BerandaBerita TerbaruMajalah Bintang Merah dan Sejarah Penerbitannya pada Masa PKI

Majalah Bintang Merah dan Sejarah Penerbitannya pada Masa PKI

Setelah beberapa tahun vakum, Majalah Bintang Merah kembali muncul ketika situasi politik mulai berubah. Pada 15 Agustus 1950, majalah tersebut terbit lagi. Edisi baru itu melibatkan sejumlah tokoh muda PKI. Termasuk tokoh populer seperti D.N. Aidit, M.H. Lukman, Njoto, dan Peris Pardede.

Majalah Bintang Merah merupakan bagian penting dalam sejarah PKI yang cukup jarang dibahas. Pada masa itu, majalah sekelas Bintang Merah menjadi sarana menyebarkan gagasan, membentuk perdebatan serta memperkenalkan garis pemikiran organisasi. Nama-nama tokoh seperti D.N. Aidit, M.H. Lukman, Njoto dan Peris Pardede muncul di jajaran redaksi.

Baca Juga: Peristiwa Tiga Selatan, Jejak Pertentangan Soekarno, PKI dan TNI AD

Keberadaan Bintang Merah memperlihatkan bagaimana partai membangun media guna menyampaikan arah politik sekaligus teori kepada pembacanya. Sebagai majalah terkemuka pada masanya, media ini ikut serta mengikuti perubahan politik serta pers di Negara Indonesia. Mari kita bahas lebih detail.

Majalah Bintang Merah Sebagai Media Politik PKI yang Terbit Sejak 1945

Kemunculan Bintang Merah tidak bisa lepas dari perubahan politik pasca Indonesia merdeka. Majalahnya hadir tepat ketika pers menjadi salah satu ruang penting untuk menyampaikan gagasan politik. Adapun penerbitan perdananya berlangsung pada bulan November 1945. Sekitar 3 bulan dari kemerdekaan RI.

Kala itu, Indonesia terus menghadapi berbagai persoalan. Pers masyarakat gunakan sebagai alat komunikasi politik yang cukup krusial. Bintang Merah sendiri memperkuat diri sebagai media yang menyampaikan pemikiran PKI. Khususnya melalui tulisan politik dan teori dari para tim redaksi.

ADVERTISEMENT

Penerbitannya kemudian mengalami perubahan akibat perkembangan politik nasional. Sekitar 1948, Bintang Merah termasuk media yang dibredel. Tepatnya ketika Peristiwa Madiun gempar. Pelarangan tersebut juga menimpa sejumlah media lain yang berkaitan dengan kelompok komunis.  Akhirnya Bintang Merah memasuki masa berhenti terbit.

Sempat Bangkit Kembali

Setelah beberapa tahun vakum, Majalah Bintang Merah kembali muncul ketika situasi politik mulai berubah. Pada 15 Agustus 1950, majalah tersebut terbit lagi. Edisi baru itu melibatkan sejumlah tokoh muda PKI. Termasuk tokoh populer seperti D.N. Aidit, M.H. Lukman, Njoto, dan Peris Pardede.

Baca Juga: Gerwani di Era PKI dari Aktivitas Sosial hingga Kontroversi

Kemunculan kembali Bintang Merah memiliki arti penting bagi perkembangan internal PKI. Aidit dan Lukman menjadi bagian dari generasi yang berusaha membangun kembali organisasi setelah pukulan politik pada 1948. Pemikiran kelompok tersebut tersebar melalui berita-berita yang tim redaksi publikasikan lewat majalah.

Pada masa berikutnya, D.N. Aidit berkembang menjadi salah satu tokoh utama PKI. M.H. Lukman dan Njoto juga menempati posisi penting dalam kepemimpinan partai kiri. Itulah mengapa, sejarah Bintang Merah sekaligus bersinggungan dengan proses munculnya generasi baru dalam kepemimpinan PKI.

Oplah dan Redaksi

Pada awal dekade 1950-an, Majalah Bintang Merah masih memiliki pembaca dalam jumlah cukup besar. Sejumlah catatan sejarah mengklaim oplah sekitar 10.000 eksemplar pada akhir 1950. Angka itu kemudian menurun menjadi kurang dari 8.000 pada 1953. Pada periode yang sama, kompetitornya, yakni Harian Rakjat berkembang dengan oplah lebih besar.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa format media turut menentukan jangkauan pembaca. Majalah dengan tulisan teori serta politik memiliki karakter berbeda dari surat kabar harian. Bintang Merah pun lebih banyak menyediakan ruang untuk pembahasan ideologi sekaligus pemikiran politik.

Katalog bibliografis Cornell juga mencatat Bintang Merah sebagai general policy paper yang diterbitkan secara berkala. Sebagian masyarakat mungkin tidak merasa memiliki kebutuhan untuk membaca media yang fokus pada gagasan dan teori PKI. Mereka kemudian memilih berpindah ke media lain yang menawarkan sudut pandang politik berbeda atau informasi yang lebih beragam.

Akhir dari Eksistensi Bintang Merah

Perjalanan Majalah Bintang Merah kemudian memasuki periode akhir ketika situasi politik Indonesia berubah drastis pada 1965. Setelah PKI dilarang pasca-Gerakan 30 September, penerbitan yang berkaitan dengan partai tersebut ikut berakhir. Berakhirnya Bintang Merah juga menutup salah satu babak dalam sejarah pers politik Indonesia.

Setelah itu, ruang penerbitan bagi media yang berkaitan dengan PKI tidak lagi tersedia seperti sebelumnya. Sejumlah tokoh yang terhubung dengan organisasi dan jaringan PKI mengalami penangkapan, penahanan, hingga hukuman. Kondisi tersebut turut mengakhiri aktivitas berbagai media yang sebelumnya menjadi sarana penyebaran gagasan politik dan kebudayaan kiri.

D.N. Aidit juga mengalami nasib serupa dalam rangkaian penindakan setelah G30S. Setelah berpindah dari Jakarta ke sejumlah daerah, Aidit akhirnya tertangkap di Jawa Tengah pada November 1965. Ia kemudian ditembak mati oleh pasukan di bawah pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto.

Baca Juga: Bismarck Oloan Hutapea, Tim Politbiro PKI Kepercayaan DN Aidit

Jejak Majalah Bintang Merah menunjukkan bahwa pers sejak dulu telah menjadi bagian dari dinamika politik suatu negara. Keberadaan Majalah Bintang Merah juga memperlihatkan eratnya hubungan antara perkembangan organisasi, gagasan dan ruang publik pada zamannya. Sejarah mengenai media ini kerap dibahas oleh segelintir sejarawan jelang peringatan G30S. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU