Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur yang dikenal sebagai Kota Angin menyimpan potensi pariwisata alam yang luar biasa di kawasan perbukitan Gunung Wilis. Salah satu destinasi yang berkembang pesat dalam dua tahun terakhir adalah wisata Jolotundo Edupark dan Glamping.
Berlokasi di Dusun Plakat, Kecamatan Loceret, tepatnya Desa Bajulan, tempat rekreasi ini awalnya lahir dari inisiatif sederhana pascapandemi Covid-19 pada Agustus 2023.
Gagasan pendirian objek wisata ini dicetuskan oleh pengusaha muda asal Warujayeng, Ridhan Nandari, yang mulanya merancang kawasan tersebut sebagai fasilitas rekreasi internal perusahaannya.
Wisata Jolotundo Edupark Nganjuk Bermula dari 5 Tenda dan 1 Cafe
Bermula dari lima unit tenda glamping dan satu kafe kecil di tepi aliran sungai alami. Namun, tingginya antusiasme masyarakat membuat pengelola memutuskan untuk membuka destinasi ini bagi publik secara luas.
Dalam pengembangannya, pihak pengelola bekerja sama dengan Perhutani untuk mengelola sekitar 10 hektare kawasan hutan pinus tanpa merusak ekosistem yang ada.
Keberhasilan pengelolaan ini terbukti dari angka kunjungan wisatawan yang melonjak tajam. Sepanjang tahun 2025, Wisata Jolotundo Edupark tercatat menyerap 136.638 pengunjung, menjadikannya destinasi perbukitan paling populer di Kabupaten Nganjuk.
Pada hari biasa (weekday), tempat ini menerima 200 hingga 300 tamu per hari. Sementara pada akhir pekan (weekend) angka kunjungan bisa melampaui 1.000 orang per hari.
Daya Tarik Utama: Pengalaman Kemah Tepi Sungai di Kaki Gunung Wilis
Suasana pegunungan yang teduh dengan suhu malam hari berkisar antara 19 hingga 20 derajat Celsius menjadi magnet utama bagi para pelancong. Wisata Jolotundo Edupark menawarkan kombinasi rekreasi alam, edukasi. Serta kenyamanan akomodasi modern.
Beberapa keunggulan fasilitas dan wahana di Jolotundo meliputi aliran sungai jernih dan jembatan gantung. Pengunjung dapat bermain air di sungai alami yang dangkal atau berswafoto di jembatan gantung berhias lampu yang tampak estetik pada malam hari.
Tersedia pula area penangkaran rusa, anak-anak dapat berinteraksi dan memberi makan hewan secara langsung. Pengunjung juga dapat menikmati sensasi menunggang kuda, mengendarai jip ATV, hingga memanfaatkan area outbound.
Baca Juga: Menguak Keindahan Magis Air Terjun Kapas Biru di Lumajang
Sebagai fasilitas pendukung, tersedia kafe indoor/outdoor, gazebo, ruang pertemuan (meeting room), mushola, toilet bersama yang bersih, hingga akses koneksi Wi-Fi.
Akses Transportasi dan Jam Operasional
Wisata Jolotundo Edupark berjarak kurang lebih 44 kilometer dari Alun-Alun Pusat Kota Nganjuk. Akses jalan darat telah beraspal dan memadai dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Untuk rute kendaraan pribadi dari Kota Nganjuk, pengunjung dapat mengarahkan kendaraan dari pusat kota menuju Jalan Diponegoro – Jalan Yos Sudarso – Jalan Imam Bonjol – Jalan Semeru – Jalan Merapi. Selanjutnya mengikuti petunjuk arah melewati Jalan Desa Karangsono menuju Desa Bajulan di Kecamatan Loceret.
Sedangkan, untuk layanan angkutan umum tersedia Damri Perintis. Guna memudahkan aksesibilitas warga dan wisatawan, pemerintah mengoperasikan bus Damri Perintis rute Terminal Tipe C Nganjuk menuju Ngetos yang melintasi area Wisata Jolotundo Edupark.
Angkutan ini menggunakan armada Toyota HiAce yang nyaman dengan tarif sangat murah, yaitu Rp 5.000 per orang. Bus berangkat sekali sehari dari Terminal Tipe C Nganjuk sekitar pukul 07.00 WIB.
Untuk jadwal operasional, wisata Jolotundo buka hari Senin – Kamis pukul 09.00 – 20.00 WIB. Akhir pekan Jumat – Minggu pukul 09.00 – 22.00 WIB.
Komitmen Kebersihan dan Pariwisata Berkelanjutan
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wisata di Banyuwangi: Panduan Lengkap Liburan Seru di Ujung Timur Jawa
Meski mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, pengembangan kawasan pariwisata Jolotundo masih menghadapi sejumlah tantangan. Seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur jalan di beberapa titik. Serta sistem pengelolaan dan pemilahan sampah.
Pengelola terus didorong untuk menerapkan tiga pilar pariwisata berkelanjutan, yakni aspek ekonomi, sosial, dan pelestarian lingkungan. Tujuannya agar keasrian hutan pinus dan sungai alami di lereng Gunung Wilis tetap terjaga untuk jangka panjang. (Eva/R3/HR-Online)





