BerandaBerita TerbaruSejarah, Tokoh, hingga Fungsi Wayang Kulit Sasak dari Lombok

Sejarah, Tokoh, hingga Fungsi Wayang Kulit Sasak dari Lombok

Ada yang menyebut munculnya wayang Kulit Sasak berkaitan dengan masuknya Islam yang Sunan Prapen bawa. Ia merupakan putra Sunan Giri sekaligus seorang penyiar agama Islam. Konon ceritanya Pangeran Trenggono, Sunan Giri, serta Pangeran Sangupati berperan dalam terciptanya kesenian ini.

Wayang Kulit Sasak adalah salah satu warisan budaya penting di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Wayang kulit ini merupakan bagian dari seni pertunjukkan yang sudah ada sejak masuknya Islam ke Lombok. Berikut akan kita bahas lebih lanjut tentangnya terkait sejarah, tokoh, kisahnya hingga fungsi kesenian ini.

Baca Juga: Sejarah, Nilai Tradisi, dan Perkembangan Kesenian Barongan di Jawa

Wayang Kulit Sasak, Kesenian Tradisional Sebagai Sarana Dakwah Islam Sekaligus Hiburan

Wayang merupakan kesenian dari Pulau Jawa yang berkembang di Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur. Seiring waktu, kesenian ini pun menyebar ke berbagai daerah lainnya dan mengalami adaptasi. Di Lombok pun akhirnya muncul kesenian wayang yang kemudian kita kenal sebagai wayang Sasak.

Wayang Sasak menjadi warisan budaya Lombok yang memiliki sejarah panjang dan fungsi yang penting. Masyarakat terus mewariskan kesenian ini secara turun temurun ke generasi selanjutnya hingga masa kini. Saat ini pun masyarakat terus melestarikan dan menjaga kesenian ini karena telah menjadi bagian dari identitas budaya Lombok.

Sejarah dan Asal Usulnya

Sejarah atau asal usul wayang Sasak di Lombok sendiri sebenarnya memiliki banyak versi. Hingga kini pun belum ada data pasti yang bisa menjadi bukti siapa yang pertama kali mencetuskannya. Namun pastinya kesenian ini berawal dari tradisi penyebaran Islam di Lombok pada abad ke-16.

ADVERTISEMENT

Ada yang menyebut munculnya wayang Kulit Sasak berkaitan dengan masuknya Islam yang Sunan Prapen bawa. Ia merupakan putra Sunan Giri sekaligus seorang penyiar agama Islam. Konon ceritanya Pangeran Trenggono, Sunan Giri, serta Pangeran Sangupati berperan dalam terciptanya kesenian ini.

Tokoh Protagonis dan Antagonis

Tokoh dalam wayang Sasak terbagi menjadi dua yaitu tokoh yang memerankan kebaikan dan kejahatan. Karakter baik atau protagonis memiliki julukan wayang kanan yang posisi dan keluarnya dari arah kanan. Sedangkan tokoh jahat atau antagonis dengan julukan wayang kiri selalu keluar dari arah kiri.

Baca Juga: Kesenian Wayang Thengul, Pertunjukan Tradisional unik dan Warisan Budaya Khas Bojonegoro

Tokoh yang memerankan kebaikan cukup beragam seperti berikut ini:

  • Wong Menak Jayengrane atau Amir Hamzah yaitu tokoh sentral wayang Kulit Sasak yang sakti, jujur, dan bijaksana.
  • Munigarim yaitu istri pertama Jayengrana yang sabar, berpendirian teguh, dan sakti.
  • Umar Madi yaitu pendekar tangguh yang membantu perjuangan kelompok kanan.
  • Umar Maya yaitu tangan kanan Jayengrana yang setia, humoris, dan cerdik.
  • Tokoh pendukung seperti Selandir, Taptanus, Samtanus, dan Maktal.

Sementara itu untuk karakter dari kelompok kiri yang memerankan kejahatan seperti:

  • Prabu Nursiwan yaitu raja yang sering berkonflik dengan pihak kanan terutama Jayengrana.
  • Tokoh lainnya seperti Raja Bandar Kale, Ratu Ganda Rini, dan Patih Yama Geni.

Kisah yang Diangkat

Cerita kesenian tradisional ini mengambil dari cerita Wong Menak karya Amir Hamzah yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Cerita ini berasal dari Persia yang kemudian menyebar luas hingga ke Pulau Jawa dan Lombok. Dalam penyebaranya di Lombok, cerita ini tertulis di atas daun lontar dengan bahasa Jawa.

Karena mengambil kisah menak, wayang Kulit Sasak pun juga terkenal dengan sebutan Wayang Menak Sasak. Cerita tersebut berfokus pada petualangan Amir Hamzah dalam menyebarkan ajaran tauhid. Isi ceritanya juga menunjukkan gelar Amir Hamzah seperti Wong Menak, Jayengrana, Jayeng Laga, dan lainnya.

Fungsi Atau Perannya

Wayang Sasak memiliki beberapa fungsi atau peran yang berhubungan dengan kehidupan sosial dan spiritual. Berikut beberapa fungsinya:

  • Sarana Hiburan

Fungsi pertama yaitu sebagai hiburan masyarakat yang sering digelar dalam acara tertentu. Misalnya yaitu dalam acara pernikahan atau hajatan, acara adat, perayaan hari besar, hingga festival budaya.

  • Sarana Edukasi

Pertunjukan kesenian ini juga bisa menjadi sarana edukasi bagi seluruh masyarakat yang ada di Lombok. Sebab pertunjukkan ini mengandung pelajaran seperti tentang kesopanan, disiplin, hingga sikap menghargai.

  • Sebagai Alat Dakwah

Dulu, kesenian ini juga menjadi media dakwah untuk menyebarkan agama Islam di Lombok. Kini pun kesenian ini masih menjadi media untuk menyampaikan nilai religius dan moral.

Baca Juga: Kesenian Surak Ibra, Tradisi Unik Garut Kerap Warnai Perayaan HUT RI

Wayang Kulit Sasak menjadi warisan budaya Lombok yang penting karena berperan dalam penyebaran Islam. Kesenian ini juga mampu memberi pelajaran berharga lewat kisah-kisah yang dibawakannya. Masyarakat Lombok pun masih terus menjaga dan melestarikan kesenian tradisional ini agar tidak tergerus zaman. Jika tertarik dengan wayang kulit Sasak, cobalah datang ke Lombok dan saksikan pertunjukannya langsung. (R10/HR-Online)

BERITA TERBARU