Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Pengusaha Kopra di Pangandaran Diculik Jepang, Kuwu Sidamulih Tewas Dipenggal

Sejarah Pengusaha Kopra di Pangandaran Diculik Jepang, Kuwu Sidamulih Tewas Dipenggal

Sejarah Indonesia mencatat, meskipun sudah memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, namun bukan berarti Jepang telah pergi sepenuhnya dari bumi ibu pertiwi. Salah satunya tercermin dari peristiwa pengusaha kopra di Pangandaran yang diculik tentara Jepang.

Pendudukan Jepang masih kentara hingga tahun 1948 di Pangandaran. Peristiwa ini sebagaimana digambarkan oleh berita koran berbahasa Belanda “De Locomotief: Samarangsch handels – en advertentie- blad” tanggal 27 Juli 1948.

Koran yang bertajuk “Getjoelikt Relaas van een door Jappen ontvoerde Copra Handelaar” ini memberitakan tentang penculikan terhadap pengusaha kopra di Pangandaran.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Pananjung, Cikal Bakal Daerah Pangandaran

Selain pengusaha kopra tentara militer Jepang yang biasa disebut dengan Kempeitei ini juga menculik beberapa orang yang sedang meronda. Selain itu pasukan keji ini juga membunuh salah seorang kepala desa di Sidamoelih (Sidamulih) dengan cara yang mengenaskan.

Tragedi berdarah tersebut terjadi karena pengusaha kopra tidak memberikan barang dagangannya pada Jepang. Padahal mereka perlu untuk membuat minyak guna kebutuhan senjata yang mulai berkurang.

Sementara pembunuhan kepala desa Sidamulih terjadi akibat kuwu tersebut menghalang-halangi Kempeitei dalam misinya menculik pengusaha kopra.

Sayang dalam berita koran belanda De Locomotief:  Samarangsch handels – en advertentie- blad ini tidak disebutkan nama lengkap dari pengusaha kopra di Pangandaran itu. Namun, mereka dikabarkan selamat mesti harus mengalami luka yang cukup serius di kakinya.

Cerita Pengusaha Kopra di Pangandaran Diculik Kempeitei

Penculikan diawali oleh adanya pengusaha kopra yang tidak setuju mengadakan transaksi jual beli dengan Jepang. Sebab perusahaan mereka Anti Jepang karena masa pendudukan Dai Nippon di Indonesia sudah berakhir pada tahun 1942.

Peristiwa penculikan ini terjadi pada tahun 1948, saat itu keadaan Republik Indonesia sedang kacau oleh pemberontakan PKI di Madiun.

Kekacauan ini lantas dimanfaatkan oleh sisa-sisa tentara Jepang (Kempeitei) di daerah Pangandaran, untuk mendapatkan bahan baku minyak kelapa demi kepentingan logistik mereka yang bersembunyi di kamp pegunungan daerah Langkaplancar.

Kopra merupakan daging buah kelapa yang dikeringkan, tujuannya untuk menghasilkan minyak sebagaimana bahan baku yang digunakan untuk membuat minyak kelapa atau sawit.

Hingga saat ini kopra digunakan untuk membuat bahan minyak goreng. Oleh sebab itu dulu para tentara Jepang yang kesulitan mencari bahan baku minyak, menculik pengusaha kopra di Pangandaran supaya mendapatkan distribusi bahan dasar pembuatan minyak dari mereka.

Baca Juga: Sejarah Robohnya Jembatan Ciputrapinggan Pangandaran Tahun 1950

Ketika menculik pengusaha kopra di Pangandaran, tentara Jepang turut membunuh kepala desa Sidamulih karena menghalang-halangi aksi penculikan.

Kepala Desa yang Malang

Menurut kesaksian pengusaha kopra yang saat itu selamat dari penculikan, kepala desa Sidamulih mengalami nasib yang malang.

Sebab dibalik tekad mengamankan kami sebagai masyarakatnya, Ia justru dibunuh Jepang di daerah Bantarkalong dengan cara dipenggal.

Selain itu pengusaha kopra juga mengatakan pada wartawan koran Belanda De Locomotief, “Aku melihat tubuh kepala desa Sidamoelih yang tak berjiwa dan dimutilasi parah”.

Artinya selain dipenggal menggunakan samurai, tewasnya kepala desa Sidamulih ini juga diperlakukan dengan kejam yakni dimutilasi.

Setelah proses penjagalan manusia itu selesai, para Kempeitei ini kemudian membawa beberapa orang tawanannya ke sebuah kamp pusat di sebuah pegunungan daerah Langkaplancar.

Pengusaha kopra yang diculik tengah malam bersama sebagian masyarakat yang sedang meronda dan saudara laki-lakinya mengalami stress berat.

