Senin, Agustus 15, 2022
BerandaBerita TerbaruTapering The Fed, Apa Dampak Bagi Perekonomian di Indonesia?

Tapering The Fed, Apa Dampak Bagi Perekonomian di Indonesia?

Tapering The Fed dari Bank Sentral AS (Amerika Serikat) sepertinya akan mengurangi pembelian aset pada akhir bulan ini. Ini adalah langkah pertama mereka untuk kembali menarik sejumlah bantuan yang telah diberikan kepada Federal Reserve System (Fed).

Sepertinya proses tersebut juga akan melihat pengurangan sebanyak SU$ 15 miliar/bulan dan terbagi atas US$ 10 miliar dalam Treasury. Sementara sebanyak US$ 5 miliar di dalam sekuritas berbasis hipotek serta total sebanyak US$ 120 miliar/bulan untuk dibeli The Fed.

Baca Juga: Ciri-Ciri Investasi Bodong di Telegram, Waspadai Sebelum Rugi

Mengenal Tapering The Fed, Pengurangan Program Pembelian Obligasi

Tampaknya saham Wall Street Amerika Serikat (AS) kembali lagi mencetak sebuah rekor pada penutupan perdagangan sejak 3 November. Hal itu karena Bank Sentral (The Fed) telah mengumumkan jika akan mengurangi pembelian obligasi/bulan (tapering).

Sementara itu, rata-rata indeks utama pada saham Wall Street juga semakin naik dalam zona hijau seiring dengan Bank Sentral AS mengurangi tapering. Namun sepertinya The Fed mengatakan lagi bahwa mereka tidak ingin terburu-buru untuk menaikkan suku bunga setelah tapering selesai.

The Fed juga mengatakan akan segera melakukan tapering pada akhir bulan ini dan memutuskan pembelian obligasi dikurangi sebanyak 15 miliar. Sementara itu, laju pembelian tersebut juga akan beda apabila terjadi perubahan mengenai prospek ekonomi.

Mengenai inflasi, sepertinya The Fed juga mengakui laju inflasi yang lebih kencang daripada perkiraan mereka sendiri. Meski demikian, pihaknya juga masih menganggap inflasi tinggi yang bersifat sementara atau Transitory.

Baca Juga: Investasi Sektor Riil, Berikut Pengertian, Jenis, dan Tipsnya

Penurunan Pembelian Obligasi

Tapering The Fed akan berkurang hingga USD 15 miliar/bulan. FOMC (Federal Open Market Committee) pun telah menyebutkan bahwa penurunan pembelian obligasi (tapering) ini akan off mulai akhir bulan November 2021.

Pihak FOMC telah mengatakan bahwa langkah itu mengingat kemajuan substansial untuk menuju tujuan FOMC sendiri. Bahkan pernyataan FOMC tersebut juga disetujui dengan adanya suara bulat yang menekankan The Fed untuk tak berada di jalur tertentu.

Selain itu, langkah tersebut sepertinya sejalan dengan ekspektasi market (pasar) yang menyusul sinyal The Fed maupun mempercepat pengurangan stimulus. Sebab, stimulus ini sebagai salah satu respon sejak adanya pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu.

Tidak hanya itu, melainkan pihak FOMC juga lebih memilih untuk tidak menaikkan suku bunga dan mendekat nol. Itu artinya, langkah ini adalah harapan pasar, bahkan ikatan antara pengurangan dan suku bunga cukup penting.

Berlanjut Sampai Desember

Seperti tadi bahwa Tapering The Fed rencananya akan segera mulai pada akhir bulan November dan berlanjut sampai Desember 2021 mendatang. Seperti yang kita tahu bahwa selama ini market semakin dirundung mengenai ketidakpastian. Dengan adanya pengumuman ini, tentu menjadi kabar baik.

Tidak hanya itu, melainkan juga akan meningkatkan kepastian serta mampu membawa rasa kepercayaan bagi para investor. Baik itu untuk investor atau pelaku pasar domestik hingga global.

Sedangkan sejak 2013 silam ada kebijakan tapering oleh The Fed, saat ini dampaknya terhadap pasar saham sangat signifikan. Sehingga hal itu menjadi momok bagi semua investor sejak waktu itu, berbeda lagi dengan tahun ini.

Sebab, saat ini tapering berlangsung tanpa ada pengumuman sebelumnya dan market pun mengalami tantrum tinggi. Hal tersebut menandakan akan ketidaksiapan dari market itu sendiri, berbeda untuk tapering 2021.

Baca Juga: Saham Bank Digital, Simak Daftarnya yang Sudah Masuk di Tahun 2021

Apa Dampaknya?

Dampak dari Tapering The Fed ini memang tidak begitu signifikan. Meskipun terjadi capital outflow, tetapi juga tak akan signifikan. Selain itu, investor juga akan lebih mencermati lagi atas hasil laporan keuangan pada kuartal III 2021.

Selain itu, kebijakan tapering ini karena perekonomian negara kembali pulih dan tidak harus mendapat sokongan likuiditas. Hal ini juga sering tercermin pada tingkat inflasi yang mulai naik serta peningkatan penyaluran kredit.

Hal ini juga akan terjadi pada tapering ke Tanah Air, sementara dampak yang bisa timbul adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Sebab, para investor juga sudah mulai kembali ke Amerika Serikat dan meninggalkan negara Indonesia.

Dampak Tapering The Fed ke negara Indonesia juga tidak terlalu besar. Hal ini karena fundamental ekonominya sudah cukup baik. (R10/HR-Online)