPA Ciangir yang sangat membutuhkan perhatian khusus,” ungkap Azmi kepada awak media, Minggu (27/9/2026).
Baca Juga: KAMMI Tasikmalaya Usulkan Kereta Api Lokal Priangan Timur
Mahasiswa STAI Al Hidayah Tasikmalaya Temui Penggiat Lingkungan
​Usai memantau area TPA, rombongan mahasiswa bergeser ke salah satu madrasah di sekitar lokasi TPA. Madrasah tersebut menjadi salah satu titik yang turut terdampak pencemaran limbah dari kawasan TPA Ciangir.
Di lokasi itu, mereka menggelar forum silaturahmi dan diskusi bersama penggiat lingkungan. ​”Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meningkatkan kepekaan terhadap pencemaran lingkungan di Ciangir. Sekaligus juga langkah awal mengkolektifkan gerakan menuju keberlangsungan lingkungan yang lestari,” jelasnya.
​Azmi menjelaskan, kegiatan ini lahir dari grand design DEMA STAI Al Hidayah Tasikmalaya. Pihaknya bertekad mengembalikan identitas mahasiswa agar lebih peka terhadap isu-isu fundamental.
Konsep tersebut kemudian dihubungkan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini menargetkan tumbuhnya kepedulian lingkungan di kalangan mahasiswa baru maupun mahasiswa tingkat akhir.
​”Output selanjutnya dari kegiatan ini akan dijadikan bahan diskursus mahasiswa. Harapannya, melahirkan gagasan sistem pengolahan sampah berkelanjutan untuk diterapkan di lingkungan kampus,” tambahnya.
Azmi menilai cara paling konkret untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan, adalah memperlihatkan persoalan tersebut secara langsung kepada mahasiswa.
​​”Langkah konkret untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan adalah menyuguhkan realita secara langsung. Bagaimana kondisi gunungan sampah serta dampak pencemaran yang timbul, akibat pola konsumsi dan pembuangan sampah masyarakat,” ungkap Azmi.
​Guna mengurai benang kusut permasalahan sampah di Kota Tasikmalaya, mahasiswa STAI Al Hidayah menyodorkan tiga formulasi strategis yang harus segera direalisasikan oleh pemangku kebijakan.
Baca Juga: Unsil Digitalisasi Situs Prasejarah Ciamis, Gua Aul dan Citapen Diduga Satu Lanskap Budaya
Pertama, penegakan regulasi yang ketat terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan. Kedua, masifnya sosialisasi dan penyuluhan edukasi lingkungan kepada masyarakat serta lembaga pendidikan. “Ketiga, penyediaan fasilitas teknologi pengelolaan sampah yang modern dan ramah lingkungan,” pungkasnya. (Rafi/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)





