BerandaBerita TerbaruMenjaga Taksu Leluhur: Ketulusan Krama Bali dalam Ritual Ngetus Ida Betara Tapakan

Menjaga Taksu Leluhur: Ketulusan Krama Bali dalam Ritual Ngetus Ida Betara Tapakan

tradisi ngetus Ida Betara Tapakan bukan sekadar pemisahan fisik instrumen ritual. Tetapi juga manifestasi ketulusan (lascarya) dan rasa bakti umat Hindu Bali dalam menjaga kesucian serta keberlanjutan taksu peninggalan leluhur.

harapanrakyat.com,- Dalam tradisi keagamaan masyarakat Hindu di Bali, pelaksanaan ngetus Ida Betara Tapakan merupakan tahap awal yang sangat sakral ketika masyarakat (krama) hendak melakukan pemugaran, perbaikan (ngodak). Atau penyucian ulang terhadap pelawatan suci Barong maupun Rangda.

Secara filosofis dan teknis ritual, ngetus ditujukan untuk memisahkan bagian topeng (punggalan atau prarai) dari kerangka badannya (raga). Sebelum pemisahan fisik tersebut dikerjakan oleh undagi (seniman ukir sakral), kekuatan spiritual atau suksma kedewataan yang berstana di dalam pratima, dipindahkan secara gaib untuk sementara waktu ke dalam sarana upakara khusus yang disebut tapakan.

Prosesi pemisahan ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan wajib diawali dengan ritual nyanjan dan pulepas/prayascita guna memohon petunjuk niskala. Serta mensucikan bahan dari noda sekala maupun niskala.

Baca Juga: Keberagaman dan Nilai Spiritual dalam Tradisi Khataman Al Quran di Nusantara

Bahan baku tapel sendiri umumnya diperoleh melalui pencarian kayu khusus (nunas taru) seperti kayu pule, kepuh, atau kepah. Pemungutan kayu dilakukan melalui teknik ngepel, yaitu mengambil bagian kayu tanpa merobohkan pohon induknya pada hari baik (dewasa ayu). Seperti hari Tilem atau Sasih Kasa, Karo, dan Sada.

ADVERTISEMENT

Bahkan di tempat tertentu, seperti Pura Dalem Gede Sayan Ubud, elemen sakral Barong menggunakan kombinasi material unik berupa bulu burung kokokan yang dikumpulkan saat fase rontok alami (ngurag).

Rangkaian Ritual setelah Ngetus Ida Betara Tapakan

Transisi spiritual setelah pelaksanaan ngetus Ida Betara Tapakan dilanjutkan dengan prosesi ngodak (pemulihan fisik) dan ngatep atau ngaratep. Yaitu menyatukan kembali topeng (punggalan) dengan kerangka badan (raga) Sasuhunan setelah seluruh pengerjaan ukiran, perakitan, dan pengecatan dinyatakan rampung.

Baca Juga: Menikmati Ramayana Ballet 2026: Pesona Magis Pertunjukan Seni Budaya Jawa di Yogyakarta

Setelah keduanyanya kembali utuh, dilangsungkan upacara melaspas, memakuh, mepengurip-urip, dan pasupati. Upacara ini untuk menghidupkan kembali elemen spiritual serta memohon kekuatan dari Dewa Siwa.

Puncak kebangkitan energi gaib Sasuhunan dilaksanakan melalui ritual ngereh atau nyambleh. Lokasinya di pura atau area kuburan (setra/tanah pamuunan) pada tengah malam di hari keramat seperti Kajeng Kliwon atau Tilem.

Dalam suasana magis tersebut, pengereh bersemedi mengheningkan pikiran untuk memohon urip dan kesaktian dari Sang Hyang Bherawi serta Banaspati Raja.

Keberhasilan ritual ini ditandai dengan fenomena gaib berupa hadirnya seberkas sinar/bola api (cakra geni) yang jatuh mengenai Sasuhunan, menjulurnya lidah petapakan. Hingga terjadinya peristiwa trance (karauhan) atau Barong yang bergerak secara mandiri.

Rangkaian ritual ini menegaskan kedudukan Barong dan Rangda bukan sekadar benda seni profan, melainkan manifestasi ketuhanan dalam konsep Rwa Bhineda.

Baca Juga: Festival Erau Adat Kutai 2026: Sejarah, Rangkaian Ritual Sakral, dan Kebangkitan Ekonomi Kreatif Kukar

Barong sebagai simbol Banaspati Raja (perwujudan Dewa Siwa). Sedangkan Rangda sebagai manifestasi Bhatari Durga (sakti Dewa Siwa) hadir menjaga keseimbangan alam. Sekaligus juga melindungi masyarakat penyungsungnya dari marabahaya (pengeruwatan/penolak bala).

Oleh sebab itu, tradisi ngetus Ida Betara Tapakan bukan sekadar pemisahan fisik instrumen ritual. Tetapi juga manifestasi ketulusan (lascarya) dan rasa bakti umat Hindu Bali dalam menjaga kesucian serta keberlanjutan taksu peninggalan leluhur. (Eva/R3/HR-Online)

BERITA TERBARU