ADVERTISEMENT
BerandaBerita TasikmalayaSoroti Keresahan Sampah, Elemen Muda Tasikmalaya Gelar Edukasi Tasik Resik 2026

Soroti Keresahan Sampah, Elemen Muda Tasikmalaya Gelar Edukasi Tasik Resik 2026

Puluhan pelajar dan mahasiswa Tasikmalaya menggelar diskusi 'Tasik Resik 2026' di GCC Dadaha, menyoroti efektivitas regulasi, alokasi anggaran DLH, hingga keakuratan data sampah TPA Ciangir.

ADVERTISEMENT

harapanrakyat.com,- Keresahan terhadap persoalan penanganan sampah di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, kembali memantik aksi kolektif dari elemen muda. Bertempat di Gedung Creative Center (GCC) Kompleks Dadaha, puluhan pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berkumpul dalam forum edukasi “Tasik Resik 2026” pada Rabu (30/9/2026).

Agenda yang diinisiasi oleh aktivis mahasiswa ini menghadirkan berbagai pihak pemantik, mulai dari praktisi pengolah sampah organik Eco Enzyme, praktisi bank sampah. Hingga pejabat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya.

Forum ini diselenggarakan sebagai bentuk keresahan nyata atas kondisi lingkungan daerah yang membutuhkan penanganan serta tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Mahasiswa STAI Al Hidayah Tasikmalaya Turun Langsung ke TPA Ciangir, Bedah Krisis Sampah dan Dampak Pencemaran

Edukasi Tasik Resik 2026, Pelajar dan Mahasiswa Soroti Regulasi hingga Data TPA

ADVERTISEMENT

Diskusi berlangsung hangat dan mewadahi serangkaian pertanyaan kritis dari peserta terkait efektivitas pengelolaan sampah di daerah. Mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mempertanyakan capaian regulasi nasional di tingkat lokal.

Ia menyoroti UU Nomor 18 Tahun 2008 serta target Perpres Nomor 97 Tahun 2017 mengenai pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan 70 persen. Sekaligus mempertanyakan kendala utama Kota Tasikmalaya dalam mencapai target tersebut kepada perwakilan DLH.

Sorotan tajam juga diarahkan pada prioritas alokasi anggaran pemerintah daerah. Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Siliwangi (Unsil) mempertanyakan alasan keterbatasan armada pengangkut sampah yang terus berulang setiap tahun. Serta menanyakan kendala tersebut bersumber dari alokasi anggaran yang rendah atau penetapan prioritas belanja yang keliru.

Selain regulasi dan anggaran, validitas data persampahan turut menjadi bahan perdebatan dalam kegiatan edukasi Tasik Resik 2026. Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) meragukan keakuratan data buangan sampah harian ke TPA Ciangir yang tercatat sebesar 341,76 ton per hari. Mengingat fasilitas jembatan timbang di lokasi tersebut ditemukan dalam kondisi rusak.

Baca Juga: Warga di Kota Banjar Sesalkan Tak Ada Penambahan Anggaran BBM Armada Pengangkut Sampah

Di sisi lain, perwakilan pelajar dari SMAN 1 Tasikmalaya menekankan pentingnya strategi agar gerakan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Tapi juga mampu menghasilkan perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.

Langkah Aksi Nyata: Sinergi dan Aksi Lapangan di Setiap Kecamatan

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Ketua Pelaksana Kegiatan, Hari Nurdin dari Universitas Islam Tasikmalaya (Unitas), menjelaskan bahwa agenda di GCC Dadaha melibatkan sinergi antara pemerintah dan aktivis lingkungan. Seperti Asobsi Kota Tasikmalaya serta Rumah Eco Enzyme dan Kompos.

Nurdin menegaskan, gerakan edukasi Tasik Resik 2026 ini akan dilanjutkan dengan aksi nyata di lapangan. Dalam kurun waktu dua minggu kedepan, para relawan dan mahasiswa dijadwalkan bergerak ke setiap kecamatan di Kota Tasikmalaya untuk melakukan aksi pembersihan sampah liar dan gerakan penghijauan bersama warga.

Baca Juga: Aroma Menyengat dan Pemandangan Kumuh, Sampah Rumah Tangga Numpuk di Cihideung Tasikmalaya

Mengenai keberadaan tumpukan sampah liar di pinggir jalan, Nurdin menilai kunci utama penuntasannya terletak pada kesadaran individu dan gotong royong.

Walaupun DLH merupakan penanggung jawab teknis dan ujung tombak pelayanan. Namun  penanganan sampah tidak akan sanggup berjalan optimal tanpa keterlibatan serta tanggung jawab aktif dari masyarakat di lingkungannya masing-masing. (Rafi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

BERITA TERBARU