Kamis, Desember 1, 2022
BerandaBerita TerbaruAbdul Haris Nasution, Jenderal TNI yang Pernah Jadi Guru

Abdul Haris Nasution, Jenderal TNI yang Pernah Jadi Guru

Catatan sejarah Indonesia yang mengungkap profil kehidupan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution (AH Nasution) sangat langka, padahal kisah hidupnya menarik untuk kita teladani.

Pria yang akrab dengan panggilan “Pak Nas” ini ternyata Jenderal kedua setelah Sudirman yang pernah mengabdi menjadi seorang guru.

Namun narasi sejarah Indonesia tentang ini tidak banyak muncul dalam referensi pengetahuan publik.

Biasanya tulisan sejarah yang berkaitan dengan profil hidup AH Nasution hanya berisi tentang dirinya yang menjadi sasaran penculikan PKI.

Baca Juga: Sejarah Hendra Gunawan, Seniman Patung Ketua Lekra PKI Jabar

Berbagai kisah tentang penculikan PKI terhadap Jendral AH Nasution begitu mencuat dalam sejarah kelam tahun 1965.

Terlebih ketika peristiwa ini menimbulkan korban yaitu, wafatnya salah seorang anak perempuan AH Nasution bernama Ade Irma Suryani.

Kematian Ade Irma Suryani akibat peluru nyasar pasukan Tjakrabirawa yang akan menculik AH Nasution.

Akan tetapi sang Jenderal bebas dari penculikan karena melompat melalui benteng belakang rumahnya. Ia kabur dari kejaran pasukan Tjakrabirawa yang saat itu sudah terkontaminasi oleh PKI.

Profil Kehidupan Abdul Haris Nasution

Dalam buku dari hasil wawancara dengan Abdul Haris Nasution berjudul “Bisikan Nurani Seorang Jendral: Kumpulan Wawancara dengan Media Massa” (Nasution, 1997: 3), menyebut Pak Nas berasal dari Sumatera Utara.

Jenderal TNI Angkatan Darat ini lahir di Kotanopan, Tapanuli, Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 1918.

Semenjak kecil Nasution sudah biasa dengan pola asuh orang tua yang agamis. Memperhatikan nilai-nilai Islam dengan cara membekali Nasution pendidikan mengaji.

Oleh sebab itu Abdul Haris Nasution kecil tumbuh menjadi anak-anak yang taat terhadap ajaran agama Islam. Bahkan Pak Nas sendiri menyebut bahwa tekadnya ingin jadi tentara yaitu, untuk meluruskan jalan yang sudah bengkok akibat Kebhatilan, (Nasution, 1997:4).

Remaja menjelang dewasa, pemuda yang fasih berbahasa Batak ini tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, gemar mempelajari sesuatu yang baru, dan mengutamakan integritas intelektual.

Baca Juga: Pengkhianatan G30S/PKI, Mao Zedong Pemimpin RRT Terlibat?

Hal ini terbukti dari riwayat pendidikannya yang tak absen, atau tertinggal sampai ke jenjang sekolah tinggi militer Belanda.

Adapun sekolah Abdul Haris Nasution terdiri dari, Sekolah Guru (HIK), Sekolah Menengah Atas (AMS), dan Sekolah Tinggi Kemiliteran dari Akademi Militer Belanda (KMA).

Semenjak mendalami karir di dunia Militer, pengetahuan AH Nasution semakin terasah. Pernyataan ini terbukti dengan prestasi karir militer Pak Nas yang Moncer sampai menjabat pangkat Jenderal.

Menapaki Karir Jadi Tentara

Semenjak tamat dari Sekolah Menengah Atas (AMS), Abdul Haris Nasution kemudian melanjutkan studinya ke Akademi Militer Belanda (KMA).

Karir awal Nasution di (KMA), dan dicalonkan menjadi Kadet (Calon Perwira) terhitung sejak tahun 1940-1942.

Selama dua tahun berturut-turut Ia berjuang untuk menjadi salah satu tentara dari KNIL (Tentara Hindia Belanda), sekaligus mewujudkan cita-cita kecilnya yang memang ingin jadi seorang tentara.

Sementara pada tahun 1943, Pak Nasution dipercaya oleh pemerintahan Jepang untuk menjadi pegawai Kotapraja Bandung.

Ia merupakan seorang pegawai Kotapraja di Jawa Barat yang satu-satunya diambil dari keanggotaan militer.

Jabatannya terakhir di militer sebelum bertugas menjadi pegawai Kotapraja di Bandung yaitu, Komandan Batalyon Pelopor Bandung. Ia juga ditugaskan oleh Jepang menjadi pegawai Kotapraja, sebelumnya sedang bertugas di Satuan Anggota Angkatan Muda di Bandung.

Artinya karir Abdul Haris Nasution di dunia Militer memang berawal dari administratif Kota Kembang. Tak heran sejak saat itu Pak Nas begitu akrab dengan Bandung, sampai bisa berbahasa Sunda.

Tidak sampai di Bandung saja, karir militer Nasution kian melambung seiring dengan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pasca Kemerdekaan RI, Nasution dipercaya oleh tokoh nasionalis (Soekarno-Hatta) sebagai orang pilihan untuk menduduki jabatan bergengsi dalam militer Indonesia.

Sejak saat itu, Nasution diangkat pertama kalinya menjadi Kolonel untuk satuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Setelah menjadi TKR, AH Nasution pak Nas kemudian mendapat kepercayaan untuk menduduki posisi penting di dalam militer Indonesia yaitu, menjadi Kepala Staf Komandemen I Jawa Barat.

Karirnya terus terangkat seiring dengan meletusnya Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947-1948. Sejak saat itu, AH Nasution menjadi Panglima Divisi I Siliwangi Jawa Barat, (Nasution, 1997: 4).

Tentara yang Pernah Berprofesi Jadi Guru

Meskipun karir militer AH Nasution malang melintang sejak kemerdekaan RI, jiwanya sebagai seorang pendidik (Guru) begitu kentara dalam setiap tindakan, dan pengambilan keputusan saat bertugas menjadi prajurit tentara.

Soetanti Aidit: Istri Ketua PKI, Ahli Akupuntur Pertama di Indonesia

Hal ini terjadi akibat dari pengalaman AH Nasution yang pernah menjadi guru di Sumatera Selatan pada tahun 1939-1940.

Latar belakang Abdul Haris Nasution menjadi pendidik (Guru) karena Ijazah setara SMP yang ia tempuh pada jurusan Keguruan.

Saat itu belum ada niatan bulat untuk mendaftar KNIL, meskipun sejak kecil bercita-cita menjadi tentara. Untuk mengisi waktu luang setamat SMA (AMS) AH Nasution melamar menjadi guru.

Karena memiliki sertifikat keguruan, dan terampil membahas materi mengenai sejarah, akhirnya AH Nasution bisa menjadi seorang guru.

Menurut Nasution sendiri, pengalamannya menjadi guru telah mengantarkan Ia menjadi seperti sekarang.

Nasution merasa setelah mempunyai pengalaman sebagai guru, perasaan percaya dirinya semakin bertambah kuat. Seperti halnya saat pak Nas memimpin pasukan di ranah Militer. Tanpa ada basic keguruan, mustahil Ia bisa percaya diri dan punya jiwa kepemimpinan yang kuat.

Artinya pengalaman menjadi guru, secara tidak langsung telah membentuk karakter Leadership Abdul Haris Nasution Nasution yang baik. Jiwanya semakin percaya diri, apalagi saat memimpin pasukan untuk bertugas menghadapi Agresi Militer Belanda I (1947-1948). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)