harapanrakyat.com,- Di tengah modernisasi transportasi perkeretaapian nasional, Stasiun Ceper di Klaten berdiri megah sebagai saksi bisu perjalanan sejarah transportasi Jawa Tengah. Stasiun kereta api kelas II yang berlokasi di Desa Jambu Kulon dan Klepu, Kecamatan Ceper ini berada di ketinggian +133 mdpl di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop VI Yogyakarta.
Berjarak sekitar 26 kilometer dari Kota Surakarta, kini bangunan klasik nan asri ini menjadi pilihan utama mobilitas para penglaju lokal maupun wisatawan.
Jejak Sejarah 1,5 Abad Stasiun Ceper
Baca Juga: Menelusuri Pesona Lanskap dan Rekam Sejarah Kereta Wisata Ambarawa
Stasiun kereta api ini memiliki rekam jejak panjang sejak masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Berdiri pada kurun tahun 1871–1872 oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), stasiun tersebut pada awalnya bernama Station Tjepper NIS.
Kehadiran stasiun ini pada mulanya khusus sebagai simpul logistik guna mengangkut komoditas hasil bumi perkebunan dan industri lokal. Terutama komoditas tebu dan gula dari pabrik gula di sekitarnya, serta produk pengecoran logam.
Bahkan, Stasiun Ceper ini dahulunya memiliki jalur cabang khusus (sodetan) yang terhubung langsung ke Pabrik Gula Ceperbaru. Atas desakan pemerintah kolonial serta tumbuhnya pasar tradisional di sekitar stasiun, maka stasiun ini kemudian resmi melayani angkutan penumpang umum.
Sepanjang sejarah berdirinya, bangunan stasiun tercatat telah melalui tiga tahap renovasi besar. Dua kali renovasi dilakukan pada era penjajahan Belanda. Kemudian, satu kali renovasi pasca-kemerdekaan Republik Indonesia untuk memulihkan kerusakan fisik akibat Agresi Militer Belanda.
Atas kelestarian arsitektur fisiknya, seperti struktur overkapping (atap kanopi peron), ruang Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Serta peron dalam Stasiun Ceper secara resmi ditetapkan masuk ke dalam daftar Heritage KAI.
Masa Keredupan: Nonaktif 10 Tahun Terdampak Angkutan Bus
Meskipun sempat menjadi titik sibuk yang rutin dilayani oleh armada Kereta Rel Diesel (KRD) Kuda Putih, kepopuleran Stasiun Ceper mulai memudar memasuki era 1970-an.
Meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi serta pesatnya ekspansi armada bus antar-kota membuat moda kereta api lokal sempat kehilangan pangsa pasar.
Penurunan jumlah penumpang secara dramatis berlanjut hingga dekade 2000-an. Akibat sepinya aktivitas naik-turun penumpang, stasiun ini akhirnya resmi berhenti beroperasi pada tahun 2011.
Selama kurun waktu sepuluh tahun (2011–2021), Stasiun Ceper sempat berstatus sebagai stasiun mati/nonaktif untuk layanan penumpang.
Reaktivasi dan Modernisasi Fasilitas KRL Jogja-Solo
Titik balik terjadi seiring dirampungkannya elektrifikasi jalur rel ganda (double track) lintas Yogyakarta–Solo Balapan–Palur. Pada Februari–Maret 2021, PT KAI melalui anak usahanya KAI Commuter, secara resmi mengaktifkan kembali Stasiun Ceper untuk melayani perjalanan KRL Commuter Line.
Untuk menunjang pengoperasian KRL yang modern dan presisi, berbagai pembaruan infrastruktur telah diterapkan. Persinyalan mekanik lama berganti dengan teknologi persinyalan elektrik modern buatan PT Len Industri yang terpasang sejak 2013. Namun beroperasi penuh mulai 12 Februari 2019.
Baca Juga: Jembatan Kereta Cikubang, Infrastruktur Hindia Belanda Telah Beroperasi Lebih dari Seabad
Stasiun memiliki 5 jalur kereta api, yang mana Jalur 2 dan Jalur 3 berfungsi sebagai sepur lurus. Sedangkan Jalur 5 untuk aktivitas kereta barang dan gudang pupuk Pusri.
Stasiun juga dilengkapi dengan peron tinggi untuk keamanan penumpang, gate tiket elektronik, loket fisik, ruang tunggu berfasilitas bangku kayu klasik, toilet, serta musala.
Secara visual, Stasiun Ceper mempertahankan estetika bangunan bernuansa merah genteng yang bersih dan tertata asri. Lengkap dengan prasasti penanda ketinggian “CEPER +133M” pada dinding luar bangunan.
Peran Strategis bagi Penglaju dan Pariwisata Lokal
Kehadiran kembali stasiun kereta api ini memberikan dampak positif yang nyata bagi mobilitas masyarakat Kabupaten Klaten dan sekitarnya. Dengan tarif flat terjangkau sebesar Rp 8.000 per perjalanan, KRL menjadi moda transportasi andalan karena bebas macet, efisien, dan tepat waktu.
Baca Juga: Sejarah Gemeente Depok Menjadi Bukti Pengaruh Hindia Belanda
Selain mempermudah mobilitas penglaju harian menuju Kota Yogyakarta maupun Surakarta, Stasiun Ceper juga berfungsi sebagai gerbang transportasi menuju sentra industri kerajinan kain tradisional.
Stasiun ini merupakan titik pemberhentian kereta api terdekat (berjarak sekitar 5,5 km) menuju pusat kerajinan tenun dan showroom legendaris Lurik Prasojo di Kecamatan Pedan, Klaten. (Eva/R3/HR-Online)





