BerandaBerita TerbaruTeori Neurobiologi dan Penjelasan Ilmiah Soal Penyebab Dejavu

Teori Neurobiologi dan Penjelasan Ilmiah Soal Penyebab Dejavu

Fenomena penyebab dejavu terjadi akibat gangguan sementara sirkuit pemrosesan memori di dalam lobus temporal dan hipokampus otak. Pengecekan fakta oleh korteks frontal memastikan seseorang menyadari bahwa sensasi keakraban tersebut hanyalah kekeliruan sinyal saraf.

harapanrakyat.com,- Kajian mengenai penyebab dejavu mengungkapkan bahwa fenomena psikologis ini bersumber dari kekeliruan sinyal pada sirkuit memori otak manusia. Sensasi seolah-olah pernah mengalami suatu peristiwa padahal baru pertama kali dialami ini memicu rasa penasaran masyarakat luas. Sekitar 60 hingga 90 persen populasi dunia dilaporkan pernah merasakan pengalaman unik ini setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Baca juga: Rekonstruksi Fosil Homo Sapiens Tertua Mengubah Sejarah Manusia

Kemunculan fenomena ini sering kali terjadi pada individu berusia muda rentang 15 hingga 25 tahun dan menurun seiring bertambahnya usia. Kondisi tubuh yang mengalami kelelahan fisik, stres mental, serta kurang tidur turut memicu frekuensi terjadinya pengalaman asing tersebut. Pemrosesan ingatan yang tidak sinkron antara dua area memori otak menjadi landasan utama munculnya ilusi ingatan singkat ini.

Secara medis, peristiwa ini umumnya berlangsung sangat singkat dalam hitungan sepuluh hingga tiga puluh detik tanpa menimbulkan dampak bahaya. Meskipun tergolong wajar, pemeriksaan dokter spesialis saraf tetap diperlukan apabila fenomena ini muncul sangat sering disertai kejang otot. Pemahaman komprehensif mengenai mekanisme kerja saraf membantu masyarakat menyikapi fenomena ini secara bijak.

Tinjauan Mekanisme Saraf dan Teori Psikologis Penyebab Dejavu

Para peneliti neurosains menjelaskan bahwa penyebab dejavu berkaitan erat dengan ketidakseimbangan aktivitas listrik di dalam lobus temporal medial. Struktur otak ini menaungi hipokampus dan korteks rinal yang berperan penting dalam pembentukan serta pemanggilan ingatan jangka panjang. Ketika korteks rinal aktif secara mandiri tanpa melibatkan hipokampus, otak menghasilkan sinyal keakraban tanpa ingatan rinci yang jelas.

ADVERTISEMENT

Teori pemrosesan ganda juga menyebutkan bahwa keterlambatan penyampaian informasi antarjalur saraf memicu terjadinya ilusi ingatan yang membingungkan. Otak menerima masukan inderawi secara berturut-turut dalam jeda waktu yang sangat singkat sehingga memicu persepsi ganda yang keliru. Akibatnya, informasi baru yang baru saja diproses oleh indera diartikan sebagai memori lama yang pernah tersimpan sebelumnya.

Baca juga: Ketahui Gejala Kanker Payudara Saat Hamil, Bahaya, dan Langkah Penanganannya

Di sisi lain, teori Gestalt familiarity mengaitkan fenomena ini dengan kemiripan tata letak spasial antara lokasi baru dan pengalaman masa lalu. Otak secara tidak sadar mengenali pola susunan objek yang serupa meskipun seseorang tidak dapat mengingat konteks kejadian sebelumnya. Mekanisme pengenalan pola yang tersembunyi ini secara otomatis membangkitkan perasaan familiar yang sangat kuat pada benak seseorang.

Peran Koreksi Korteks Frontal dan Kaitannya dengan Kondisi Medis

Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa timbulnya pengalaman ini justru menandakan sistem pengecekan fakta otak bekerja secara optimal. Peneliti Akira O’Connor menjelaskan bahwa korteks frontal akan mengidentifikasi adanya bentrokan antara sinyal keakraban dan kenyataan objektif. Pengawasan memori oleh area frontal dahi ini memastikan seseorang menyadari bahwa perasaan familiar tersebut hanyalah kekeliruan persepsi.

Akan tetapi, kemunculan fenomena ini juga dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan kejang pada penderita epilepsi lobus temporal. Pasien epilepsi umumnya mengalami sensasi keakraban yang berlangsung lebih lama dan sering kali mendahului kemunculan serangan kejang motorik. Selain epilepsi, kondisi medis seperti migrain dengan aura, depersonalisasi, hingga demensia frontotemporal juga kerap memicu kemunculan fenomena ini.

Baca juga: Perbedaan Keracunan dan Alergi Makanan, Kenali Gejala dan Penyebabnya

Uji laboratorium menggunakan elektroensefalografi memperlihatkan adanya letupan gelombang listrik abnormal pada otak penderita epilepsi saat mengalami fenomena ini. Sebaliknya, rekaman gelombang otak pada individu sehat hanya memperlihatkan desinkronisasi irama saraf tanpa adanya cetusan gelombang epileptiform yang berbahaya. Perbedaan gambaran aktivitas saraf ini membuktikan bahwa fenomena pada orang sehat murni merupakan gangguan pemrosesan memori biasa.

Faktor Risiko Gaya Hidup dan Evaluasi Gejala Lanjutan

Faktor gaya hidup seperti tingkat pendidikan tinggi, kebiasaan bepergian, serta kemampuan mengingat mimpi turut memengaruhi tingkat kerentanan seseorang. Kelelahan saraf akibat kurang tidur membuat pengaturan letupan neuron terganggu sehingga memicu kekeliruan pengiriman sinyal memori di otak. Selain itu, peningkatan aktivitas zat kimia dopamin di dalam otak juga dapat memicu lonjakan frekuensi kemunculan sensasi keakraban palsu.

Baca juga: Jangan Asal Beli! Begini Cara Membaca Komposisi Produk Makanan Kemasan

Masyarakat dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila kemunculan fenomena ini disertai rasa pusing hebat, gemetar, atau penurunan kesadaran. Dokter spesialis saraf akan melakukan pemeriksaan fisik terpadu guna memastikan tidak adanya gangguan struktural atau aktivitas kejang listrik berlebih. Pengamatan gejala klinis secara cermat memastikan penanganan medis dapat diberikan secara tepat apabila ditemukan indikasi penyakit.

Pemahaman ilmiah mengenai faktor penyebab dejavu membuktikan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari kompleksitas fungsi otak manusia. Menerapkan pola hidup sehat dengan istirahat cukup serta mengelola stres harian sangat efektif mengurangi frekuensi kemunculan ilusi memori ini. Dengan menjaga kesehatan otak, masyarakat dapat menjalani aktivitas harian secara tenang tanpa perlu merasa cemas. (Muhafid/R6/HR-Online)

BERITA TERBARU