harapanrakyat.com,- Berdiri anggun di kawasan hunian elite Menteng, Jakarta Pusat, Museum Sasmitaloka Ahmad Yani menyimpan rekam jejak peristiwa kelam Gerakan 30 September (G30S/PKI) tahun 1965.
Bangunan berarsitektur era kolonial yang berdiri tahun 1930-1940-an itu awalnya dihuni oleh pejabat maskapai swasta Eropa sebelum dialihkan ke Dinas Perumahan Tentara pada dekade 1950-an.
Rumah berarsitektur Indies ini kemudian diserahterimakan sebagai kediaman resmi Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad), Jenderal Ahmad Yani, hingga ia gugur diterjang tembakan Pasukan Tjakrabirawa pada dini hari 1 Oktober 1965.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Era Baru Monumen Pers Nasional di Solo
Pasca-tragedi berdarah serta pemakaman sang jenderal di Taman Makam Pahlawan Kalibata, pihak keluarga menyerahkan kediaman beserta seluruh isinya kepada negara pada 30 September 1966.
Kata “Sasmitaloka” mengambil dari bahasa Jawa yang bermakna tempat mengenang dan mengabadikan semangat juang para pahlawan. Peresmian bangunan memorial ini oleh Mayjen Soeharto pada 1 Oktober 1966, dengan mempertahankan tata letak perabotan serta interior rumah persis seperti kondisi aslinya.
Koleksi Bersejarah dan Daya Tarik Museum Sasmitaloka Ahmad Yani
Menjelajahi bagian dalam Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, pengunjung dapat menyaksikan artefak otentik di kamar tidur utama. Seperti tempat tidur kayu, seragam militer, keris, tongkat komando. Hingga lembaran uang senilai Rp 123.000 yang merupakan gaji terakhir sang Jenderal.
Ruang tengah dan ruang makan museum turut menjadi saksi bisu penembakan. Seperti pintu kaca pecah, lubang bekas peluru di dinding. Serta empat senjata api milik Pasukan Tjakrabirawa.
Baca Juga: Fadli Zon Siapkan Museum Film di Kota Tua Jakarta, Sajikan Perjalanan Perfilman Indonesia
Pameran juga menampilkan replika pakaian Ibu Yayu Ahmad Yani, penanda gambar petir. Kemudian, dokumentasi foto pengangkatan jenazah dari sumur maut Lubang Buaya, hingga mobil dinas.
Demi menjaga kelestarian barang peninggalan, pengelola menerapkan aturan wajib seperti melepas alas kaki, tidak boleh menyentuh koleksi. Dilarang menggunakan kilat kamera, serta dilarang memotret isi kamar pribadi demi menghormati privasi keluarga.
Pihak museum menegaskan bahwa regulasi ini murni demi kebersihan dan menghormati privasi, sekaligus meluruskan mitos mistik masa lalu.
Berlokasi di Jalan Lembang No. 58 Menteng, museum ini beroperasi Selasa sampai Minggu pukul 08.00–15.00 WIB. Tanpa ada biaya tiket masuk alias gratis. Pengunjung dapat menjangkau lokasi menggunakan Transjakarta rute 4C atau KRL Commuter Line via Stasiun Cikini.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah G30S di Monumen Pancasila Sakti Jakarta Timur
Secara keseluruhan, kunjungan ke Museum Sasmitaloka Ahmad Yani menyajikan sarana edukasi sejarah yang sangat menyentuh dan menggugah rasa nasionalisme.
Melalui sajian ruang otentik yang terawat dengan rapi, generasi muda diajak untuk menghargai integritas serta pengorbanan jiwa raga para Pahlawan Revolusi dalam mempertahankan Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Eva/R3/HR-Online)





