Pasar Kosambi Bandung merupakan salah satu ruang perdagangan yang mengikuti panjangnya perkembangan Kota Kembang. Pasar Kosambi berkaitan erat dengan pertumbuhan Bandung pada masa Hindia Belanda. Dari area sederhana, kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus ruang sosial bagi masyarakat.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Sanatorium Pacet Cianjur, Pelopor Pengobatan Paru di Hindia Belanda
Berbagai perubahan bentuk, fungsi serta aktivitas pernah mewarnai wilayah tersebut. Perjalanannya pun tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Hingga sekarang, Kosambi masih tetap eksis. Keberadaannya juga terus mengikuti perubahan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan jejak sejarah yang melekat.
Mengulas Sejarah Pasar Kosambi Bandung
Kehadiran Pasar Kosambi bermula dari aktivitas perdagangan yang sudah berlangsung sebelum bangunan berdiri secara permanen. Sejumlah catatan menyebut aktivitas tersebut berkembang sejak akhir abad ke-19. Pemerintah kolonial kemudian meresmikan Pasar Kosambi pada 7 September 1915.
Nama Kosambi sendiri konon berkaitan dengan pohon-pohon kesambi yang dahulu banyak tumbuh di daerah ini. Pohon itu menjadi penanda lingkungan sekaligus titik berkumpul para pedagang. Berbagai kebutuhan masyarakat diperjualbelikan di sekitarnya, termasuk ikan asin dan gula aren.
Letaknya juga mendukung pertumbuhan pasar. Kosambi berada di kawasan timur Bandung yang berkembang bersama komunitas perantau Jawa. Kehadiran pekerja dan keluarga mereka ikut meningkatkan kebutuhan terhadap pusat perdagangan yang mudah masyarakat jangkau. Tentunya dengan harga kebutuhan yang masih ramah di kantong.
Baca Juga: Jembatan Kereta Cikubang, Infrastruktur Hindia Belanda Telah Beroperasi Lebih dari Seabad
Perkembangan tersebut juga berkaitan dengan pemindahan Artillerie Constructie Winkel dari Surabaya menuju Kiaracondong pada akhir abad ke-19. Perpindahan fasilitas oleh Belanda ikut membawa pekerja sekaligus para keluarganya ke Bandung. Kebutuhan sehari-hari mereka kemudian mendorong aktivitas perdagangan di Kosambi.
Awal Abad ke-20 dan Pembangunan Pasar
Awal abad ke-20 membawa perubahan penting bagi Pasar Kosambi Bandung. Pemerintah kolonial mulai menata area sekitar sebagai bagian dari perkembangan kota. Pada 1914, pemerintah merencanakan pembangunan kembali beberapa pasar besar di Bandung, termasuk Kosambi. Rencana tersebut berhubungan dengan persoalan kebersihan serta penataan lingkungan pasar.
Pembangunan sempat mengalami penundaan. Namun, pekerjaan akhirnya selesai pada Juli 1915. Pasar kemudian beroperasi sebelum peresmian resminya berlangsung pada September tahun yang sama. Bangunan baru itu belum sepenuhnya menghadirkan kenyamanan seperti pasar modern di Batavia.
Bagaimana tidak, sebagian area masih menggunakan lantai tanah. Hujan kerap membuat lingkungan pasar becek. Meski demikian, kondisi yang ada tidak lantas menghalangi aktivitas jual beli. Hal itu karena masyarakat tetap membutuhkan tempat perdagangan yang mudah mereka jangkau dari tempat tinggal.
Kosambi Menjadi Pusat Perdagangan sekaligus Hiburan
Memasuki dekade 1930-an, kehidupan di sekitar Pasar Kosambi Bandung semakin beragam. Kosambi tidak hanya menjadi tempat masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari. Berbagai bentuk hiburan turut berkembang di sekitar pasar. Pada 1935, misalnya, Rivoli Theater berdiri di sisi barat pasar. Bioskop tersebut menghadirkan film asing dan menjadi salah satu tempat hiburan masyarakat Bandung.
Selain bioskop, kawasan Kosambi juga memiliki ruang pertunjukan yang menampilkan kesenian Sunda serta Jawa. Kondisi tersebut membuat Kosambi memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Masyarakat datang untuk berbelanja, bertemu kerabat, menikmati pertunjukan, atau sekadar menghabiskan waktu luang.
Aktivitas Pasar Pasca Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka, aktivitas perdagangan di Kosambi tetap berjalan. Pada dekade 1950-an hingga 1960-an, pasar menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat di kawasan timur Bandung. Kehidupannya berlangsung sejak pagi hingga malam. Pedagang menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari, sedangkan pembeli datang dari lingkungan sekitar maupun kawasan lain.
Perubahan kembali muncul pada dekade 1980-an. Kawasan Pasar Kosambi memiliki Bandung Theater yang menambah pilihan hiburan masyarakat. Bioskop tersebut menjadi salah satu tempat pemutaran film Indonesia dan ikut menghidupkan aktivitas. Pasar dan bioskop kemudian berjalan berdampingan. Masyarakat dapat memenuhi kebutuhan belanja sekaligus menikmati hiburan.
Hanya saja, memasuki awal 1990-an, aktivitas hiburan di sini mulai menghadapi perubahan. Industri film nasional mengalami masa sulit sehingga sejumlah bioskop kehilangan penonton. Bandung Theater akhirnya ikut berhenti beroperasi. Perubahan besar kemudian muncul pada akhir 1990-an. Pemerintah Kota Bandung melakukan modernisasi kawasan pasar dengan membangun gedung bertingkat.
Bentuk pasar pun berubah dari bangunan tradisional menjadi kompleks perdagangan dengan beberapa lantai. Namun, perubahan tersebut menghadirkan tantangan baru. Sebagian pedagang mengalami kesulitan beradaptasi dengan konsep pasar modern. Pengunjung juga belum sepenuhnya beralih ke pola perdagangan baru. Kondisi itu membuat sejumlah ruang dalam gedung tidak terisi secara optimal.
Baca Juga: Pengelolaan Hutan pada Masa Hindia Belanda dan Warisan Kebijakan Kolonial
Kini, sudah lebih dari seabad Pasar Kosambi Bandung berdiri. Tantangan berjalan beriringan dengan upaya perbaikan yang terus Pemerintah Daerah lakukan guna menjaga aktivitas ekonomi. Sehingga harapannya Kosambi mampu menunjukkan bahwa pasar tradisional Bandung dapat mengikuti perubahan tanpa kehilangan akar sejarahnya. (R10/HR-Online)





