harapanrakyat.com,- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menyoroti potensi dampak lingkungan dari operasional pusat data AI milik BDx di Jatiluhur. Aktivitas fasilitas teknologi canggih tersebut dinilai membutuhkan pasokan daya listrik dalam jumlah yang amat masif.
Baca juga: Pengurusan AMDAL Pusat Data Berbasis AI 180 Hari, DLH Jabar: Durasi Tergantung Kinerja Konsultan
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Barat Wahyudin menegaskan pentingnya penghitungan beban energi secara matang dalam dokumen AMDAL. Langkah analisis tersebut sangat krusial mengingat kebutuhan pasokan listrik pusat data AI setara dengan konsumsi ribuan hunian warga.
Wahyudin menyebutkan bahwa fasilitas data berbasis kecerdasan buatan dengan daya 80 hingga 100 megawatt mengonsumsi arus listrik yang sangat besar. Jumlah serapan energi tersebut bahkan sebanding dengan total pemakaian arus listrik untuk 1.000 rumah pemukiman. “Pusat data ini membutuhkan pasokan listrik sangat besar,” terang Wahyudin pada Kamis (1/10/2026).
Ancaman Emisi Karbon dan Kenaikan Suhu Kawasan
WALHI Jawa Barat turut melayangkan kritik terhadap kecenderungan penggunaan sumber daya fosil untuk menyokong kebutuhan listrik fasilitas teknologi tersebut. Penggunaan daya yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap dikhawatirkan memicu lonjakan emisi karbon secara drastis di wilayah Jawa Barat.
Selain masalah serapan energi dan emisi, WALHI mencemaskan ancaman sekunder berupa peningkatan suhu udara di kawasan industri Jatiluhur. Kenaikan suhu mikro tersebut bersumber dari pengoperasian genset darurat serta mesin pendingin cooling tower yang bekerja secara terus-menerus. “Kondisi ini memicu dampak negatif berupa kenaikan suhu dari genset maupun cooling tower yang bekerja 24 jam,” tutur Wahyudin.
Oleh sebab itu, WALHI Jawa Barat mendesak pemerintah beserta pengembang untuk mengidentifikasi seluruh risiko ekologis sebelum menerbitkan izin operasional secara penuh. (Reza/R6/HR-Online)





