Rabu, Juni 29, 2022
BerandaBerita TerbaruLarutan Elektrolit dan Non Elektrolit, Ciri-Ciri, Contoh, dan Perbedaannya

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit, Ciri-Ciri, Contoh, dan Perbedaannya

Larutan elektrolit dan non elektrolit adalah larutan yang bisa menghantarkan listrik dan tidak bisa menghantarkan listrik. Sebelum kita membahas lebih lanjutnya lagi mengenai perbedaan keduanya, mari kita ulas kembali apa itu larutan.

Larutan sendiri merupakan campuran homogen antara dua zat atau lebih. Dimana saling melarutkan serta masing-masing zat penyusunnya tidak bisa dibedakan lagi secara fisis.

Pada dasarnya, larutan terdiri dari dua komponen, yaitu zat terlarut serta zat pelarut. Sebagai contoh sederhana, pada larutan garam terdiri dari garam dan air.

Garam berperan sebagai zat terlarut serta air sebagai zat pelarutnya. Sedangkan berdasarkan daya hantar listriknya, larutan dikelompokkan menjadi dua macam, elektrolit serta non elektrolit.

Memiliki kemampuan untuk menghantar listrik dan tidak dapat menghantarkan listrik merupakan karakteristik dari keduanya. Hal inilah yang kemudian menjadi perbedaan paling mendasar.

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

Larutan elektrolit ketika dilarutkan ke dalam air, maka akan menghasilkan larutan yang bisa menghasilkan arus listrik. Semakin banyak jumlah ion yang dihasilkan, semakin kuat pula daya hantarnya.

Larutan non elektrolit ketika dilarutkan ke dalam air, tidak dapat menghantarkan listrik. Hal ini disebabkan oleh zat-zat tersebut tetap berwujud molekul-molekul netral atau dengan kata lain tidak bermuatan.

Ciri-Ciri

Biasanya, larutan elektrolit ini terdapat pada senyawa ionik maupun kovalen polar. Larutan elektolit dibagi menjadi dua jenis, yakni larutan elektrolit kuat serta larutan elektrolit lemah.

Larutan elektrolit kuat terionisasi secara sempurna, yang mana larutan tersebut seluruh molekulnya terurai menjadi ion-ion. Oleh sebab inilah, karena banyaknya jumlah ion-ion penghantar listrik yang terbentuk, daya hantarnya pun juga kuat.

Baca juga: Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis Beserta Penerapannya

Larutan elektrolit kuat juga memiliki tetapan atau derajat ionisasi (a) a = 1. Bila dilakukan uji coba, larutan elektrolit kuat akan menghasilkan nyala lampu yang terang.

Selain itu, juga akan muncul gelombang gas dalam jumlah banyak. Berbeda dengan larutan elektrolit lemah.

Larutan elektrolit lemah memiliki ionisasi yang tidak sempurna. Sehingga disebut sebagai larutan yang tidak seluruh molekulnya terionisasi atau terionisasi sebagian.

Sehingga, hanya sedikit jumlah ion-ion yang mampu menghantarkan listrik. Larutan elektrolit lemah memiliki tetapan atau derajat ionisasi (a) 0< a <1.

Pengujian

Apabila dilakukan pengujian, larutan elektrolit lemah memiliki nyala lampu yang lemah pula. Selain itu, hanya muncul gelembung gas yang sedikit.

Sebenarnya, keduanya ini dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Larutan non elektrolit tidak bisa terionisasi. Terdiri dari zat-zat yang terlarut di dalam air, akan tetapi tidak dapat menjadi ion.

Di dalam larutan, zat non elektrolit tetap seperti molekul yang tidak memiliki muatan listrik. Inilah sebabnya mengapa larutan ini tidak bisa menghantarkan arus listrik.

Sehingga larutan tersebut disebut juga sebagai isolator. Larutan tersebut memiliki tetapan atau derajat ionisasi (a) a = 0. Bila larutan tersebut diuji, maka tidak memiliki nyala lampu serta tidak dapat menghasilkan gelembung gas.

Contoh Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

Pada umumnya, di dalam kehidupan kita sehari-hari, sangat dekat dengan kedua jenis larutan tersebut. Pasalnya, baik itu elektrolit maupun non elektrolit memiliki peran yang sangat penting di keseharian kita.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit terdiri dari elektrolit kuat dan elektrolit lemah. Contoh dari larutan elektrolit kuat di antaranya garam (KNO3, CuSO4, KCl, dan NaCl).

Selain itu adalah asam kuat seperti HNO3, H2SO4, HBr, HI, dan HCl. Selanjutnya basa kuat, misalnya KOH, Mg(OH)2, Ca(OH)2, dan NaOH.

Baca juga: Hereditas pada Manusia Beserta Pola yang Terjadi

Lain lagi dengan contoh larutan elektrolit lemah, yaitu asam lemah seperti C2O3, CH3PO4, CH3COOH, dan HCN. Kemudian ada basa lemah seperti Al(OH3), NH4OH dan Fe(OH)3.

Dari contoh yang telah diberikan, kita sudah bisa membedakannya. Contoh larutan non elektrolit seperti urea (CO (NH2)2, sukrosa (C12H22O11), etanol (C2H2OH), serta glukosa (C6H12O6).

Sebenarnya untuk lebih mudah membedakan keduanya, kita dapat menggunakan derajat disosiasi (a). Derajat disosiasi merupakan fraksi molekul yang benar-benar mengalami disosiasi.

Bisa juga dengan menggunakan metode lain untuk membedakan larutan elektrolit dan non elektrolit. Dimana menggunakan perbandingan mol zat terionisasi dengan mol zat mula-mula. (R10/HR-Online)

- Advertisment -