Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Upacara Pernikahan Zaman Belanda, Megah dan Diskriminatif

Sejarah Upacara Pernikahan Zaman Belanda, Megah dan Diskriminatif

Sejarah upacara pernikahan zaman Belanda merupakan peristiwa menarik yang bisa kita lihat menggunakan kacamata antropologi budaya. Sebab tidak seperti menikah di Barat, orang Belanda yang menggelar pesta pernikahan di Indonesia cenderung meniru budaya kita.

Namun banyak di antara kisah-kisah pesta pernikahan zaman Belanda tersebut yang berbau rasis. Salah satunya menggunakan orang pribumi sebagai budak yang tugasnya mengantar makanan dari meja ke meja tanpa terkecuali.

Mereka terpaksa jadi budak karena kursi dan meja pesta pernikahan orang Belanda waktu itu hanya untuk tamu-tamu sebangsanya (orang Eropa). Pribumi tidak boleh duduk sejajar dengan orang kulit putih, mereka hanya boleh jadi pelayan yang melayani tetamu di pesta tersebut.

Baca Juga: Kapten Westerling, Kisah Sadis Komandan Baret Hijau Belanda

Tragisnya kebanyakan pesta anak-anak Belanda yang menikah di Indonesia kala itu menggunakan uang hasil jajahan.

Pemerintah Belanda biasa menyisihkan uang untuk kepentingan menikah bangsanya sendiri. Biayanya tidak murah sebab mereka biasa mengadakan pesta yang isinya makanan-makanan mewah.

Seperti babi guling, wine (minuman beralkohol: anggur), roti lapis, rijstafel, dan beberapa kudapan lainnya yang terbuat dari basis keju. Semua makanan tersebut untuk tamu Belanda. Orang Inlanders (pribumi) hanya menyediakan dan melayani sepenuh hati.

Sejarah Upacara Pernikahan Zaman Belanda, Megah dan Mirip Budaya Indonesia

Siapa sangka ternyata upacara pernikahan zaman Belanda megah dan mirip budaya Indonesia. Terutama budaya pernikahan di Jawa, Belanda banyak meniru tradisi dan adat istiadat pernikahan orang Jawa.

Menurut Djoko Soekiman dalam buku berjudul, “Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi” (2014), sejarah upacara pernikahan zaman Belanda terlihat megah karena terbagi ke dalam beberapa “kotak kebudayaan”.

Belanda bisa mengatur kotak kebudayaan itu dalam tiga bagian antara lain, upacara pernikahan berdasarkan kekayaan, tingkat jabatan, serta keberuntungan. Tiga kotak kebudayaan ini semua ada pada kehidupan orang Eropa saat itu.

Sebab pada zaman Belanda tidak ada orang Eropa miskin. Semua kaya dan termasuk dalam daftar golongan yang berada dalam lingkaran kotak kebudayaan.

Salah satu upacara pernikahan mewah orang Belanda yang paling terkenal kala itu adalah tradisi menggantungkan mahkota kecil di pintu rumah wanita.

Baca Juga: Sejarah Weltevreden, Pemukiman Elit Eropa di Batavia

Seperti melakukan tunangan dengan cincin, orang Belanda kala itu menggunakan mahkota kecil yang terbuat dari emas untuk mengatakan keseriusan hubungan mereka sampai mengajaknya ke jenjang pernikahan.

Setelah pihak perempuan setuju, maka si pria akan mempersiapkan semua kepentingan pernikahan. Biasanya mengunjungi teman-teman dan menawarkan siapa yang bersedia menjadi pendamping atau Kroonjonker (pria) dan Kroonmeisje (wanita).

Menggelar Pesta Melepas Masa Lajang

Calon pengantin perempuan tidak mengunjungi rumah teman, tetapi teman-teman yang mengunjungi rumahnya. Mereka biasa menggelar pesta melepas masa lajang dengan minum-minum dan makan malam.

Pesta melepas masa lajang berlangsung beberapa minggu sebelum akad nikah. Pada saat pesta ada pertunjukan sandiwara kecil untuk menghibur calon pengantin perempuan. Pemain hiburan tersebut antara lain seorang teman lelaki (Stroonjoker) dan teman wanita (Stroonmeisje).

Tugas dua penghibur pengantin wanita Belanda selain menghibur dengan mempertontonkan pertunjukan sandiwara tetapi juga mereka harus menabur bunga saat dua pengantin itu resmi menjadi pasangan. Biasanya terjadi saat mereka selesai diberkati pendeta dan keluar dari pintu gereja.

Pesta melepas masa lajang sebelum pernikahan merupakan bagian dari tanda kasta sosial tinggi. Sebab sedikit sekali orang Belanda yang bisa mengadakan pesta tersebut. Selain biayanya mahal pesta ini juga hanya terjadi pada anak-anak pejabat kolonial saat itu.

Selain itu pada pertengahan pesta tersebut, keluarga Belanda biasanya akan membagikan undangan pernikahan. Bagi mereka yang menggelar pesta melepas masa lajang biasanya akan memilih hari minggu untuk melangsungkan pernikahan.

Hal ini terjadi akibat hari minggu adalah hari kebesaran umat Nasrani. Mereka berharap sesudah upacara kebaktian di gereja selesai, pendeta bisa hadir ke acara pernikahan dan memberikan doa restu serta sambutan untuk tamu-tamu agung Belanda.

Pengantin Wanita Dilarang Keluar Rumah

Sebagaimana tradisi orang Indonesia yang cukup aneh, kebudayaan pasca menikah orang Belanda juga melarang pengantin wanita keluar rumah selama 40 hari. Tujuannya untuk melatih ketaatan dan keintiman dengan “orang baru” yaitu si suami sendiri.

Baca Juga: Sejarah Pos Bloc: Gedung Eks Kantor Pos Belanda, Kini Jadi Cafe

Namun beberapa pendapat menyangkal, konon tradisi ini terjadi akibat kepercayaan lokal yakni mitos makhluk halus pengganggu pengantin wanita.

Mereka percaya larangan ini begitu sakral apabila ada yang melanggarnya bisa jadi peristiwa merugikan cepat atau lambat akan menghampiri keluarga baru tersebut.

Setelah 40 hari berlalu pengantin wanita keluar dari rumah. Ia melakukan tugas ibu rumah tangga pada umumnya seperti, pergi ke pasar belanja kebutuhan rumah, mengurus kebersihan rumah, dan mempersiapkan segala keperluan suami saat pulang dari pekerjaan.

Wanita Belanda kala itu tidak boleh bekerja dan mencari uang sendiri. Sebab tugas suami saat itu tidak lain adalah menghidupi istrinya. Namun hal ini ternyata strategi lelaki Belanda yang patriaki. Mereka tak ingin tersaingi oleh kemampuan wanita dalam dunia pekerjaan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)