BerandaBerita TasikmalayaUngkap Praktik Senioritas di SMAN 3 Tasikmalaya, Orang Tua Korban Minta Budaya...

Ungkap Praktik Senioritas di SMAN 3 Tasikmalaya, Orang Tua Korban Minta Budaya Bullying Dihentikan

Meiza Zeina, ibu dari salah satu korban berinisial MA (16) mengungkapkan bahwa budaya intimidasi di SMAN 3 Tasikmalaya sudah berlangsung secara turun-temurun dan dinormalisasi oleh para siswa.

harapanrakyat.com,- Praktik senioritas dan aksi perundungan (bullying) yang menimpa sejumlah siswa kelas X di SMAN 3 Tasikmalaya akhirnya terkuak. Meiza Zeina, ibu dari salah satu korban berinisial MA (16) mengungkapkan bahwa budaya intimidasi di sekolah tersebut sudah berlangsung secara turun-temurun dan dinormalisasi oleh para siswa.

Menurut Meiza, murid kelas X kerap merasa tidak aman dan terintimidasi bahkan saat menjalani aktivitas harian di lingkungan sekolah.

“Sekarang akhirnya tahu, ternyata tidak nyaman dan tidak aman di sekolah itu. Nongkrong di depan kelas katanya diciriin, baralaga, ngarariung wae (suka berkumpul). Baju keluar sedikit diciriin (ditandain). Bahkan mau ke kantin saja anak kelas 10 takut dan malas. Kadang kalau sama siswi senior juga dijutekin,” ungkapnya, Selasa (29/9/2025).

Ia menjelaskan, budaya senioritas telah membentuk standar yang keliru di mata para siswa. Anak-anak kelas X menganggap wajar jika mereka harus merasa takut terhadap siswa kelas XII.

“Saya tanya, ‘Nanti senioritas bagaimana?’ ‘Iya Mah, jadi itu sudah turun-temurun senioritas di SMA 3, sudah dari dulu.’ Jadi anak kelas 10 memang harus takut sama kelas 12, dan mereka menganggapnya normal,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut berdampak buruk pada pola pikir para siswa junior. Meiza mengaku prihatin dan khawatir saat mendengar putranya pernah menyampaikan keinginan untuk cepat naik kelas hanya agar bisa melakukan hal serupa kepada adik kelasnya.

“Athar pernah bilang, ‘Paling cepat-cepat naik kelas 11.’ ‘Kenapa?’ ‘Biar bisa membully kelas 10 nanti.’ Makanya saya jadi takut kalau anak saya nanti harus jadi pelaku kalau ini dibiarkan,” tutur Meiza.

Baca Juga: Soal Dugaan Perundungan Siswa di Luar Sekolah, SMAN 3 Tasikmalaya dan Komite Buka Suara

Bullying di SMAN 3 Tasikmalaya Tidak Hanya Intimidasi Verbal

Tindakan perundungan tersebut tidak hanya berupa intimidasi verbal, tetapi juga mengarah pada kekerasan fisik. Meiza mengungkapkan putranya mengalami pemukulan hingga meninggalkan bekas luka di bagian wajah.

“Kalau luka yang banyak sih tidak ya, karena hanya digampar. Cuma ada satu di dekat mata dekat pipi, itu karena dipukul dari belakang,” jelasnya.

Atas kejadian ini, pihak keluarga telah melaporkan kasus perundungan tersebut ke pihak berwajib dan kini sedang menunggu proses hukum berjalan.

Meiza berharap kasus ini diproses secara tuntas agar praktik senioritas dan perundungan di lingkungan sekolah dapat dihentikan sepenuhnya. Ia menginginkan putranya tetap bisa mengenyam pendidikan dengan aman tanpa bayang-bayang ketakutan.

“Mudah-mudahan cepat diproses. Harapan saya Athar bisa tetap sekolah di situ, tetap menjalani dan menghadapi semua, tapi dengan kondisi yang berbeda. Semua senioritas itu harus hilang karena merusak mental anak-anak. Akhirnya mereka tumbuh dendam dan menormalisasi penindasan,” tegas Meiza.

Sementara itu Dadan Mulyana, Humas SMAN 3 Tasikmalaya mengungkapkan, insiden tersebut dipicu oleh pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh korban, seorang siswa kelas 10. Korban kedapatan mengisap rokok elektrik (vape) di dalam kelas. Aksi tersebut kemudian difoto oleh temannya dan diunggah ke media sosial TikTok.

Unggahan itu lantas diketahui oleh para seniornya di kelas 11. Pada Kamis pagi, pihak sekolah sebenarnya telah memanggil para siswa yang terlibat ke ruang Bimbingan Konseling (BK) untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara internal.

Baca Juga: Ibu di Tasikmalaya Labrak Tongkrongan Senior usai Anaknya Diduga Jadi Korban Penganiayaan

“Oleh pihak BK masalahnya sudah diselesaikan. Bahkan guru BK sudah mengingatkan kembali kepada anak-anak agar permasalahan tersebut tidak dilanjutkan di luar sekolah,” kata Dadan. (Apip/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

BERITA TERBARU