Keberadaan Makam Ki Bagus Jabin di Cikampek Pusaka, Kecamatan Cikampek menyimpan nilai sejarah yang begitu menarik. Meskipun sosok pejuang tersebut sudah meninggal sejak puluhan tahun silam, makamnya hingga kini masih menjadi tempat yang memberikan manfaat dari sisi edukasi dan sejarah. Keberadaan makam menjadi pengingat terhadap perjuangannya dalam menghadapi penindasan dari pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.
Baca Juga: Makam Syekh Musa Cianjur, Jejak Ulama Kharismatik yang Dekat dengan Tokoh Nasional
Menilik Makam Ki Bagus Jabin dan Sejarah Perjuangannya pada Masa Kolonial
Sosok pejuang seperti Ki Bagus Jabin mungkin tidak setenar pahlawan nasional lain. Tetapi, sejarah mencatat sosoknya sebagai pemuda tangguh dan gigih menjadi tanda perlawanan rakyat dari pesisir utaranya Jawa Barat pada kolonial Belanda. Ia sendiri merupakan ulama muda yang karismatik dalam melanjutkan jejak perjuangannya Ki Bagus Rangin.
Juru Pelihara Makam Raden Kramawangsa atau Ki Bagus Jabin, Megan Fahlevi menyebutkan bahwa perjuangan Ki Bagus dalam menghadapi pemerintah Belanda memiliki catatan penting. Strategi yang digunakannya dulu mampu menghambat dan mengusik stabilitas pemerintah kolonial Belanda pada masa itu. Bahkan, pemerintah Belanda sempat mengalami kesulitan dalam menghadapi pola perjuangan yang diterapkan oleh Ki Bagus Jabin.
Kompleks dan Bangunan Makam
Makam Ki Bagus Jabin berada di tengah kawasan pemakaman umum di Cikampek Pusaka di Karawang. Lokasi makamnya ini berada di dalam bangunan khusus yang juga menjadi area ziarah serta pusat kegiatan keagamaan dari masyarakat setempat. Pada waktu-waktu tertentu, seperti malam Jumat serta bulan Maulid dan Sya’ban, makam tersebut ramai dikunjungi peziarah.
Sebagai informasi, bangunan makam terdiri dari beberapa bagian. Hal ini termasuk ruangan utama tempat jasad Ki Bagus Jabin dimakamkan. Makam tersebut terlindungi kelambu putih dengan jirat yang terbuat dari kayu jati dan tersusun dalam tiga lapisan. Nisan makam berbentuk floral, berhiaskan ukiran geometris dan bunga timbul dengan tinggi kurang lebih 1 meter.
Baca Juga: Makam Syekh Bentong, Ikon Ziarah Bersejarah di Karawang
Selain area makam utama, bangunan tersebut juga menjadi pusara bagi juru kunci, keluarga dan tokoh penting bernama Buyut Sepuh I atau Panglebar Buana. Ia merupakan tangan kanan sekaligus juru kunci pertama setelah Ki Bagus Jabin wafat.
Kini, Makam Ki Bagus Jabin menjadi salah satu tempat spiritual dan pusat budaya bagi masyarakat Karawang. Selain sebagai lokasi ziarah, area pemakaman juga seringkali menjadi tempat untuk melaksanakan ritual adat. Misalnya syukuran, hajat bumi dan kegiatan keagamaan lainnya. Bahkan, tak sedikit peziarah yang memutuskan untuk melakukan tawasulan dengan menginap di ruang ziarah khusus.
Jejak Perjuangan Ki Bagus Jabin
Ki Bagus Jabin merupakan salah satu keturunan bangsawannya Kasepuhan Cirebon dengan nama asli Raden Kramawangsa. Ia masih terikat saudara dengan Ki Bagus Rangin, sosok ulama yang pimpin pemberontakan besar melawan pemerintah Belanda saat awal 1800-an. Perlawanan rakyat kala itu sempat terhenti setelah Ki Bagus Rangin tertangkap pada tahun 1812.
Pada 8 Desember 1816, perlawanan rakyat kembali berkobar di bawah pimpinan seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Bagus Jabin. Kala itu, ia memimpin sekitar 2.500 pasukan dari wilayah Karawang, Pamanukan dan Ciasem untuk bangkit melawan penindasan pemerintah Belanda.
Kemudian, Ki Bagus Jabin dan pasukannya menyerbu area Kandanghaur sebagai kawasan pemerintahan lokal yang kala itu pro Belanda. Sergapan mengerikan tersebut mendorong W.N. Servatius, Residen Cirebon, memutuskan kerahkan pasukan gabungan untuk mengepung Kandanghaur. Di antaranya dari Priangan, Jateng sampai dengan Solo. Pertempuran pun tidak bisa terhindarkan.
Pada masa itu, Ki Bagus Jabin sempat menggempur kawasan Indramayu. Namun, kekuatan Belanda yang jauh lebih besar membuat pasukannya terdesak, lalu terkepung di Sungai Cimanuk. Hal tersebut membuat 500 orang tertangkap dan sebanyak 60 orang tewas.
Keberadaan Makam Mendorong Aktivitas Ekonomi Masyarakat
Bagi masyarakat, keberadaan makam memberikan sisi manfaat yang begitu besar. Tanpa disadari, perekonomian masyarakat sedikit terbantu karena makam tersebut menjadi salah satu destinasi wisata di Karawang. Masyarakat memanfaatkan tempatnya yang adem dengan pepohonan rindang untuk menambah perekonomian dengan berjualan.
Baca Juga: Makam Imogiri Bantul, Peristirahatan Terakhir Para Raja Mataram Islam
Keberadaan Makam Ki Bagus Jabin turut menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian antarmasyarakat. Setelah pengunjung selesai memberikan sesajen berupa tumpeng, bakakak dan buah-buahan, biasanya makanan tersebut dibagikan kepada warga sekitar untuk dinikmati bersama. Tradisi di area Makam Ki Bagus Jabin tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus mempererat kekompakan masyarakat di sekitarnya. (R10/HR-Online)