Tak jarang mereka menangis bersama-sama dan menjerit layaknya orang depresi. Mereka menanti kapan mereka akan dieksekusi mati seperti kepala desa Sidamulih.

Namun sesampainya di kamp Langkaplancar, Jepang justru mengintrogasi mereka sembari mempraktekkan kekerasan fisik. Hal itu karena tawanan tidak bisa menjawab pertanyaan Jepang akibat keterbatasan bahasa.

Dikurung di Kampung Legok Picung

Setelah diinterogasi oleh Jepang, pengusaha kopra dan beberapa tawanan lainnya kemudian dikurung di sebuah rumah kosong. Konon lokasinya di kampung Legok Pitjoeng (Legok Picung).

Selama proses penahanan itu, para tawanan mulai merasa kelaparan. Sebab Jepang tidak memberikan makan dan minum selama berhari-hari. Namun baru di hari ketiga mereka memberikan makan dan minum namun hanya satu hari sekali.

Ketika dikurung oleh Kempeitei, pengusaha kopra yang tidak ingin barang dagangannya ini diambil oleh Jepang selalu memikirkan nasib keluarganya di rumah. Apalagi saat penculikan dilakukan, pengusaha kopra ini baru saja mempunyai anak pertama.

Karena selalu memikirkan keluarga di rumah, Ia pun pesimis dan berpikir tidak akan lama lagi semua yang dikurung di Legok Picung ini akan menemui ajalnya.

Namun pada malam keempat mereka ditahan, 40 pasukan Kempeitei yang menjaga para tawanan itu berlarian pergi meninggalkan Legok Picung tanpa alasan yang jelas.

Tentara Jepang yang tersisa hanya ada 3 orang, namun tetap bersenjata dan masih menenteng pedang samurai di pinggangnya.

Baca Juga: Sejarah Wisatawan Belanda Tenggelam di Pangandaran Tahun 1938

Lalu 6 jam setelah itu, 3 orang Kempeitei ini membukakan pintu penjara mereka. Dengan bahasa Melayu yang terbata-bata Ia mengatakan bahwa semua tawanan boleh melarikan diri, pulang ke rumah masing-masih dengan jalan kaki.

Bebas pada 9 Juli 1948

Menurut harian De Locomotief para tawanan yang diculik Jepang dalam kasus pengusaha kopra di Pangandaran ini bebas sejak tanggal 9 Juli 1948.

Bahkan harian ini merekam bagaimana korban mengatakan pada wartawan soal arogansi Jepang di akhir umurnya sebagai bangsa yang kalah dalam Perang Dunia II.

Menurut korban, Jepang mengatakan “temukan jalanmu sendiri” saat melepaskan para tawanannya di tahanan Legok Picung.

Para tawanan pun kebingungan arah jalan pulang. Sebab sebelumnya tidak mengetahui di mana mereka berpijak.

Akhirnya para tawanan ini pun bertanya-tanya pada penduduk sekitar dan kemudian memberikan arah pulang meskipun harus ditempuh dengan jalan kaki.

Selain pengusaha kopra, beberapa tawanan lain yang masih selamat seperti 4 orang Sidamulih yang sedang meronda, dan 1 saudara laki-laki si pengusaha ini akhirnya pulang kerumah dengan selamat.

Semua warga Sidamulih terkejut dengan kepulangan mereka. Terutama istri pengusaha kopra, Ia menangis sampai tak sadarkan diri, sebab semua orang di Sidamulih sudah menyangka mereka mati dieksekusi Kempeitei.

Keluarga Kuwu Sidamulih Berduka

Di tengah kegembiraan keluarga pengusaha kopra yang lulus dari maut akibat penculikan yang dilakukan Jepang, ada satu keluarga yang menangis karena suami sekaligus seorang ayah yang ikut diculik Jepang tidak pulang bersama mereka.

Rupanya Ia adalah keluarga kepala desa Sidamulih. Semua masyarakat Sidamulih berduka atas gugurnya pemimpin mereka.

Apalagi ketika korban penculikan yang menceritakan kepala desa Sidamulih ini tewas dengan cara yang mengenaskan. Jepang memenggal kepalanya dan memutilasi sebagian organ tubuh sang kepala desa.

Namun hingga saat ini, jasad kepala desa Sidamulih tidak ditemukan. Belum ada yang mengetahui dibawa ke mana jasad tersebut.

Setelah suasana duka itu meredup, keluarga pengusaha kopra berlibur ke Bandung. Hal ini dilakukan untuk terapi traumatis sang istri dan keluarga besarnya akibat tragedi penculikan oleh Jepang di pertengahan tahun 1948.

Beberapa hari berlibur di Bandung, mereka pun kembali ke Pangandaran. Sebab perusahaan kopra mereka dibutuhkan pemerintah republik untuk bahan baku produksi minyak kelapa. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)