harapanrakyat.com,- Perjalanan sejarah Galunggung mencatat transformasi penting dari kawasan suci kabuyutan menjadi pusat kerajaan di Tatar Pasundan. Kawasan keagamaan ini mulanya dipimpin oleh para sesepuh bergelar Batara seperti Batara Semplakwaja. Kepemimpinan spiritual tersebut memegang peranan sangat krusial dalam kehidupan sosial dan kebudayaan Sunda.
Baca juga: Misteri Larangan Memancing di Gunung Galunggung Tasikmalaya dan Peri Penjaga Danau
Keberadaan tatanan kabuyutan di sekitar lereng Gunung Galunggung menjadi landasan kokoh bagi pertumbuhan peradaban lokal. Kawasan suci ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama serta tempat mendoakan keselamatan negara. Penguasa kerajaan senantiasa memberikan jaminan perlindungan penuh kepada para pemuka agama yang bertugas.
Eksistensi pusat keagamaan ini turut memperkuat integritas wilayah serta moralitas masyarakat Sunda pada masanya. Nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh para resi guru disebarkan secara meluas di seluruh wilayah. Penghormatan terhadap tanah suci ini menjadi simbol keberhasilan seorang pemimpin dalam menjalankan pemerintahan.
Kemudian, masyarakat kuno memandang kabuyutan sebagai benteng pertahanan moral dan pilar utama keutuhan negeri. Kerusakan pada kawasan suci dianggap sebagai tanda kegagalan seorang raja dalam memimpin rakyatnya. Oleh karena itu, seluruh komponen masyarakat berkewajiban menjaga kesucian kabuyutan dari berbagai ancaman.
Fakta Arkeologis dan Jejak Sejarah Galunggung dalam Prasasti
Perubahan status kebataraan menjadi Kerajaan Galunggung terjadi saat penobatan Batari Hyang Janapati pada 21 Agustus 1111 Masehi. Peristiwa bersejarah ini tercatat secara jelas pada Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di Leuwisari. Tanggal penobatan ini ditetapkan berdasarkan perhitungan angka tahun 1033 Saka dalam sistem kalender kuno.
Sementara itu, sejarah Galunggung membuktikan kehadiran sosok perempuan cerdas yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi di kerajaan. Ratu Batari Hyang Janapati memperkuat benteng pertahanan Rumantak dengan membuat parit pertahanan yang kokoh. Langkah strategis ini dilakukan untuk menjaga keselamatan ibu kota dari ancaman serangan luar.
Baca juga: Jejak Sejarah Gunung Galunggung, Kisah Kuno yang Terlupakan di Tasikmalaya
Pemerintahan kerajaan ini tetap berada di bawah naungan Kerajaan Sunda melalui sistem pembagian wilayah. Meskipun memiliki otonomi khusus, raja daerah tetap menghormati kekuasaan tertinggi raja Sunda. Hubungan politik yang harmonis ini menciptakan stabilitas keamanan di kawasan Tatar Pasundan.
Prasasti batu bertulis tersebut menjadi bukti arkeologis otentik yang menguatkan keberadaan tatanan pemerintahan kerajaan. Pembacaan kembali prasasti oleh para ahli sejarah memperjelas kronologi kepemimpinan para penguasa Galunggung. Penemuan artefak ini sekaligus membuktikan kebenaran kisah-kisah lisan yang berkembang di tengah masyarakat.
Warisan Ajaran Etika dan Naskah Kuno
Petuah moral kepemimpinan tersimpan rapi di dalam naskah kuno Amanat Galunggung atau Kropak 632. Kemudian, naskah berisikan nasihat Rakeyan Darmasiksa ini mengajarkan pentingnya menjaga budi pekerti serta kepemimpinan. Ajaran filosofis ini menekankan bahwa kerukunan masyarakat dapat dicapai melalui sikap rendah hati.
Naskah kuno ini ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno di atas daun nipah yang diawetkan. Rakeyan Darmasiksa mengingatkan generasi penerus agar tidak mengabaikan aturan dan ajaran para leluhur. Kepatuhan terhadap etika kepemimpinan dianggap sebagai syarat utama untuk mencapai kejayaan bangsa.
Baca juga: Sejarah Meletusnya Gunung Galunggung, Soekapura Ganti Jadi Tasikmalaya
Kemudian, koleksi peninggalan bersejarah tersebut kini disimpan secara rapi di Museum Galunggung Tasikmalaya. Keberadaan museum ini bertujuan untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan budaya masa lalu. Pembelajaran nilai-nilai etika kuno ini terus diterapkan dalam penguatan karakter generasi muda.
Sistem Tata Ruang dan Pusat Spiritual
Penataan wilayah kebataraan terbagi menjadi dua area utama yaitu kabuyutan dan kawasan permukiman kawikuan. Kabuyutan difungsikan sebagai tempat suci pemujaan yang diurus oleh jajaran pendeta khusus. Kawikuan menjadi tempat tinggal para wiku yang mendalami ajaran keagamaan di lereng gunung.
Baca juga: Alun-Alun Singaparna Memanas, Anak Muda Pertanyakan Rencana Lelang Geothermal Galunggung Tasikmalaya
Keberadaan kompleks mandala di sekitar Galunggung berkembang pesat menjadi pusat pendidikan spiritual terbesar. Para murid dari berbagai daerah datang untuk mempelajari ajaran keagamaan dan menempuh latihan batin. Tradisi keilmuan Islam yang berkembang di Tasikmalaya saat ini ditengarai dipengaruhi oleh keberadaan mandala tersebut.
Penelitian terhadap tinggalan naskah kuno memberikan pemahaman mendalam mengenai sejarah Galunggung secara menyeluruh. Penggalian kearifan lokal ini membantu masyarakat modern memahami nilai kepemimpinan dan etika leluhur. Pelestarian warisan sejarah ini menjadi tanggung jawab bersama demi menjaga identitas budaya bangsa. (Muhafid/R6/HR-Online)





