ADVERTISEMENT
BerandaBerita TerbaruPesona Sejarah, Arsitektur, dan Mitos Mengagumkan di Taman Sari Jogja

Pesona Sejarah, Arsitektur, dan Mitos Mengagumkan di Taman Sari Jogja

Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, Taman Sari Jogja tak lepas dari berbagai cerita rakyat dan mitos yang berkembang di masyarakat.

ADVERTISEMENT

Kawasan cagar budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyimpan jejak kejayaan masa lalu yang tidak pernah pudar oleh zaman. Salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi pusat perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara adalah Taman Sari Jogja.

Kompleks istana air (water kasteel) seluas lebih dari 10 hektar ini berdiri pada tahun 1758 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai tempat rekreasi, meditasi. Sekaligus benteng pertahanan rahasia bagi keluarga kerajaan.

Keindahan lanskap, keunikan arsitektur lintas budaya, hingga ragam mitos yang menyelimutinya menjadikan destinasi ini selalu relevan dan menarik untuk dijelajahi.

Sejarah dan Keunikan Konstruksi Arsitektur Taman Sari Jogja

Baca Juga: Gandrung Sewu Banyuwangi 2026 Hadirkan Konsep Malam Hari dan Tema Kembang Dermo

Pelaksanaan pembangunan Taman Sari secara bertahap dan sarat akan simbolisme Jawa. Awal pendiriannya ditandai oleh candra sengkala “Catur Naga Rasa Tunggal” (tahun 1684 Jawa/1758 M) yang terukir di Gapura Panggung.

Sedangkan penyelesaian bagian-bagian utamanya ditandai sengkalan “Lajering Sekar Sinesep Peksi” (tahun 1691 Jawa/1765 M) di Gapura Agung. Gagasan rancangan kompleks ini berasal langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono I yang berkolaborasi dengan arsitek berkebangsaan Portugis bernama Demang Tegis. Serta pimpinan proyek Tumenggung Mangundipuro dan Pangeran Notokusumo.

Secara teknis, bangunan bersejarah Taman Sari Jogja ini memiliki kekhasan konstruksi yang sangat tinggi. Meskipun memiliki 57 struktur bangunan megah, mulai dari kolam pemandian, jembatan, lorong bawah tanah. Hingga pulau buatan, keseluruhannya dibangun tanpa menggunakan semen maupun besi.

Dinding batu batanya direkatkan menggunakan adonan bligon, yakni racikan tradisional dari kapur putih, bata merah, pasir, gula aren, dan putih telur.

ADVERTISEMENT

Gaya bangunannya pun memadukan perpaduan harmonis antara arsitektur tradisional Jawa, sentuhan Eropa klasik pada pilaster dinding, ornamen bercorak China pada Gedhong Temanten. Serta lengkungan (pointed arch) khas tradisi Islam.

Baca Juga: Menjaga Taksu Leluhur: Ketulusan Krama Bali dalam Ritual Ngetus Ida Betara Tapakan

Etnomatematika dan Makna Filosofis Pasiraman Umbul Binangun

Salah satu area paling ikonik di kawasan Taman Sari Jogja adalah kompleks Pasiraman Umbul Binangun, yakni area pemandian khusus bagi para putri dan anak-anak raja.

Kompleks ini terbagi menjadi tiga kolam utama, yaitu Umbul Muncar untuk anak-anak sebagai simbol kemurnian jiwa. Kemudian, Umbul Binangun untuk remaja sebagai simbol pembentukan karakter. Serta Umbul Kuras/Panguras untuk putri dewasa yang telah baligh.

Di sekitar area pemandian ini juga lengkap dengan fasilitas ruang ganti, ruang sauna berpenghangat bara api (garet mendong). Serta Gedhong Ledoksari sebagai tempat peraduan dan istirahat pribadi Sultan bersama permaisuri.

Melihat dari perspektif etnomatematika, tata ruang Taman Sari Jogja memperlihatkan penerapan konsep geometri dan spiritualitas yang presisi. Kolam-kolamnya mengadopsi bentuk geometri persegi Panjang.

Baca Juga: Sejarah dan Keunikan Taman Narmada: Istana Air dan Miniatur Gunung Rinjani di Lombok

Kemudian, ornamen teratai melingkar melambangkan kesempurnaan dan roda kehidupan. Serta struktur atap segitiga menjulur ke atas yang bermakna filosofi hubungan manusia dengan Tuhan (Hablumminallah) dan sesama manusia (Hablumminannas).

Lebih jauh lagi, bangunan seperti Gedong Lopak-Lopak, Gapura Agung, dan Gedong Sekawan membentuk bidang segi-delapan beraturan (oktagon) yang sebangun. Ini merefleksikan delapan penjuru mata angin dan keseimbangan kosmis tata ruang Keraton.

Di tengah kawasan Taman Sari Jogja, wisatawan juga dapat menemukan Sumur Gumuling, sebuah masjid bawah tanah melingkar dua lantai yang terhubung melalui terowongan rahasia.

Masjid unik tanpa pengeras suara ini dirancang agar gema suara imam memantul ke seluruh ruangan. Serta memiliki lima tangga di bagian tengah yang menyimbolkan lima rukun Islam. Sekaligus berfungsi sebagai tempat pemuka agama memimpin sholat.

Selain itu, kawasan danau buatan (segaran) yang memuat Pulo Kenanga dan Pulo Panembung dulunya berfungsi sebagai area meditasi Sultan, sekaligus benteng peninjauan bahaya dari ketinggian.

Baca Juga: Taman Benyamin Sueb: Menelusuri Jejak sang Legenda Betawi di Jatinegara

Mitos Populer, Daya Tarik Wisata, dan Informasi Tiket Masuk

Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, Taman Sari Jogja tak lepas dari berbagai cerita rakyat dan mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos paling populer mengisahkan keberadaan terowongan rahasia bawah tanah yang konon menembus hingga Pantai Selatan, dan menghubungkan Keraton dengan Nyi Roro Kidul.

Selain itu, ada pula mitos asmara seputar larangan berkunjung bersama kekasih karena aura persaingan para selir di masa lalu. Hingga kepercayaan bahwa mencuci muka dengan air kolam pemandian dapat mempermudah jodoh dan membuat wajah awet muda.

Bagi masyarakat modern, cagar budaya ini merupakan salah satu spot foto paling aesthetic dan instagramable di pusat Kota Yogyakarta. Berlokasi di Kampung Patehan, Kecamatan Kraton, hanya berjarak sekitar 1,6 km dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, objek wisata ini beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Sejarah Klenteng Tay Kak Sie: Simbol Kesadaran Agung di Jantung Pecinan Semarang

Tiket masuknya sangat terjangkau, yaitu Rp 15.000 untuk wisatawan domestik dewasa (dan Rp 5.000 untuk kategori tertentu/anak-anak). Serta ketersediaan pemandu wisata (tour guide) lokal yang siap memberikan penjelasan sejarah secara mendalam.

Meski sempat mengalami kerusakan akibat bencana gempa bumi besar pada tahun 1867 dan 2006, pemugaran yang terus dilakukan memastikan keberadaan Taman Sari Jogja tetap berdiri kokoh sebagai warisan budaya bernilai tinggi. Mempertemukan keagungan sejarah, seni, dan kearifan lokal. (Eva/R3/HR-Online)

BERITA TERBARU