BerandaBerita TerbaruMuseum Sasmitaloka Ahmad Yani, Simpan Jejak Sejarah Peristiwa Pemberontakan 1965

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Simpan Jejak Sejarah Peristiwa Pemberontakan 1965

Apabila datang ke Museum Sasmitaloka Ahmad Yani bersama rombongan, tim pengelola meminta adanya surat pemberitahuan. Ketentuan tersebut membantu pihak Museum Sasmitaloka Ahmad Yani mengatur kunjungan.

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani menjadi salah satu tempat bersejarah di Tanah Air. Bangunan museum ini bukan hanya menyoroti peninggalan-peninggalan Jenderal Ahmad Yani sebagai tokoh militer penting. Lebih dari itu, kawasannya juga berkaitan dengan perjalanan Indonesia pada 1965 yang penuh gejolak.

Baca Juga: Museum RAA Adiwidjaja, Simpan Jejak Sejarah Kabupaten Garut

Terutama ketika kondisi negara mengalami pergolakan setelah peristiwa G30S. Situasi tersebut memicu perubahan besar dalam kehidupan politik serta keamanan dalam negeri. Termasuk penindakan terhadap pihak-pihak yang konon berkaitan dengan PKI. Kediaman Ahmad Yani pun menjadi saksi yang menyimpan jejak langsung dari rangkaian peristiwa tersebut.

Sejarah Rumah yang Kemudian Jadi Museum Sasmitaloka Ahmad Yani

Bangunan Museum Ahmad Yani berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Gedungnya sudah berdiri sebelum ditempati sang jenderal. Rumah tersebut berdiri sekitar dekade 1930–1940-an saat kawasan Menteng serta Gondangdia berkembang sebagai wilayah permukiman. Pada masa awal, bangunan ini merupakan tempat tinggal pejabat perusahaan swasta Belanda atau Eropa.

Memasuki dekade 1950-an, pengelolaan rumah beralih kepada Dinas Perumahan Tentara. Setelah itu, hunian tersebut ditempati Letjen Ahmad Yani bersama keluarganya. Ia merupakan perwira tinggi dalam jajaran TNI Angkatan Darat. Bahkan menduduki jabatan Menteri/Panglima Angkatan Darat Republik Indonesia.

Penculikan Ahmad Yani Terjadi di Kediamannya

ADVERTISEMENT

Salah satu bagian paling penting dari Museum Sasmitaloka Ahmad Yani berkaitan dengan peristiwa 1 Oktober 1965. Tepat dini hari, sejumlah pasukan PKI datang ke kediamannya dengan maksud membawa Ahmad Yani. Peristiwa tersebut kemudian berakhir dengan penembakan terhadap sang jenderal di dalam rumah.

Baca Juga: Fadli Zon Siapkan Museum Film di Kota Tua Jakarta, Sajikan Perjalanan Perfilman Indonesia

Setelah Ahmad Yani gugur dalam peristiwa pemberontakan, rumah beserta isinya langsung keluarga serahkan kepada negara. Pemerintah kemudian meresmikan kediaman sang jenderal sebagai museum pada 1 Oktober 1966. Tepat setahun setelah peristiwa naas itu terjadi. Peresmian berlangsung di bawah komando Menpangad Mayjen Soeharto.

Peninggalan Ahmad Yani yang Tersimpan di Museum

Koleksi menjadi bagian utama dari Museum Sasmitaloka Ahmad Yani. Dinas Sejarah Angkatan Darat mencatat museum tersebut memiliki ribuan koleksi. Setidaknya terdapat 3.384 benda bersejarah. Benda-benda yang ada mencakup peninggalan pribadi, perlengkapan militer, foto, serta berbagai barang saksi hidup Jenderal Ahmad Yani.

Beberapa benda yang dapat pengunjung temukan antara lain tongkat komando, kacamata, cincin, keris, pakaian, sepatu hingga lencana. Museum juga menyimpan senjata Thompson yang berkaitan dengan penembakan Ahmad Yani. Selain itu, terdapat dokumentasi foto mengenai keluarga, perjalanan karier militer, serta sejumlah peristiwa penting.

Beberapa ruangan rumah juga ditata untuk mempertahankan suasana kediaman Ahmad Yani di masa lalu. Pengunjung dapat melihat ruang keluarga, ruang tamu, kamar, serta bagian interior lainnya. Penataan tersebut membuat museum memiliki karakter sebagai rumah tinggal sekaligus ruang memorial.

Di bagian belakang juga terdapat foto-foto yang berkaitan dengan peristiwa 1965. Koleksinya mencakup dokumentasi pengangkatan jenazah banyak Pahlawan Revolusi. Ada juga gambar upacara pemakaman secara resmi, silsilah keluarga Ahmad Yani, perjalanan karier militernya, bahkan gaji terakhir Oktober 1965 Rp.120.000.

Jam Operasional dan Aturan Berkunjung

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani terbuka bagi masyarakat umum. Berdasarkan Katalog Museum Indonesia dan informasi di situs resmi, museum beroperasi Selasa hingga Minggu. Adapun jam kunjungan mulai pukul 08.00–16.00 WIB. Pengunjung yang ingin masuk tidak dikenakan HTM alias gratis.

Namun, perlu mengikuti beberapa aturan selama berada di dalam museum. Seperti wajib melepas alas kaki sebelum memasuki area tertentu. Barang pajangan juga tidak boleh disentuh karena sebagian merupakan benda lama yang harus senantiasa terjaga kondisinya. Pengunjung masih boleh mengambil gambar pada bagian museum tertentu.

Kendati begitu, terdapat larangan penggunaan lampu kilat atau flash. Tak sampai di sana, pengunjung juga tidak diperkenankan mendokumentasikan bagian dalam kamar pribadi Ahmad Yani. Aturan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga koleksi sekaligus menghormati ruang pribadi yang menjadi bagian dari sejarah.

Baca Juga: Museum Angkringan: Menelusuri Jejak Sejarah Kuliner Merakyat dari Klaten

Apabila datang ke Museum Sasmitaloka Ahmad Yani bersama rombongan, tim pengelola meminta adanya surat pemberitahuan. Ketentuan tersebut membantu pihak Museum Sasmitaloka Ahmad Yani mengatur kunjungan. Sekaligus menjaga suasana di dalam bangunan bersejarah tetap prima. Sehingga lebih nyaman, tidak berdesakan dan pengalaman kunjungan semakin mengesankan. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU