Sejarah Eksekusi Terkejam di Indonesia: Terpidana Mati Sekarat 8 Hari

Sejarah Eksekusi Terkejam di Indonesia
Arsip berbentuk foto yang menunjukan sebuah keramaian masyarakat yang sedang menyaksikan eksekusi mati di alun-alun. Daerah tidak diketahui, namun peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar awal tahun 1800. Foto: Arsip Nasional

Sejarah eksekusi terkejam di Indonesia tercatat dengan apik dalam buku berjudul “The Island of Java”, (2014: 83) buah penelitian J.J Stockdale.

Terjadinya eksekusi tersebut akibat perlawanan pribumi pada Belanda. Nahas perlawanan untuk bebas merdeka pada saat itu dianggap sebagai gerakan yang sama dengan teroris.

Adapun yang paling kejam dan pernah terjadi di tanah air pada zaman kolonial saat itu adalah peristiwa pembunuhan seorang budak dari Makassar yang membunuh majikannya.

Sejarah Eksekusi Terkejam di Indonesia Menurut Kesaksian J.J Stockdale

Belanda punya cara-cara paling kejam dalam mengeksekusi terpidana mati di daerah jajahannya. Termasuk di wilayah Hindia Belanda (Indonesia saat ini).

Para pelanggar aturan mendapatkan punishment (hukuman) dari pemerintah kolonial saat itu. Sebagai negara jajahan tak banyak yang bisa dilakukan oleh para pribumi.

Baca Juga: Sejarah Diskriminasi Tionghoa di Indonesia yang Dianggap Selalu Mujur

Berikut ini adalah catatan terkait eksekusi terkejam pada zaman kolonial Belanda yang kontroversial.

Eksekusi Mati Budak Makassar Tahun 1769

Untuk pertama kalinya eksekusi mati dilakukan pada seorang Budak Makassar yang membunuh majikannya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1769.

Pada zaman kolonial, jika terdapat peristiwa kriminal yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, maka hukumannya juga harus setimpal yaitu, pembunuhan dengan cara yang lebih keji.

Pemerintah Belanda saat itu menilai cara-cara ini efektif mencegah kriminalisasi terjadi dalam negeri jajahan. Sebab selain merupakan hukuman tertinggi negara, eksekusi mati zaman itu sangatlah menyeramkan.

Seorang Algojo Memegang Penuh Tanggung Jawab Proses Eksekusi

Dalam tata cara eksekusi mati ini, hukum kolonial menetapkan seorang algojo supaya memegang penuh proses jalannya hukuman yang tidak manusiawi tersebut.

Penyiksa (eksekutor) ini bertugas penuh untuk melakukan pembunuhan terhadap terpidana mati. Ia akan mendatangi seorang terpidana pada malam sebelum pelaksanaan eksekusi mati.

Tujuannya agar terpidana mati ketakutan, sekaligus pertanda akan adanya kematian yang semakin dekat menghampiri hidupnya.

Adapun yang lebih parah dari fenomena ini yaitu, proses eksekusi mati di tempat terbuka.

Sebuah tempat terbuka itu adalah alun-alun tengah perkotaan. Ini merupakan salah satu perintah dari hukum kolonial yang waktu itu bermaksud untuk menimbulkan efek jera.

Eksekusi Mati dengan Cara yang Tidak Manusiawi

Dalam buku J.J. Stockdale berjudul “The Island of Java”, (2014: 83) terungkap bahwa eksekusi mati zaman kolonial Belanda sangat tidak manusiawi.

Hal ini selaras dengan penemuan dalam penelitiannya yang mengungkapkan cara-cara algojo mencabut nyawa seorang terpidana mati.

Selain dilakukan di tempat yang terbuka seperti di Alun-Alun kota, si eksekutor juga meletakan korbannya secara tengkurap. Sementara empat algojo lainnya memegangi terpidana.

Baca Juga: Ideologi Komunis di Indonesia: Menyusup ke Sekolah, Berkembang Lewat Jalur Kereta

Setelah semua bagian tubuh yang mampu lepas terikat dengan kencang, eksekutor utama membunuh korbannya dengan cara mengiris seperti sate, dari bawah ke atas, dengan menggunakan besi runcing. Proses ini dinamakan penyulahan.

Besi runcing penyangga korban itu akhirnya didirikan dan terpajang di pusat kota sehingga masyarakat sekitar bisa menontonnya.

Jenis hukuman kolonial seperti ini, adalah satu-satunya kebijakan yang pada saat itu sangat menakutkan bagi semua kalangan pribumi di Indonesia.

Fenomena Memajang Korban Eksekusi, Menjadi Dokumentasi Stockdale yang Tak Terlupakan

Dalam bukunya sendiri, Stockdale seorang peneliti sejarah berkebangsaan Inggris ini menyebut bahwa kebiasaan memajang korban eksekusi di Alun-alun merupakan hal yang tak bisa terlupakan.

Apalagi menyaksikan terpidana mati yang masih sekarat atau hidup saat proses penyulahan badan berlangsung.

Kendati pun demikian, ia salut dengan kekuatan orang Indonesia yang saat itu berasal dari seorang budak di Makassar.

Sebab ia menyaksikan langsung eksekusi tersebut, dengan melihat ekspresi terpidana. Stockdale melihat bagaimana wajah keberanian sang Budak, meskipun dalam keadaan yang menyakitkan.

Selain di Makassar, Peristiwa Eksekusi Mati yang Kejam Pernah Terjadi di Batavia

Penuturan sejarawan Inggris tersebut juga mengungkapkan bahwa ia juga pernah menyaksikan eksekusi mati dua kali, pertama di Makassar, dan kedua di Batavia.

Meskipun yang pertama sangat mengiris hati para penonton yang menyaksikan eksekusi, menurut Stockdale di Batavia lebih parah dan terasa keji sekali.

Baca Juga: Sejarah Pembantaian PKI di Kota Pendekar, Kolonel Soetarto jadi Korban

Hal tersebut karena suasana di Batavia yang sedang musim kemarau. Menurut penuturan Stockdale, musim kemarau panjang juga mempengaruhi panjangnya sekarat seorang terpidana mati.

Bahkan ia pernah menyaksikan seorang terpidana mati yang sekaratnya tahan hingga tujuh sampai delapan hari di Batavia.

Fenomena ini sangat langka dan baru ditemukan oleh sejarawan tersebut di Batavia. Sejarah eksekusi terkejam di Indonesia ini merupakan bagian dari catatan kelam bangsa yang pernah jadi jajahan kolonial Belanda. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)