Upacara Adat Nyangku di Panjalu Ciamis, Sejarah Syiar Islam Raja Borosngora

Ribuan warga Panjalu dan warga dari luar daerah saat menggelar Upacara adat Nyangku di Taman Borosngora Alun-alun Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (03/12/2018). Foto: Heri Herdianto/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Upacara adat Nyangku atau dalam rangka mengenang jasa Raja Panjalu, Prabu Syanghiang Borosngora, saat menyebarkan syiar Islam, kembali digelar di Taman Borosngora Alun-alun Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (03/12/2018).

Upacara adat yang rutin digelar setiap bulan Rabiul Awal atau bulan Mulud ini diikuti oleh ribuan warga Panjalu dan tak sedikit pula warga dari luar daerah. Acara inipun sekaligus dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Meski upacara adat, namun dalam prosesi Nyangku sangat kental dengan nuansa Islam. Sebab, upacara adat yang konon dimulai pada abadi ke 7 ini, memiliki sejarah syiar Islam yang dikisahkan melalui cerita Raja Panjalu Borosngora yang mengembara ke jazirah Arab dan berguru ke Syaidina Ali Bin Abi Talib yang tak lain sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW.

Sepulang dari jazirah Arab, Borosngora yang sudah memeluk agama Islam, kemudian melakukan syiar di tanah kelahirannya serta beberapa daerah lainnya di Nusantara.    Pada Upacara Adat Nyangku ini pun terdapat prosesi penyucian benda pusaka peninggalan Raja Panjalu Borosngora.

Baca juga: Air ‘Zam-zam’ di Situ Lengkong Panjalu Ciamis Kini Disuling Sebelum Diminum

Benda-benda pusaka itu diantaranya berupa pedang dan tombak bermata dua (Cis) yang konon pemberian dari Sayyidina Al saat Borosngora melakukan pengembaraan ke tanah jazirah Arab. Selain itu, ada pula keris komando milik Raja Panjalu, Keris pegangan para Bupati Panjalu, Pancaworo atau senjata perang, Bangreng senjata perang, Gong kecil untuk mengumpulkan rakyat pada zaman dahulu dan Kujang peninggalan Aki Garahang yang diturunkan kepada para Raja Panjalu.

Proses adat Nyangku diawali dengan mengeluarkan benda-benda pusaka yang disimpan di Museum Bumi alit. Setelah itu, benda-benda pusaka tersebut kemudian diarak oleh para keturunan Raja Panjalu dan warga terpilih serta diikuti oleh masyarakat umum menuju ke Nusa Gede atau pulau kecil yang berada di tengah Situ Lengkong Panjalu.

Saat mengarak benda-benda pusaka, diiringi dengan lantunan solawat dan alat musik gembyung. Di Nusa Gede Situ Lengkong terdapat makam sejumlah tokoh kerajaan Panjalu. Setelah menggelar prosesi di Nusa Gede, kemudian benda-benda pusaka itu diarak kembali menuju Taman Borosngora Alun-alun Panjalu untuk dilakukan prosesi pembersihan. Prosesi itu disebut ritual Jamas atau membersihkan serta mencuci benda-benda pusaka.

Saat prosesi pembersihan, satu persatu benda pusaka dibersihkan dengan menggunakan air suci yang diperoleh dari berbagai sumber mata air. Air suci itu disebut Cai Karomah Tirta Kahuripan. Air itu diambil dari sembilan sumber mata air, yakni dari Situ Lengkong, mata air karantenan Gunung Sawal, Cipanjalu, Kubang Kelong, Kapunduhan (makam prabu rahyang kuning), Pasanggrahan, Bongbang Kancana, mata air Gunung Bitung Majelengka dan mata air Ciomas serta ditambah jeruk nipis.

Pada prosesi pembersihan ini, diawali dengan membuka pembungkus benda-benda pusaka dan kemudian dibawa menuju tempat pembersihan yang terbuat dari bambu. Tempat pembersihan berada di tengah taman Borosngora. Setelah prosesi ini selesai, benda-benda pusaka itu lalu diolesi minyak khusus. Sesudahnya kemudian dibungkus kembali dengan kain putih dan disimpan di tempat penyimpanan semula di Museum Bumi alit.

Prosesi pembukaan benda-benda pusaka pada Upacara adat Nyangku di Taman Borosngora Alun-alun Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (03/12/2018). Foto: Heri Herdianto/HR

Panitia Nyangku yang juga Ketua Yayasan Borosngora Johan Wiradinata, mengungkapkan, upacara adat Nyangku digelar setahun sekali atau pada bulan Mulud dan sudah digelar berabad-abad hingga menjadi tradisi turun-temurun.

“Upacara adat Nyangku ini bertujuan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyebarkan syiar Islam di tanah Panjalu dan beberapa daerah lainnya di Nusantara. Hingga saat ini pun Nyangku tetap digunakan sebagai salah satu media syiar Islam, selain untuk melestarikan budaya,” ujarnya, usai upacara adat Nyangku.

Johan menambahkan Nyangku merupakan sebuah kearifan lokal yang harus dilestarikan serta diwariskan ke setiap generasi di Kecamatan Panjalu. “Dengan pelestarian adat Nyangku diharapkan bisa menjadikan warga Panjalu lebih berkarakter pada jati dirinya sebagai masyarakat berbudaya serta beragama. Selain itu, acara adat inipun sekaligus untuk mempererat silaturahmi antar warga Panjalu yang berada di kampung halaman atau yang merantau ke luar daerah,” pungkasnya. (Her2/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA